Karhutla yang terjadi di Desa Huhak, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Senin (3/8/2026). (Foto: BPBD Sulteng).

BMKG Peringatkan Ancaman Karhutla di Sulteng, Risiko Kebakaran Capai Kategori Sangat Tinggi

PALU, rindang.ID | Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi selama tujuh hari ke depan berdasarkan analisis Fire Danger Rating System (FDRS).

Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Taufiq Hidayat, menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan udara yang rendah, serta angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api.

“Ketiga faktor meteorologi tersebut membuat bahan bakar alami di permukaan tanah, seperti alang-alang dan dedaunan kering, menjadi sangat mudah terbakar. Jika terjadi kebakaran, api juga akan lebih sulit dikendalikan,” ujarnya.

Berdasarkan parameter Fine Fuel Moisture Code (FFMC), sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah diperkirakan mengalami peningkatan tingkat kemudahan terbakar dari kategori mudah menjadi sangat mudah terbakar. Pada 10 Agustus 2026, hampir seluruh wilayah diprediksi memiliki nilai FFMC di atas 82 atau masuk kategori merah.

Nilai tertinggi diperkirakan terjadi di Kabupaten Buol dan Poso yang mencapai indeks 91, disusul Kota Palu dan Kabupaten Sigi dengan indeks 89. Kondisi tersebut menunjukkan alang-alang dan dedaunan kering berada dalam keadaan sangat kering sehingga mudah tersulut api.

Sementara itu, berdasarkan parameter Fire Weather Index (FWI), Kabupaten Banggai Kepulauan dan Banggai Laut diprediksi berada pada kategori sangat tinggi sepanjang periode prakiraan dengan nilai indeks berkisar 28 hingga 31.

Di wilayah Palu dan Sigi, intensitas api juga diperkirakan meningkat dari kategori sedang pada awal periode menjadi kategori sangat tinggi pada 9–10 Agustus. Pada kondisi tersebut, api diperkirakan akan sangat sulit dikendalikan apabila kebakaran terjadi.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan maupun membakar sampah saat cuaca kering dan berangin. Warga juga diminta segera melaporkan jika menemukan asap atau titik api kepada BPBD, aparat desa, maupun TNI/Polri.

Selain itu, masyarakat disarankan membersihkan lingkungan dari bahan-bahan yang mudah terbakar, menyediakan cadangan air untuk keadaan darurat, serta mengikuti seluruh arahan pemerintah apabila terjadi kebakaran.

BMKG juga mendorong pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah mitigasi melalui pengaktifan posko siaga karhutla, peningkatan patroli terpadu di wilayah rawan, penguatan koordinasi lintas instansi, sosialisasi kepada masyarakat, memastikan kesiapan sarana pemadaman, hingga mempercepat penanganan setiap laporan kebakaran.

Menurut Taufiq, langkah-langkah pencegahan tersebut penting dilakukan sejak dini mengingat kondisi cuaca saat ini berpotensi mempercepat munculnya dan meluasnya kebakaran hutan maupun lahan di berbagai wilayah Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top