Perwakilan AirAsia Indonesia, Arkom, dan penyintas berkumpul di Huntap Mandiri Mamboro, Sabtu (7/3/2026). (Foto: Dokumentasi Arkom)

Pertemuan Emosional Penyintas dan AirAsia yang Bantu Pemulihan Pascagempa Palu

PALU, rindang.ID | Delapan tahun setelah bencana gempa dan tsunami melanda Palu, perwakilan maskapai Indonesia AirAsia akhirnya bertemu dengan penyintas di Huntap Mandiri di Kelurahan Mamboro, Sabtu sore (7/3/2026).

Hunian tetap (huntap) penyintas di Kelurahan Mamboro, Kota Palu ini adalah jejak program kemanusiaan AirAsia pascabencana tahun 2018.

Kunjungan ini dilakukan setelah Indonesia AirAsia resmi melakukan penerbangan perdananya dari Kota Palu pada Sabtu pagi. Bagi pihak maskapai, ini menjadi kali pertama mereka melihat langsung permukiman penyintas yang terbangun melalui program kemanusiaan mereka beberapa tahun lalu.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan AirAsia didampingi oleh perwakilan Yayasan Arsitek Komunitas Indonesia (Arkom), lembaga yang menjadi mitra AirAsia di Indonesia dalam mendampingi komunitas penyintas. Arkom terlibat sejak fase tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga pemulihan ekonomi warga.

Di lokasi ini rombongan melihat langsung rumah-rumah yang dibangun secara partisipatif oleh warga. Sebanyak 39 keluarga yang menghuni kawasan tersebut menyambut hangat kunjungan ini.

Bagi mereka, pertemuan tersebut menjadi momen emosional karena untuk pertama kalinya dapat bertatap muka dengan pihak yang selama ini memberi dukungan dalam proses pemulihan.

“Selama ini kami banyak mendengar soal AirAsia yang mendukung kami dalam pemulihan, tapi belum pernah bertemu langsung,” kata Emilia, salah satu warga Huntap Mosinggani.

Warga pun dengan bangga memperlihatkan permukiman mereka yang pada 2021 lalu meraih penghargaan internasional dalam ajang World Habitat Awards. Hunian penyintas di pesisir Palu ini dinilai berhasil memadukan kearifan lokal rumah panggung khas masyarakat pesisir dengan inovasi konstruksi panel rumah tahan gempa.

Selain itu, kawasan ini juga dianggap adaptif terhadap risiko bencana dan perubahan iklim karena menerapkan skema relokasi mandiri sekitar 200 meter dari garis pantai, jarak yang ditetapkan sebagai zona merah tsunami pascabencana 2018.

Hal lain yang mencolok dari permukiman tersebut adalah warna rumah yang berbeda-beda. Menurut warga, pemilihan warna dilakukan sesuai dengan keinginan masing-masing pemilik rumah. Keunikan ini bahkan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis komunitas.

Pada kesempatan yang sama, warga juga memamerkan produk olahan ikan asin yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan mereka.

“Potensi ekonominya besar, apalagi kalau pemasarannya dilakukan lebih luas,” ujar Emilia.

Head of Indonesia Affairs and Policy Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi Soemawilaga, mengatakan kunjungan tersebut selain menjadi ajang silaturahmi dengan penyintas, juga bentuk apresiasi terhadap praktik baik warga dalam membangun ketangguhan pascabencana.

“Banyak potensi yang bisa dikembangkan dari sini. Ini membanggakan. Ke depan peningkatan kapasitas warga dan penguatan pemasaran bisa menjadi bentuk kolaborasi,” kata Eddy.

Sementara itu Direktur Yayasan Arsitek Komunitas Indonesia, Yuli Kusworo, menilai pertemuan antara penyintas dan pihak AirAsia menjadi momentum untuk memperkuat ikatan kemanusiaan sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

“Pola kolaborasi kemanusiaan antara penyintas dan AirAsia di Mamboro ini merupakan model yang bisa direplikasi di lokasi lain. Program kemanusiaan yang tidak hanya memulihkan kondisi fisik pascabencana, tetapi juga psikis dan ekonomi warga,” ujar Yuli.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top