Kawasan Konservasi Mangrove di Pantai Dupa, Layana, Kota Palu. (Foto: rindang.ID)

Kisah Hutan Mangrove Layana, yang Tumbuh Dari Semangat Pemulihan Tanpa Status Perlindungan

PALU, rindang.ID | Hamparan mangrove di pesisir Layana, Kota Palu, terus tumbuh di tengah berbagai tantangan. Di satu sisi, kawasan ini dinilai memiliki peran penting sebagai pelindung pesisir sekaligus habitat berbagai biota laut. Namun di sisi lain, status hukumnya hingga kini belum memberikan perlindungan khusus bagi ekosistem tersebut.

Sampai pertengahan 2026, sudah hampir 5 hektare hamparan mangrove yang tumbuh di pesisir Pantai Dupa, Kelurahan Layana Kota Palu sejak inisiasi menanam mangrove oleh Komunitas Mangrovers dimulai pada 2019 silam. Dari puluhan batang bibit di awal, akar-akar menjulur beranak pinak dan kawasan itu kini berubah menjadi hutan mangrove.

Koordinator Mangrovers, Najib, masih mengingat bagaimana kondisi kawasan itu beberapa tahun lalu. Saat rehabilitasi dimulai, pesisir Layana lebih banyak dikenal sebagai tempat penumpukan sampah daripada kawasan hijau.

Sedikit demi sedikit, para relawan datang membawa bibit. Mereka menanam saat air surut, menancapkan propagul mangrove ke lumpur pesisir, lalu kembali beberapa minggu kemudian untuk memastikan tanaman itu masih bertahan hidup.

Pekerjaan itu tidak selalu mudah. Sampah yang terbawa arus kerap menumpuk di sekitar bibit yang baru ditanam. Pada musim tertentu, gelombang laut mencabut tanaman muda yang akarnya belum kuat. Di waktu lain, ada yang gagal tumbuh karena terinjak. Bahkan ditebas karena dianggap mengganggu aktivitas nelayan.

Tantangan itu masih dihadapi hingga kini, terutama pengrusakan oleh manusia.

“Kalau mangrovenya rusak, kami tidak bisa berbuat banyak,” kata Najib.

Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia menggambarkan kenyataan yang dihadapi para pegiat lingkungan yang selama ini berupaya memulihkan ekosistem pesisir Layana tanpa payung perlindungan yang memadai.

Di atas peta tata ruang, kawasan itu merupakan zona perikanan tangkap. Tambatan perahu nelayan berdiri di samping kawasan itu dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Kondisi ini kerap memunculkan kekhawatiran bahwa rehabilitasi mangrove dapat mengganggu akses perahu nelayan.

Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, persoalan inilah yang harus dipertimbangkan jika suatu saat kawasan tersebut diusulkan menjadi kawasan konservasi.

Perubahan status tidak hanya menyangkut aspek ekologis, tetapi juga kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian di wilayah pesisir.

Najib memahami kekhawatiran itu. Karena itu, sejak awal kelompoknya berupaya memastikan area penanaman tidak menutup jalur transportasi nelayan.

“Di bagian selatan kawasan kami membuat jalur khusus agar perahu nelayan tetap bisa melintas,” ujarnya.

Baginya, mangrove dan nelayan tidak seharusnya dipertentangkan.

Justru sebaliknya, mangrove menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis ikan yang pada akhirnya mendukung produktivitas perikanan tangkap.

Menunggu Kepastian

Selama ini Komunitas Mangrovers telah beberapa kali mengajukan usulan agar kawasan Mangrove Layana memperoleh status perlindungan yang lebih kuat.

Mereka bahkan pernah menyampaikan aspirasi tersebut kepada Pemerintah Kota Palu dan instansi terkait. Namun hingga kini belum ada keputusan yang mengubah status kawasan tersebut.

Soal itu, Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir – Ahli Muda di Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, Nur Masita bilang, perubahan zona menjadi kawasan konservasi memerlukan serangkaian proses panjang. Mulai dari pengajuan usulan, asesmen teknis, kajian spasial, hingga konsultasi dengan nelayan dan masyarakat sekitar.

“Seluruh proses itu nantinya akan menjadi bagian dari pembahasan revisi RTRW,” kata Nur Masita.

Saat peninjauan kembali tata ruang dilakukan, titik-titik koordinat pesisir termasuk Layana akan dikaji ulang untuk melihat kemungkinan perubahan peruntukan ruang.

Benteng Alami di Pintu Kota

Kawasan mangrove di Layana hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kota. Di sekitarnya berdiri kawasan pergudangan dan berbagai fasilitas penunjang aktivitas ekonomi.

Bagi Najib, posisi strategis itu membuat keberadaan mangrove menjadi semakin penting.

Ia masih ingat dampak bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Palu pada 2018. Banyak fasilitas rusak, termasuk infrastruktur yang menopang distribusi logistik.

Menurutnya, sabuk mangrove dapat menjadi salah satu benteng alami yang membantu meredam dampak bencana pesisir di masa depan.

Selain itu, kawasan tersebut juga memiliki potensi sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat kota yang ingin mengenal ekosistem mangrove lebih dekat.

“Kalau masyarakat ingin belajar tentang manfaat mangrove, lokasinya dekat dan mudah dijangkau,” katanya.

Harapan itu mendorong Komunitas Mangrovers untuk terus menjaga kawasan yang luasnya diperkirakan mencapai sekitar lima hektare tersebut.

Ekosistem Baru dari Hutan Mangrove Layana

Saat melakukan kegiatan balobe atau mencari ikan pada malam hari, Najib dan kawan-kawannya mulai menemukan tanda-tanda kehidupan yang sebelumnya jarang dijumpai.

Di sela-sela akar mangrove, muncul kerang, kepiting, udang, hingga anak-anak ikan yang berlindung dari predator.

“Bulan lalu kami masuk ke area akar mangrove saat balobe. Kami menemukan banyak kerang, kepiting, udang, dan ikan-ikan kecil. Itu menunjukkan ekosistemnya mulai terbentuk,” ujarnya.

Bagi para pegiat mangrove, pemandangan itu menjadi bukti bahwa rehabilitasi tidak sia-sia. Mangrove yang ditanam bertahun-tahun perlahan menjalankan fungsi alaminya sebagai rumah bagi berbagai biota pesisir.

Rantai ekosistem yang muncul itu jelas adalah pertanda membaiknya kondisi lingkungan pesisir Palu dibanding sebelumnya.

Dan bagi Najib dan para sukarelawan Mangrovers, itu meneguhkan pilihan untuk tetap melakukan apa yang sudah mereka kerjakan selama ini: menanam.

Mereka percaya setiap bibit yang tumbuh adalah investasi bagi masa depan pesisir Palu, sambil tetap berharap muncul kesadaran dari pemerintah tentang nilai penting kawasan mangrove Layana dan penetapan status konservasi-nya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top