Mengingat Banjir Bandang Desa Bangga 2019, Warga Belajar Membaca Tanda Alam
Mereka belajar membaca perubahan cuaca, mengenali kondisi sungai dan memahami tanda-tanda di wilayah hulu sebagai bagian dari sistem peringatan dini berbasis lanskap.
Mereka belajar membaca perubahan cuaca, mengenali kondisi sungai dan memahami tanda-tanda di wilayah hulu sebagai bagian dari sistem peringatan dini berbasis lanskap.
Secara geografis, Kota Palu berada di lembah yang dikelilingi pegunungan. Kondisi ini menyebabkan panas dan debu lebih mudah terperangkap di kawasan perkotaan pada kondisi cuaca tertentu.
Berdasarkan catatan sejarah, Desa Labean pernah mengalami salah satu bencana tsunami paling mematikan di Sulawesi Tengah.
Nama DOMO MASAVO, yang berasal dari bahasa Kaili dan berarti “air tidak lagi meluap”, dipilih sebagai simbol harapan agar masyarakat dapat hidup lebih berdampingan dengan alam tanpa terus dihantui banjir.
Di Desa Beka, konsep tersebut telah dipraktikkan masyarakat jauh sebelum istilah mitigasi berbasis lanskap dikenal luas. Hutan Ranjuri dipertahankan sebagai kawasan penyangga alami yang menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar desa.
Padang To Langko pada akhirnya bukan hanya menawarkan panorama yang indah. Kawasan ini menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, budaya, dan perubahan lingkungan.
Melalui Lomba Mewarnai bertema “Hak Anak atas Lingkungan dan Pangan Lokal Sehat”, puluhan anak usia dini diajak memahami pentingnya menjaga alam sekaligus membiasakan diri mengonsumsi pangan lokal bergizi sejak usia dini.
Dengan adanya staff gauge, masyarakat kini memiliki acuan visual untuk memantau kenaikan muka air. Informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan dapat diverifikasi dan segera disebarluaskan kepada warga lainnya sehingga proses evakuasi dapat dilakukan lebih cepat apabila kondisi memasuki level berbahaya.
Di Sulawesi Tengah, persoalan tersebut semakin kompleks. Rendahnya produktivitas kebun rakyat, ketimpangan hubungan antara perusahaan dan petani plasma, tuntutan sertifikasi keberlanjutan, hingga konflik agraria menjadi tantangan yang membutuhkan penyelesaian bersama.
Sirene, pesan singkat, atau informasi yang dikeluarkan BMKG tidak akan mampu menyelamatkan jika masyarakat tidak memahami arti peringatan tersebut, tidak mengetahui jalur evakuasi, serta tidak mengenali lokasi aman untuk berlindung.