SIGI, rindang.ID | Puluhan anggota Komunitas Pecinta Alam Spalacipa Tadulako Sigalei menanam 100 bibit pohon mahoni di sepanjang jalur pendakian Bulu Woo, kawasan Tahura Kapopo, Ngatabaru, Kabupaten Sigi, Jumat (25/9/2026).
Penanaman dilakukan di sejumlah titik di sepanjang jalur pendakian. Aksi tersebut menjadi bagian dari kegiatan rutin Spalacipa untuk menjaga tutupan lahan sekaligus meningkatkan kepedulian anggota komunitas terhadap kawasan konservasi.
Penanaman pohon merupakan bagian dari program komunitas yang dilakukan secara berkala.
“Sebanyak 100 bibit mahoni kami tanam di beberapa titik sepanjang jalur Bulu Woo,” kata Anderas, salah seorang pengurus Spalacipa, mengatakan.
Tahura Kapopo dipilih karena kawasan tersebut memiliki fungsi penting bagi lingkungan Sigi dan Kota Palu. Selain sebagai kawasan konservasi, kawasan hutan Tahura juga berperan sebagai salah satu daerah tangkapan air.
Bagi Spalacipa, menjaga kawasan tidak cukup dilakukan dengan menikmati jalur pendakian. Setelah penanaman, komunitas berencana melakukan pemantauan secara berkala terhadap bibit yang telah ditanam untuk melihat pertumbuhan dan kondisinya.
Jalur Bulu Woo sendiri menjadi salah satu lokasi yang kerap dikunjungi para penggiat kegiatan luar ruang. Dengan puncak berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, jalur tersebut relatif mudah dijangkau dari Kota Palu.
Kedekatan dengan kawasan perkotaan membuat Bulu Woo menjadi ruang interaksi masyarakat dengan alam. Karena itu, keberadaan tutupan vegetasi di sepanjang jalur dinilai penting untuk tetap dijaga.
Bagi Spalacipa, aktivitas di alam tidak berhenti ketika pendaki mencapai puncak. Pengalaman menyusuri hutan dan perbukitan juga menjadi cara untuk mengenali kondisi lingkungan sekaligus memahami pentingnya menjaga kawasan yang menjadi tempat mereka beraktivitas.
Komunitas yang berbasis di Kota Palu ini telah lama menjalankan berbagai kegiatan kepencintaalaman, mulai dari pendakian, ekspedisi hingga kegiatan konservasi. Pengalaman menjelajah berbagai bentang alam Sulawesi Tengah menjadi bagian dari proses anggota Spalacipa mengenali lingkungan secara langsung.
Melalui penanaman dan pemantauan bibit, mereka mencoba membawa semangat kepencintaalaman ke bentuk aksi yang lebih konkret: tidak hanya menikmati hutan, tetapi ikut merawatnya.



