Sigi Hijau, Jalan Ekonomi Berbeda di Tengah Ekspansi Industri Ekstraktif
Pilihan Sigi menjadi relevan ketika ekspansi industri ekstraktif di Sulawesi menghadapi persoalan daya dukung lingkungan seperti temuan terbaru CELIOS.
Pilihan Sigi menjadi relevan ketika ekspansi industri ekstraktif di Sulawesi menghadapi persoalan daya dukung lingkungan seperti temuan terbaru CELIOS.
Sebagian anggota kelompok tani memilih menjual lahan, mencari kebun baru atau mengalihkan uang hasil penjualan untuk usaha lain.
Dari sawah yang ada pada 2018, sekitar 3.007 hektare masih bertahan, sementara 1.275 hektare berubah menjadi tutupan lahan lain. Pada saat yang sama, terdapat 411 hektare lahan dari kelas lain yang berubah menjadi sawah baru.
Sulawesi Tengah hari ini merupakan salah satu pusat ekonomi ekstraktif terbesar di Indonesia. Industri nikel, besi baja, mineral, perkebunan, dan energi telah mengubah wajah provinsi ini dalam waktu kurang dari satu dekade.
Di Sulawesi Tengah, persoalan tersebut semakin kompleks. Rendahnya produktivitas kebun rakyat, ketimpangan hubungan antara perusahaan dan petani plasma, tuntutan sertifikasi keberlanjutan, hingga konflik agraria menjadi tantangan yang membutuhkan penyelesaian bersama.
Kenaikan emisi tersebut beriringan dengan tren peningkatan suhu udara. Berdasarkan catatan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, data historis 1976–2020 di Kota Palu, suhu rata-rata meningkat sekitar 0,0252 derajat Celsius setiap tahun.
SEOUL, rindang.ID | Ribuan penggemar K-pop global mendesak HYBE, agensi di balik bintang K-pop global BTS untuk mengubah industri K-pop
Jakarta, rindang.ID | Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dijanjikan pemerintahan Prabowo – Gibran disebut berpotensi memperburuk kondisi lingkungan, terlebih
landskap kawasan industri nikel di Kabupaten Morowali. (Foto: Dok. KOMIU)
PALU, rindang.ID | Sebagai daerah dengan sumber daya mineral nikel terbesar di Indonesia, Sulawesi Tengah punya tantangan besar dalam mengelola