Aktivitas penebangan pohon dan pemangkasan di Taman GOR Palu, Kamis (6/8/2026). (Foto: Heri/rindang.ID).

Dua Pohon Taman GOR Palu Ditebang, Revitalisasi atau Mengurangi Ruang Hijau?

PALU, rindang.ID | Revitalisasi Tahap II Taman Gelanggang Olahraga (GOR) Kota Palu mulai dilaksanakan. Namun, pekerjaan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau itu justru diwarnai penebangan pohon.

Pantauan rindang.id di lokasi pada Kamis (6/8/2026), sedikitnya dua pohon di sisi utara taman ditebang oleh petugas. Selain itu, sejumlah pohon berukuran besar juga dipangkas, terutama bagian dahan dan batang yang menjulur hingga ke badan jalan.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, mengatakan penebangan tersebut merupakan bagian dari kegiatan peremajaan pohon.

“Hanya dua pohon. Yang lainnya mungkin hanya pemangkasan dan perawatan, terutama untuk batang yang sakit atau sudah tua,” ujar Ibnu kepada rindang.id, Kamis (6/8/2026).

Penebangan pohon di kawasan Taman GOR menjadi sorotan karena lokasinya berada di pusat Kota Palu, di tengah tren peningkatan suhu yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

Pegiat lingkungan dan literasi, Neni Muhidin, menilai pepohonan di Taman seluas sekitar 180 x 110 meter itu memiliki peran penting sebagai ruang teduh yang tersisa di pusat kota.

“Pepohonan di Taman GOR Palu adalah titik teduh terakhir di tengah Kota Palu yang mestinya dijaga,” katanya.

Taman GOR Palu merupakan salah satu ruang terbuka hijau penting yang menyediakan keteduhan, menurunkan suhu lingkungan, sekaligus menyerap karbon di kawasan perkotaan.

Data Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, BMKG, menunjukkan suhu Kota Palu terus mengalami peningkatan. Sejak periode 1976, suhu rata-rata meningkat sekitar 0,45 derajat Celsius, sementara suhu ekstrem tertinggi yang pernah tercatat mencapai 39,6 derajat Celsius. Dibandingkan wilayah lain di Sulawesi Tengah, Palu menjadi daerah dengan laju kenaikan suhu tertinggi.

Kondisi tersebut diperparah oleh berkurangnya tutupan lahan dan ruang terbuka hijau. Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) Kota Palu turun dari 67,76 pada 2023 menjadi 58,53 pada 2024, yang menunjukkan menurunnya kualitas vegetasi kota. Berkurangnya kawasan berhutan dan vegetasi juga mengurangi kemampuan lingkungan menyerap panas dan emisi karbon.

Peningkatan suhu ini berpotensi memperkuat fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan, yang membuat suhu di kawasan perkotaan semakin tinggi, terutama di wilayah yang minim pepohonan.

Karena itu, keberadaan pohon di ruang terbuka hijau seperti Taman GOR dinilai memiliki fungsi ekologis yang penting. Selain menjaga kenyamanan masyarakat, pepohonan juga berperan menurunkan suhu udara, menyerap emisi karbon, serta mengurangi dampak perubahan iklim di Kota Palu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top