Kisah Idul dan Warga Lumbudolo Menjaga Hutan Desa dari Karhutla
Sebagai anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Limbudolo, Idul memahami betul kondisi kawasan hutan seluas 156 hektare tersebut.
Sebagai anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Limbudolo, Idul memahami betul kondisi kawasan hutan seluas 156 hektare tersebut.
“Saya agak gugup bicara di depan sini. Ini momen bersejarah bagi saya. Ini pencapaian kita semua,” kata Sepriani, saat penyerahan penghargaan di Aula Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Selasa (18/8/2026).
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa praktik pengelolaan hutan dan pendampingan masyarakat di tingkat tapak dari Sulawesi Tengah mampu bersaing di tingkat nasional.
Penghargaan ini diberikan kepada sejumlah penyuluh kehutanan, polisi kehutanan, kelompok tani hutan, pengelola hutan desa, serta pengelola hutan kemasyarakatan yang dinilai memiliki dedikasi, inovasi, prestasi dan keteladanan dalam menjaga kelestarian hutan.
Sementara itu, stok yang berada dalam pengelolaan dan distribusi langsung Kanwil Bulog Sulteng mencapai 9.365 ton dan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong.
Sulawesi Tengah hari ini merupakan salah satu pusat ekonomi ekstraktif terbesar di Indonesia. Industri nikel, besi baja, mineral, perkebunan, dan energi telah mengubah wajah provinsi ini dalam waktu kurang dari satu dekade.
Dan, Sulteng tidak harus menunggu angka karhutla 10.844 hektare kembali terulang untuk menyebut situasi ini darurat.
Berdasarkan analisis Fire Danger Rating System (FDRS) Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, sejumlah kabupaten dan kota diprediksi berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi terjadinya karhutla selama periode tujuh hari ke depan.
Berdasarkan parameter Fine Fuel Moisture Code (FFMC), sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah diperkirakan mengalami peningkatan tingkat kemudahan terbakar dari kategori mudah menjadi sangat mudah terbakar.
Data tersebut menempatkan Sulawesi Tengah sebagai salah satu provinsi dengan tingkat risiko bencana tertinggi di Indonesia.