PONTIANAK, rindang.ID | Indonesia ternyata menjadi salah satu rumah bagi Bruguiera hainesii, salah satu jenis mangrove paling langka di dunia.
Pohon ini pertama kali ditemukan dan terpublikasikan pada Mei 2017. Keberadaannya kembali menjadi perhatian pada Juli 2026 karena berada di kawasan pesisir yang rentan abrasi di kawasan pesisir Desa Tanjung Harapan, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Bruguiera hainesii merupakan mangrove dari famili Rhizophoraceae yang memiliki persebaran terbatas di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Spesies ini tercatat di Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Singapura hingga Papua Nugini.
Kelangkaannya membuat B. hainesii mendapat status Critically Endangered (CR) atau Kritis dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Status tersebut menunjukkan bahwa spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam.
Sejumlah kajian konservasi memperkirakan jumlah individu dewasa Bruguiera hainesii yang tersisa di dunia berada pada angka yang sangat rendah. Kondisi habitat yang semakin terfragmentasi, perubahan kawasan pesisir dan rendahnya regenerasi alami menjadi sejumlah ancaman terhadap keberlangsungan spesies tersebut.
Bruguiera hainesii merupakan pohon mangrove yang dapat tumbuh hingga sekitar 30 meter. Pohon ini memiliki kulit batang cokelat hingga abu-abu, akar lutut, serta daun tebal berbentuk lonjong dan berwarna hijau mengilap.
Ciri yang paling khas terdapat pada bunga dan propagulnya. Bunganya berwarna hijau pucat hingga kekuningan dengan sekitar 10 lobus kelopak, sementara propagulnya berbentuk memanjang menyerupai cerutu, dapat mencapai sekitar 20 sentimeter, dan berubah dari hijau menjadi ungu tua ketika matang.
Ciri-ciri bunga dan propagul membedakannya dari jenis Bruguiera lainnya.
Penemuan B. hainesii di Kubu Raya menjadi penting karena menunjukkan bahwa kawasan mangrove Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat bernilai. Pohon yang ditemukan di Desa Tanjung Harapan bahkan menjadi perhatian karena berada di kawasan yang rentan terhadap abrasi.
Upaya perlindungan terhadap pohon induk tersebut dilakukan untuk mencegah kerusakan sekaligus menjaga peluang regenerasi. Keberadaan pohon induk sangat penting bagi konservasi karena dapat menjadi sumber propagul atau bahan perkembangbiakan alami bagi populasi baru.
Keberadaan Bruguiera hainesii juga memperlihatkan pentingnya mempertahankan ekosistem mangrove secara keseluruhan.
Mangrove tidak hanya menjadi habitat berbagai jenis biota, tetapi juga berfungsi sebagai pelindung alami kawasan pesisir dari gelombang, abrasi dan dampak cuaca ekstrem.
Ekosistem ini juga memiliki peran penting dalam menyimpan karbon dalam jumlah besar, baik pada biomassa pohon maupun sedimen di bawahnya.
Indonesia memiliki keanekaragaman mangrove yang sangat tinggi dan menjadi salah satu negara penting dalam konservasi ekosistem mangrove dunia. Namun, kekayaan tersebut juga menghadirkan tanggung jawab besar untuk melindungi kawasan pesisir dari konversi, degradasi dan fragmentasi habitat.



