SIGI, rindang.ID | Hamparan hijau eceng gondok kini mendominasi tepian Danau Lindu, Kabupaten Sigi. Tumbuhan air mengapung (Pontederia crassipes) itu bukan lagi sekadar gulma, melainkan ancaman serius bagi ekosistem danau sekaligus mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan hidup dari perairan tersebut.
Pantauan Rindang.id di Danau Lindu pada Sabtu (25/7/2026) menunjukkan eceng gondok masih menguasai sebagian besar kawasan tepian danau, mulai dari Desa Anca hingga Desa Puro.
Di Dermaga Tomado, tumbuhan itu memenuhi area tambatan perahu dan jalur keluar masuk kapal. Pun di Desa Langko, hamparan eceng gondok telah mengubah sebagian kawasan yang dulunya perairan menjadi daratan yang dipenuhi vegetasi.
Kondisi tersebut membuat aktivitas nelayan semakin sulit. Jalur yang biasa digunakan untuk membawa perahu ke pantai kini tertutup rapat oleh gulma air.
“Kalau begini terus jangankan cari ikan, cari tempat sandar perahu juga susah,” ujar seorang nelayan di Desa Tomado.
Warga mengaku telah beberapa kali bergotong royong membersihkan eceng gondok. Namun, hanya dalam waktu singkat tanaman itu kembali tumbuh dan menyebar lebih luas.
Pegiat konservasi Danau Lindu, Agustino, mengatakan ledakan populasi eceng gondok telah membawa dampak ekologis yang serius. Salah satunya mempercepat proses pendangkalan danau akibat tumpukan biomassa tanaman yang mati dan mengendap di dasar perairan.
Menurutnya, lapisan eceng gondok yang menutupi permukaan air juga mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam danau. Kondisi ini menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun sehingga mengganggu kehidupan organisme air.
“Kalau terus dibiarkan, habitat ikan-ikan endemik Danau Lindu akan semakin terancam,” katanya.
Danau Lindu merupakan habitat sejumlah ikan endemik, di antaranya Rono Lindu atau Oryzias sarasinorum dan Rono Maradika atau Oryzias bonerorum, yang hidup di tepian danau. Ketika wilayah tersebut tertutup eceng gondok dan mengalami pendangkalan, ruang hidup kedua spesies itu ikut menyusut.
Selain mengancam spesies endemik, ledakan eceng gondok juga menutup lorong-lorong air yang sebelumnya menghubungkan sejumlah kawasan tangkapan ikan dengan perairan utama. Akibatnya, nelayan kehilangan akses menuju lokasi yang selama ini menjadi tempat menangkap ikan.
Di Desa Langko, dampaknya terlihat sangat nyata. Kawasan yang kini dikenal sebagai Padang To Langko diyakini dulunya merupakan bagian dari perairan Danau Lindu. Kini area tersebut berubah menjadi hamparan vegetasi dan padang tempat puluhan kuda liar merumput.
“Ini dulu juga dulu tempat cari ikan. Sekarang yang tertutup eceng gondok lumayan luas,” kata Adrianus menunjuk area Padang To Langko.
Fenomena ledakan eceng gondok mulai dirasakan warga sekitar tahun 2021 hingga 2022. Sejak saat itu pertumbuhannya berlangsung sangat cepat dan hingga kini belum mampu dikendalikan.
Asal masuknya eceng gondok ke Danau Lindu belum dapat dipastikan. Sejumlah warga menduga tanaman tersebut terbawa banjir dari kolam milik warga yang terhubung ke danau melalui sungai. Dugaan lain menyebutkan eceng gondok ikut terbawa saat kegiatan penebaran bibit ikan.
Meski demikian, kedua informasi tersebut masih sebatas dugaan dan belum pernah dipastikan melalui kajian ilmiah.
Gulma ini juga berpotensi menjadi habitat berbagai vektor penyakit serta menurunkan nilai estetika kawasan wisata Danau Lindu.
Berbagai upaya telah dilakukan masyarakat untuk mengurangi penyebaran eceng gondok. Agustino menceritakan, mahasiswa program magang pernah melatih ibu-ibu PKK di Desa Langko mengolah eceng gondok menjadi produk anyaman bernilai ekonomi. Namun, keterbatasan peralatan dan akses pasar membuat inisiatif tersebut belum mampu mengurangi ledakan populasi gulma secara signifikan.
Warga berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, maupun Pemerintah Kabupaten Sigi segera melakukan penanganan secara terpadu dan berskala besar, sebagaimana pembersihan eceng gondok yang pernah dilakukan di Danau Tondano.
Tanpa langkah pengendalian yang serius, invasi eceng gondok dikhawatirkan terus mempersempit ruang hidup biota endemik, mempercepat pendangkalan Danau Lindu, serta menghilangkan sumber penghidupan masyarakat yang selama puluhan tahun bergantung pada danau tersebut.



