PALU, rindang.ID | Prestasi pengelolaan hutan Sulawesi Tengah juga tercatat di tingkat nasional. Dua penerima Wana Lestari tingkat provinsi berhasil meraih predikat Terbaik Nasional.
Keduanya yakni Sepriani Jome, S.Hut., pada kategori Penyuluh Kehutanan PNS dan LPHD Mesale pada kategori Pengelola Hutan Desa.
Keduanya sebelumnya merupakan peraih Terbaik I Penghargaan Wana Lestari tingkat Provinsi Sulawesi Tengah 2026. Sepriani merupakan Penyuluh Kehutanan Ahli Muda pada UPTD KPH Toili Baturube, sementara LPHD Mesale berasal dari Desa Malitu, Kabupaten Poso, yang berada dalam wilayah binaan UPT KPH Sintuwu Maroso.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa praktik pengelolaan hutan dan pendampingan masyarakat di tingkat tapak dari Sulawesi Tengah mampu bersaing di tingkat nasional.
Sepriani, Penyuluh yang Mendampingi Masyarakat
Sepriani Jome meraih Terbaik III nasional setelah melalui proses penilaian berjenjang, mulai dari tingkat provinsi hingga nasional.
Prestasinya dinilai tidak hanya berdasarkan capaian administratif, tetapi juga dedikasi, inovasi, dan keteladanan dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh kehutanan.
Sebagai penyuluh, Sepriani memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat, membangun kesadaran, meningkatkan kapasitas kelompok tani serta mendorong penerapan pengelolaan hutan secara lestari.
Perannya juga menjadi jembatan antara program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di tingkat lapangan.
Capaian tersebut menunjukkan kontribusinya dalam mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja KPH Toili Baturube.
LPHD Mesale: Kelola Hutan, Bangun Ekonomi
Sementara itu, LPHD Mesale dari Desa Malitu, Kabupaten Poso, meraih Terbaik III nasional kategori Pengelola Hutan Desa.
Keberhasilan LPHD Mesale tidak terlepas dari tata kelola kelembagaan yang kuat. Lembaga tersebut memiliki struktur organisasi yang aktif, administrasi yang tertata, serta perencanaan pengelolaan hutan melalui Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) periode 2022–2032.
LPHD Mesale juga aktif melakukan pertemuan rutin serta mengembangkan kegiatan rehabilitasi hutan. Sejumlah jenis tanaman yang dikembangkan antara lain durian sebanyak 6.200 batang, alpukat 800 batang, eboni 1.000 batang, aren 600 batang dan bambu 700 batang.
Selain menjaga kawasan, LPHD Mesale mengembangkan potensi hasil hutan bukan kayu melalui sejumlah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
Salah satunya KUPS Lestari yang bergerak dalam produksi gula semut atau gula aren. Unit usaha tersebut masuk kategori Gold dengan produksi sekitar 200–350 kilogram per bulan dan telah memiliki sertifikasi halal serta PIRT.
LPHD Mesale juga memiliki KUPS Fargeta yang mengembangkan kerajinan bambu dan KUPS Madago Raya yang mengelola rotan dengan volume sekitar 2,5 hingga 5 ton per bulan.
Pengembangan usaha tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan hutan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.
Contoh Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah, Susanto Wibowo, mengapresiasi prestasi Sepriani dan LPHD Mesale di tingkat nasional.
Menurutnya, penghargaan tersebut harus menjadi amanah bagi para penerima untuk terus berkarya dan berinovasi.
“Penerima diharapkan menjadi role model yang mampu menularkan praktik baik kepada kelompok masyarakat lainnya,” katanya.
Menurut Susanto, keberhasilan LPHD Mesale memperlihatkan bahwa masyarakat dapat menjadi pelaku utama dalam menjaga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan.
Prestasi tersebut juga tidak terlepas dari pentingnya penguatan pengelolaan hutan di tingkat tapak melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
Edy Wicaksono, Team Leader PMU Results-Based Payment (RBP) Sulawesi Tengah, mengatakan Kemitraan dalam proyek RBP GCF REDD+ memfasilitasi kegiatan Pengelolaan Hutan Lestari pada KPH sebagai unit pengelola hutan di tingkat tapak.
Penguatan KPH menjadi penting karena pengelolaan hutan berkelanjutan membutuhkan aksi nyata di lapangan, termasuk melalui pendampingan masyarakat, rehabilitasi kawasan, pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu dan penguatan kelembagaan perhutanan sosial.
Prestasi Sepriani dan LPHD Mesale pada Wana Lestari 2026 menunjukkan upaya menjaga hutan tidak hanya menghasilkan manfaat ekologis, tetapi juga dapat menjadi jalan bagi peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak.



