Diskusi bertema Jurnalisme dan kebencanaan yang digelar Yayasan SHEEP Indonesia bersama rindang.ID di Sigi, Sabtu (13/6/2026). (Foto: rindang.ID)

Menguatkan Perspektif Lanskap dalam Jurnalisme Kebencanaan

SIGI, rindang.ID | Jurnalis didorong memperkuat perannya dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis lanskap di kawasan Palu, Sigi, dan Donggala. Pendekatan ini dinilai penting karena ancaman bencana di wilayah tersebut saling berkaitan, baik secara ekologis maupun geologis.

Hal itu mengemuka dalam diskusi mendalam yang digelar Yayasan SHEEP Indonesia bersama rindang.ID di Sigi, Sabtu (13/6/2026). Diskusi tersebut diikuti puluhan jurnalis dari Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala.

Kepala Stasiun Pemantauan Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, mengatakan kawasan Palu, Sigi, dan Donggala memiliki risiko bencana yang kompleks dan berulang.

Menurut Asep, karakter geologi kawasan tersebut membuat masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi. Rangkaian bencana tersebut pernah terjadi pada 28 September 2018 ketika gempa bumi magnitudo 7,4 disusul tsunami dan likuefaksi melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah.

Selain bencana geologi, masyarakat di sejumlah wilayah Sigi juga menghadapi ancaman banjir bandang yang berulang. Wilayah seperti Bangga, Poi, Rogo, dan Kulawi menjadi contoh kawasan yang memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi.

Asep menjelaskan, banjir bandang tidak dapat dilihat sebagai persoalan yang hanya terjadi di satu titik. Hujan ekstrem, kondisi tutupan lahan di kawasan hulu, hingga penyempitan alur sungai di bagian hilir dapat menjadi bagian dari satu rangkaian penyebab.

Karena itu, menurut dia, mitigasi bencana perlu melihat bentang alam secara utuh dari hulu hingga hilir.

“Risiko bencana tidak terjadi secara terisolasi di satu titik, tetapi saling terhubung secara ekologis dan geologis,” kata Asep dalam diskusi tersebut.

Pendekatan lanskap juga menempatkan ekosistem alami sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko. Vegetasi hutan, kawasan riparian, hingga ekosistem pesisir dapat berfungsi sebagai pelindung alami terhadap sejumlah ancaman bencana.

Dalam konteks pesisir, misalnya, keberadaan vegetasi mangrove dapat membantu meredam energi gelombang. Karena itu, perlindungan ekosistem menjadi bagian penting dari strategi mitigasi yang tidak hanya mengandalkan infrastruktur fisik.

Media Perlu Mengubah Cara Meliput Bencana

Jurnalis lingkungan Basri Marzuki mengatakan media memiliki peran penting untuk menjelaskan hubungan antara kondisi lingkungan, tata ruang, dan risiko bencana kepada publik.

Menurut Basri, liputan bencana tidak seharusnya berhenti pada peristiwa ketika bencana terjadi. Media perlu menggali penyebab dan kondisi yang membuat suatu wilayah menjadi rentan.

“Jurnalisme tidak hanya memberitakan ketika bencana terjadi, tetapi juga menjelaskan mengapa risiko itu muncul dan siapa yang paling terdampak,” ujar Basri.

Ia mendorong jurnalis memperkuat penggunaan data, peta risiko, serta informasi ilmiah dari berbagai sumber, termasuk BMKG, InaRISK, dan kementerian terkait.

Data dan informasi teknis tersebut, kata dia, perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

Peran media juga dapat diperluas melalui penguatan jaringan citizen reporter di desa-desa rawan bencana. Warga dapat dilibatkan untuk memantau kondisi lingkungan, infrastruktur dasar, serta perubahan yang berpotensi meningkatkan risiko.

Jaringan tersebut, menurut Basri, sebaiknya dibangun sebelum bencana terjadi. Jurnalis dapat mendatangi desa dalam kondisi normal untuk melihat kesiapsiagaan warga, jalur evakuasi, kondisi sungai, sumber air, maupun infrastruktur lainnya.

Kelompok perempuan, anak muda, dan penyandang disabilitas juga perlu dilibatkan karena memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai kondisi lingkungan serta risiko di wilayah tempat tinggal mereka.

Dalam pendekatan ini, warga tidak ditempatkan hanya sebagai objek pemberitaan, tetapi sebagai mitra dalam proses produksi informasi.

“Warga adalah co-author. Mereka bukan sekadar objek foto atau sumber informasi ketika bencana terjadi,” kata Basri.

Hubungan antara jurnalis dan komunitas juga perlu dibangun secara berkelanjutan. Dengan begitu, media memiliki sumber informasi lokal yang dapat membantu memantau perkembangan risiko dari waktu ke waktu, bukan hanya ketika terjadi bencana.

Menjaga Ingatan Bencana

Selain menjalankan fungsi informasi dan pengawasan, media juga memiliki peran sebagai penjaga ingatan kolektif masyarakat.

Arsip pemberitaan mengenai bencana, perubahan lingkungan, tata ruang, dan upaya mitigasi dapat menjadi rekam jejak bagi publik. Dokumentasi tersebut penting agar bencana yang berulang tidak selalu diperlakukan sebagai peristiwa yang datang tanpa tanda.

Jurnalisme berbasis lanskap juga dapat mendorong media memperluas perhatian dari sekadar aktivitas pejabat dan penanganan pascabencana menuju persoalan yang lebih mendasar, seperti tata ruang, kondisi lingkungan, kesiapsiagaan masyarakat, dan pemenuhan komitmen mitigasi.

Dengan pendekatan tersebut, media diharapkan tidak hanya hadir setelah bencana terjadi, tetapi ikut mengawal proses pengurangan risiko sebelum ancaman berubah menjadi bencana.

Palu, Sigi, dan Donggala memiliki sejarah bencana sekaligus kerentanan ekologis dan geologis, perubahan cara pandang menjadi penting. Liputan tidak lagi hanya mengikuti titik kejadian, tetapi membaca hubungan antarruang dan antarfaktor yang membentuk risiko di seluruh lanskap.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top