PALU, rindang.ID | Taman GOR Palu bukan sekadar ruang terbuka hijau di pusat kota. Kawasan ini menyimpan sedikitnya 206 pohon dari 17 jenis yang berperan penting menjaga kualitas lingkungan di tengah ancaman kenaikan suhu dan polusi debu akibat aktivitas pertambangan di sekitar Kota Palu.
Data tersebut merupakan hasil survei dan pendataan yang dilakukan Komunitas Nemu Buku pada 23 Mei 2025. Di atas lahan seluas sekitar 180 x 110 meter, kawasan ini didominasi pohon ketapang kencana (Terminalia mantaly), trembesi (Samanea saman), mahoni (Swietenia mahagoni), dan cemara tiang (Polyalthia longifolia).
“Taman GOR juga menjadi rumah bagi sejumlah pohon bernilai ekologis tinggi, seperti empat pohon nunu atau beringin (Ficus benjamina)—salah satunya merupakan pohon tua dengan akar gantung—serta palem Madagaskar, pule (Alstonia scholaris), eukaliptus pelangi (Eucalyptus deglupta), dan asam jawa (Tamarindus indica),” kata Neni Muhidin, Founder Komunitas Nemu Buku.
Keberadaan ratusan pohon tersebut memiliki fungsi yang jauh melampaui aspek estetika. Pepohonan berperan menyerap karbon, menurunkan suhu udara, menyediakan habitat satwa, sekaligus menciptakan ruang teduh bagi masyarakat.
“Fungsi itu menjadi semakin penting karena Kota Palu menunjukkan tren peningkatan suhu dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan analisis Stasiun Pemantauan Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, data suhu periode 1978–2024 memperlihatkan temperatur Kota Palu terus mengalami kenaikan,” Asep Firman Ilahi, Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, mengatakan.
Kondisi tersebut memperbesar risiko terjadinya fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island) dan menurunkan kenyamanan ruang publik.
Di sisi lain, Palu juga menghadapi tantangan kualitas udara. Aktivitas pertambangan batuan dan quarry di sekitar kota, ditambah lalu lintas truk pengangkut material, menjadi salah satu sumber polusi debu yang kerap dikeluhkan warga. Debu tersebut mengandung partikel PM10 dan PM2.5 yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga penyakit kardiovaskular apabila terpapar dalam jangka panjang.
Dalam kondisi tersebut, pepohonan berfungsi sebagai penyaring alami. Tajuk, daun, dan batang pohon mampu menangkap partikel debu sebelum menyebar lebih luas ke permukiman. Pohon juga menyerap berbagai gas pencemar seperti karbon dioksida (CO₂), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan ozon yang memengaruhi kualitas udara.
Selain menyaring polusi, pepohonan menghasilkan efek pendinginan melalui keteduhan dan proses transpirasi. Kawasan dengan tutupan pohon yang rapat umumnya memiliki suhu lebih rendah dibandingkan area yang didominasi beton dan aspal.
Secara geografis, Kota Palu berada di lembah yang dikelilingi pegunungan. Kondisi ini menyebabkan panas dan debu lebih mudah terperangkap di kawasan perkotaan pada kondisi cuaca tertentu. Apabila tutupan pohon terus berkurang, dampaknya diperkirakan akan memperburuk kenaikan suhu, menurunkan kualitas udara, mengurangi kenyamanan ruang publik, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Karena itu, menjaga pepohonan di Taman GOR tidak hanya penting sebagai upaya mempertahankan wajah kota, tetapi juga sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim dan pengendalian pencemaran udara.
Di tengah tren kenaikan suhu dan meningkatnya tekanan aktivitas pertambangan di sekitar Palu, setiap pohon mestinya menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan warga dan ketahanan lingkungan perkotaan.



