Temuan Ikan Endemik Sulteng Warnai Capaian 51 Spesies Baru BRIN Sepanjang 2025
Temuan Ikan Endemik Sulteng Warnai Capaian 51 Spesies Baru BRIN Sepanjang 2025
Temuan Ikan Endemik Sulteng Warnai Capaian 51 Spesies Baru BRIN Sepanjang 2025
Sore itu, beberapa pemancing duduk santai di atas tanggul batu gajah, melempar kailnya ke arah teluk. Di belakangnya, tumpukan sampah plastik berwarna-warni memenuhi celah-celah bebatuan besar. Botol minuman, styrofoam bekas wadah makanan, hingga potongan kayu berserakan tanpa tersisa ruang kosong. Pemandangan ini bukan lagi hal asing di muara Sungai Palu, dekat oprit bekas Jembatan Palu IV, yang kini menjadi saksi bisu persoalan lingkungan yang terus menggunung.
Kerusakan habitat di Teluk Palu tidak hanya berdampak lokal. Berbagai studi menunjukkan bahwa hilangnya lokasi singgah (stopover) berkorelasi langsung dengan penurunan populasi burung migran secara global. Tekanan yang terjadi di satu titik jalur terbang dapat memicu efek berantai di sepanjang flyway.
Penebangan pohon di Jalan M. Yamin Palu memantik duka dan protes warga. Sejumlah pegiat lingkungan bahkan menyebut, ini bukan sekadar hilangnya pohon, tetapi “pembunuhan” terhadap saksi bisu kota yang telah memberikan kehidupan
Ina Tobani bukan seniman dalam pengertian panggung atau galeri. Ia adalah ibu rumah tangga di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, yang sejak usia 12 tahun telah bergelut dengan tradisi kuno; Kain Kulit Kayu.
Mahasiswa juga mencatat kehadiran spesies asing Barbodes binotatus di aliran Saluopa, yang berpotensi invasif dan belum diketahui sumber pelepasliarannya.
Program Adiwiyata sendiri merupakan kebijakan nasional di bidang pendidikan lingkungan hidup yang bertujuan mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.
Di tengah udara yang kering dan terik, pertanyaan besar muncul, ke mana arah kota ini akan bertumbuh; semakin panas, atau semakin hijau?
Kota Palu kini menghadapi dua ancaman lingkungan yang saling terkait. Dalam setahun terakhir, kualitas tutupan lahan turun drastis, sementara tren kenaikan suhu terus terjadi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang hijau bukan lagi pelengkap kota, melainkan penentu masa depan ekologisnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sejak 2021 produksi kopi di kabupaten ini relatif stabil, rata-rata mencapai 500 ribu ton per tahun, dengan luas lahan mencapai 3.106 hektare. Sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang tersebar di lima kecamatan.