PALU, rindang.ID | Rasa gugup tampak dari suara Sepriani Jome ketika namanya dipanggil untuk menyampaikan kesan atas penghargaan yang baru saja diraihnya.
Berdiri di hadapan para penyuluh kehutanan, kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Sulawesi Tengah, dan jajaran Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, ia mencoba menahan haru.
“Saya agak gugup bicara di depan sini. Ini momen bersejarah bagi saya. Ini pencapaian kita semua,” kata Sepriani, saat penyerahan penghargaan di Aula Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Selasa (18/8/2026).
Bagi perempuan yang sehari-hari bertugas sebagai penyuluh kehutanan di KPH Toili Baturube itu, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas capaian pribadi. Predikat Terbaik III Nasional kategori Penyuluh Kehutanan PNS dalam Anugerah Wana Lestari 2026 merupakan akumulasi dari pekerjaan yang selama bertahun-tahun ia lakukan bersama masyarakat di tingkat tapak.
Sebelumnya, Sepriani meraih predikat Terbaik I Wana Lestari tingkat Provinsi Sulawesi Tengah. Prestasi itu kemudian membawanya mengikuti tahapan penilaian di tingkat nasional.
Penilaiannya tidak semata-mata melihat aspek administratif. Dedikasi, inovasi, keteladanan, kemampuan mendampingi masyarakat, serta kontribusi dalam mendorong pengelolaan hutan secara lestari menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkannya ke tingkat nasional.
Sepriani diangkat sebagai penyuluh kehutanan pada 2015. Setahun kemudian, ia mulai aktif turun ke lapangan untuk memfasilitasi pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH).
Di lapangan, ia menyadari bahwa mendampingi masyarakat tidak cukup hanya dengan membawa program pemerintah. Penyuluh harus memahami karakter masyarakat, membangun kepercayaan, lalu perlahan mendorong kelompok agar mampu mengelola kelembagaan, kawasan, dan usaha mereka sendiri.
Pendekatan itu ia lakukan dengan menyesuaikan karakter kelompok binaannya. Ia juga memilih mendatangi anggota kelompok secara langsung atau door to door. Cara itu menurutnya membuat anggota lebih terbuka menyampaikan persoalan yang mereka hadapi dibandingkan ketika persoalan dibicarakan dalam pertemuan besar.
“Pelan-pelan kami menata administrasi kelompok, walaupun tanpa anggaran. Mulai dari papan nama, struktur organisasi, buku administrasi dan sebagainya,” ujarnya.
Upaya memperkuat kelembagaan kemudian berkembang menjadi kebiasaan yang membuat kelompok semakin mandiri. Salah satunya melalui iuran anggota. Selama sekitar enam tahun, KTH Gunung Madu mampu mengumpulkan iuran sekitar Rp40 juta. Dana tersebut kemudian dikelola menjadi dana bergulir melalui sistem simpan pinjam anggota kelompok.
Bagi Sepriani, capaian itu menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari bantuan besar. Kemandirian bisa tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dari Kelompok, Menjaga Kawasan
Sepriani juga mendorong kelompok untuk terlibat langsung dalam pengelolaan kawasan hutan secara partisipatif.
Dalam kegiatan seperti penandaan batas sederhana maupun penyusunan rencana kelola, anggota kelompok selalu dilibatkan. Pendekatan tersebut membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima program, tetapi menjadi bagian dari proses pengelolaan kawasan.
Ia juga mendampingi pembagian dan pengembangan bibit tanaman produktif, seperti durian Musang King, alpukat Miki dan alpukat Palu kepada KTH binaan.
Di titik ini, tugas penyuluh menjadi penting: mempertemukan kepentingan kelestarian hutan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Potensi hasil hutan bukan kayu kemudian dikembangkan menjadi berbagai kegiatan usaha dengan berbagai inovasi, mulai dari pengolahan minyak kayu putih, gula semut aren hingga pengembangan gaharu.
Ia juga mendampingi kelompok dalam mengurus legalitas produk, seperti P-IRT, sertifikat halal dan Nomor Induk Berusaha (NIB). Beberapa produk yang dikembangkan kelompok antara lain teh kahumama, gula aren batok, gula aren kotak dan gula aren semut.
Pendampingan juga dilakukan untuk membuka kerja sama dengan mitra usaha kehutanan, terutama dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu seperti rotan dan damar. Untuk pengembangan gaharu dan rehabilitasi mangrove, Sepriani membangun kolaborasi dengan kalangan akademisi.
Kerja sama lintas pihak menjadi salah satu bagian penting dalam pekerjaannya. Akademisi, dunia usaha, dan instansi pemerintah dipertemukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang tidak selalu bisa diselesaikan oleh penyuluh seorang diri.
Dengan cara itu, Sepriani menjalankan peran penyuluh bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai jembatan antara program pemerintah dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Inovasi yang Tumbuh dari Masyarakat
Kepala KPH Toili Baturube, Aries Widjayanto, menilai apa yang dilakukan Sepriani menunjukkan bahwa kelompok binaan tidak hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi juga mampu menghasilkan berbagai inovasi.
“Inovasi-inovasi itu menjadi prioritas. Harapannya bisa menjadi inspirasi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan dan di dalam kawasan hutan,” kata Aries.
Menurut dia, penghargaan Wana Lestari juga dapat menjadi barometer untuk melihat sejauh mana kinerja penyuluh dan KPH dalam mendampingi masyarakat.
“Setelah lomba, kinerja harus tetap ditingkatkan,” ujarnya.
Penghargaan Bukan Tujuan Akhir
Sepriani menyebut penghargaan tersebut sebagai hasil dari kerja-kerja kecil para penyuluh bersama kelompok tani hutan dan kelompok perhutanan sosial yang dilakukan selama ini, dengan dukungan banyak pihak.
“Saya bersyukur atas momentum ini. Ini adalah akumulasi hasil kerja-kerja kecil penyuluh, kelompok tani hutan, kelompok perhutanan sosial di lapangan dengan dukungan banyak pihak. Ini juga pencapaian kita semua, bukan pribadi,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah dan Kepala KPH Toili Baturube yang selama ini memberikan dukungan dan arahan.
Bertemu dengan para penerima Anugerah Wana Lestari dari berbagai daerah di Indonesia juga menjadi pengalaman yang tidak terlupakan baginya.
Namun, pesan yang ingin ia bawa pulang jauh lebih sederhana: bekerja di tingkat tapak adalah tentang ketulusan. Menurut Sepriani, sekecil apa pun peran seorang aparatur sipil negara di lapangan, tugas tersebut harus tetap dijalankan dengan penuh tanggung jawab, baik ada maupun tanpa penghargaan.
“Semoga penghargaan ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi motivasi bagi kami penyuluh untuk selalu hadir, menginspirasi, peduli, dan ikut menjaga hutan tetap lestari serta memberi manfaat bagi masyarakat, baik di dalam maupun sekitar hutan,” katanya.



