Kadishut Sulteng, Sepriani, dan Ester saat menjadi pembicara Talkshow dalam HUTAN.ID FEST di Surabaya. (Foto: Kiki) (Foto: Kiki)

Sulteng Bawa Capaian RBP REDD+ dan Praktik Pengelolaan Hutan ke HUTAN.ID FEST Surabaya

SURABAYA, rindang.ID | Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membawa pengalaman dan capaian pengelolaan hutan berkelanjutan ke HUTAN.ID FEST 2026 Chapter Jawa–Bali–Nusa Tenggara yang berlangsung di Grand City Mall, Surabaya, 11–13 September 2026.

Keikutsertaan Sulawesi Tengah menjadi bagian dari upaya memperkenalkan capaian Program Result-Based Payment (RBP) Green Climate Fund (GCF) REDD+ sekaligus berbagi praktik baik pengelolaan hutan yang melibatkan pemerintah dan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, delegasi Sulawesi Tengah berpartisipasi dalam talkshow bertema “Pengelolaan Hutan Lestari Melalui Perhutanan Sosial sebagai Upaya Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim.” Forum ini menghadirkan perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan dan Kemitraan.

Selain talkshow, Sulawesi Tengah membuka booth yang mengangkat tema “Dari Hutan untuk Masa Depan: Tata Kelola Hutan untuk Ketahanan Iklim dan Kesejahteraan Masyarakat.” Konsep pameran tersebut menggunakan pendekatan 4M, yakni Menata, Memulihkan, Menjaga, dan Memberi Manfaat.

Melalui konsep tersebut, pengunjung diajak melihat pengelolaan hutan sebagai sebuah rangkaian yang saling berkaitan. Tata kelola menjadi fondasi, pemulihan mengembalikan fungsi ekologis, perlindungan dilakukan bersama masyarakat, sementara manfaat hutan dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan.

Pameran menampilkan visual Pohon Ketahanan Iklim Sulawesi Tengah, infografis capaian program, brosur dan factsheet RBP-GCF, produk hasil hutan bukan kayu (HHBK), serta podcast dan mini talkshow yang membahas pendekatan 4M.

Sejumlah capaian program ditampilkan dalam bentuk angka. Pada aspek pemulihan, misalnya, program mencatat penanaman 307.970 pohon, rehabilitasi 9.259 hektare serta distribusi 136.494 bibit. Pemulihan juga mencakup 272 hektare hutan rakyat yang tersebar di 22 desa.

Stand pameran Sulawesi Tengan di HUTAN.ID FEST 2026 di Surabaya. (Foto: Kiki)

Pada aspek perlindungan, sebanyak 67 desa melakukan patroli hutan dengan kawasan yang dipantau mencapai 2.067 hektare. Sebanyak 71 kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) juga mendapat peningkatan kapasitas untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Sementara pada aspek manfaat ekonomi, sebanyak 42 kelompok perhutanan sosial difasilitasi dalam tata kelola dan pemanfaatan kawasan. Sebanyak 21 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengalami peningkatan kelas melalui penilaian, pelatihan, dan fasilitasi kerja sama usaha.

Menghadirkan Cerita dari Lapangan

Keikutsertaan Sulawesi Tengah tidak hanya menampilkan angka capaian program. Pengalaman masyarakat dan pendamping kehutanan juga menjadi bagian dari cerita yang dibawa ke Surabaya.

Salah satunya adalah Sepriani Jome, Penyuluh Kehutanan Ahli Muda pada KPH Toili Baturube, Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah. Sepriani merupakan Juara I Wana Lestari tingkat Provinsi Sulawesi Tengah dan Juara III tingkat nasional pada 2026.

Dalam materi yang dibawakan, Sepriani menekankan pendekatan penyuluhan partisipatif. Masyarakat ditempatkan sebagai subjek pengelolaan hutan, bukan sekadar penerima program. Proses tersebut dibangun melalui dialog, kesepakatan, aksi bersama, hingga menghasilkan perubahan kelembagaan, kawasan dan manfaat ekonomi.

Pendampingannya mencakup tata kelola kelembagaan, kawasan dan usaha. Di KPH Toili Baturube, ia antara lain mendampingi KPS seluas 320,75 hektare yang mencakup 11 KPS dan 17 KUPS. Pendampingan juga dilakukan melalui rehabilitasi hutan dan lahan dengan pengembangan tanaman seperti kayu putih, durian, alpukat dan pala.

Dari sisi usaha, pendampingan diarahkan pada pengembangan komoditas unggulan, peningkatan kualitas produksi, penguatan KUPS, akses pasar dan kemitraan, hingga fasilitasi sertifikasi halal, P-IRT dan NIB. Produk yang dikembangkan kelompok antara lain minyak kayu putih, gula aren semut, gula aren batok dan teh kahumama.

Cerita praktik baik lainnya datang dari Ester Bolango, Ketua KUPS Fargesia Bambu sekaligus pengurus LPHD Mesale, Kabupaten Poso. LPHD Mesale merupakan penerima penghargaan Wana Lestari tingkat Provinsi Sulawesi Tengah 2026.

LPHD Mesale mengembangkan pengelolaan dan rehabilitasi hutan sekaligus usaha ekonomi berbasis pemanfaatan lestari. Kelompok tersebut antara lain telah menanam 6.000 pohon durian, 1.000 eboni, 800 alpukat dan 800 aren.

Melalui KUPS, masyarakat juga mengembangkan industri kerajinan bambu dan rotan serta pengemasan gula aren. Produk tersebut dipasarkan melalui kemitraan dengan pihak swasta, termasuk memasok gula aren untuk Hotel Anarya Poso.

“Bagi Program RBP-GCF Sulawesi Tengah, keikutsertaan dalam HUTAN.ID FEST menjadi ruang untuk memperkenalkan capaian program di tingkat nasional, berbagi pengetahuan dan praktik baik, sekaligus mempromosikan produk HHBK dari kelompok perhutanan sosial,” Project Officer Kemitraan, Kiki Amalia, mengatakan.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring antara pemerintah, KPH, kelompok perhutanan sosial, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat dalam mendorong pengelolaan hutan yang lestari.

Melalui pendekatan 4M, Sulawesi Tengah membawa pesan bahwa hutan yang tangguh terhadap perubahan iklim tidak hanya dibangun melalui pemulihan ekosistem, tetapi juga melalui tata kelola yang baik, perlindungan bersama masyarakat, serta manfaat ekonomi yang memberi alasan kuat bagi masyarakat untuk terus menjaga hutan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top