Aktivitas warga di hunian tetap (huntap) mandiri Kelompok Mosinggani. (Foto: Heri/rindang.ID)

Cerita Tentang Tabungan, Kekuatan ‘Mosinggani’ Menata Kembali Kehidupan

PALU, rindang.ID | Delapan tahun setelah gempa dan tsunami melanda Palu pada 2018, sebagian warga Kelurahan Mamboro masih menyimpan cerita tentang bagaimana mereka membangun kembali kehidupan. Bukan dari bantuan besar, melainkan dari kebiasaan sederhana: menabung bersama.

Kelompok itu bernama Mosinggani. Mereka adalah penyintas gempa dan tsunami Palu 2018 lalu dan kini tinggal bersama dalam kawasan huntap mandiri, yang mereka pilih sendiri di Kelurahan Mamboro Barat.

Tabungan menjadi salah satu kekuatan mereka untuk bangkit setelah rumah mereka porak-poranda kala itu. Uang yang disisihkan setiap bulan perlahan berubah menjadi modal membangun rumah, memperbaiki lingkungan, hingga mengembangkan usaha bersama.

Perjalanan itu bermula dari keinginan warga untuk tetap tinggal dekat laut. Sekitar 99 persen warga Mamboro merupakan nelayan sehingga relokasi jauh dari pesisir dinilai dapat menjauhkan mereka dari sumber penghidupan.

Bersama sukarelawan, mereka yang berjumlah puluhan keluarga kemudian mencari lahan secara mandiri di luar zona merah. Mereka mendapat lahan yang berjarak sekitar 200 meter dari pantai, Rp500 juta harganya waktu itu.

“Kami kemudian mencicilnya melalui skema tabungan kelompok, dengan dana yang selanjutnya dikelola kembali untuk kepentingan bersama,” Emilia, penyintas anggota Kelompok Mosinggani menceritakan.

Pemilik rumah panggung menabung Rp275 ribu per bulan selama lima tahun, sementara pemilik rumah tapak Rp175 ribu per bulan selama enam tahun. Kini, tabungan kelompok telah mencapai sekitar Rp300 juta.

Dana tersebut kata Emi tidak berhenti sebagai simpanan. Sebagian diputar untuk memperbaiki jalan lingkungan, membangun tandon air, serta mengembangkan koperasi beras, depot air minum, dan kolam ikan.

Perempuan menjadi penggerak penting dalam sistem itu. Sekitar 70 persen aktivitas pembangunan dan pengelolaan kelompok dijalankan oleh ibu-ibu. Mereka terlibat mulai dari merancang kawasan, mengawasi pembangunan, mengelola administrasi hingga menjaga keberlangsungan tabungan.

Dari proses itu, Mosinggani berhasil membangun 39 rumah bagi kepala keluarga beserta fasilitas komunitas. Yang menarik, rumah-rumah mereka sudah menggunakan struktur dan kontruksi tahan gempa dengan panel-panel.

Selain itu cat yang berbeda untuk setiap rumah menjadikan permukiman Huntap Mosinggani penuh dengan warna-warni.

Kawasan tersebut kemudian menjadi contoh pemulihan berbasis komunitas dan mendapat pengakuan melalui penghargaan tingkat internasional, UN Habitat. Bahkan telah menjadi tujuan edukasi.

Kini, delapan tahun setelah bencana Palu, cerita Mosinggani bukan sekadar rumah yang telah berdiri. Tapi perubahan posisi warga: dari penyintas yang menunggu bantuan menjadi komunitas yang mampu mengumpulkan modal, mengelola sumber daya, dan menentukan arah pembangunan mereka sendiri.

Bagi Emilia, pembangunan rumah bukanlah tujuan akhir. Warga masih ingin memperkuat ekonomi berbasis hasil laut, memperbaiki lingkungan, dan membangun Mamboro sebagai kampung yang tangguh menghadapi masa depan.

Tabungan itu menjadi pengingat bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia bermula dari keputusan sederhana untuk menyisihkan sedikit hari ini demi kehidupan bersama di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top