Musyawarah adat di Desa Ngata Toro, Sigi. (Foto: Hendrik)

Toponimi hingga Tradisi Lisan: Jejak Bencana dalam Ingatan Kolektif Sulawesi Tengah

PALU, rindang.ID | Tradisi lisan, pengamatan terhadap alam, hingga penamaan wilayah terbukti menyimpan informasi krusial tentang ancaman bencana yang kerap luput dari pendekatan modern. Di tengah ancaman bencana di Sulawesi Tengah, pengetahuan lokal seperti itu terasa penting untuk diwariskan.

“Goya-goya Gantiro (Gempa di Ganti -Donggala)

To Kabonga Loli’o (Pun dirasakan Orang Kabonga hingga Loli)

Palu, Tondo, Mamboro Na’Poyomo (Palu, Tondo dan Mamboro telah tenggelam)

Kayumalue Ne’lantomo (Kayumalue telah terapung)” 

Syair di atas adalah Kayori; bentuk puisi lisan tradisional yang hidup dalam masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya suku Kaili. Dalam Kayori yang dituturkan pada 1938, masyarakat merekam peristiwa gempa dan tsunami besar di Teluk Palu sebagai pengingat lintas generasi.

Ia dituturkan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi lisan yang menyimpan ingatan kolektif masyarakat.

Selain Kayori, ada pula Tutura; tradisi lisan yang mengawetkan pesan penting. Salah satu pesan kuat dalam Tutura menyebutkan bahwa “tanah ini telah patah sekali, dan kelak akan patah kembali.” Ungkapan ini menjadi refleksi kesadaran masyarakat akan kerentanan geologis wilayah Palu yang berada di jalur sesar aktif.

Dan pada 2018 pengetahuan lokal itu benar-benar terbukti relevan. Gempa bermagnitudo 7,4 terjadi dan menimbulkan kerugian besar bagi Kota Palu, Sigi, dan Donggala. Keduanya terbukti menyimpan informasi krusial tentang ancaman bencana yang kerap luput dari pendekatan modern.

Selain dua tradisi lisan itu, Sulawesi Tengah, khususnya masyarakat Kaili sebenarnya punya banyak pengetahuan lokal yang tumbuh sebagai respon bencana yang sejak dulu kerap terjadi.

Peneliti sejarah Sulawesi Tengah, Jefrianto menyebut sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai panduan praktis dalam menghadapi potensi bencana.

“Pengetahuan ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bentuk pembacaan lingkungan yang sangat kontekstual dan adaptif,” ujarnya.

Pengetahuan lokal juga tersimpan dalam Toponimi atau penamaan wilayah. Nama-nama seperti Palu (Topalue, tanah terangkat), Lindu (gempa), Tanamodindi (tanah bergetar), Duyu (longsor), hingga Tatura (penurunan tanah), mencerminkan memori ekologis masyarakat terhadap bencana yang pernah terjadi di Kota Palu.

“Toponimi ini bukan sekadar nama, tetapi arsip hidup yang memberi petunjuk tentang karakteristik dan risiko suatu wilayah,” jelas Jefrianto.

Dalam perkembangannya, pengetahuan lokal ini mulai diintegrasikan dengan teknologi modern melalui konsep sistem peringatan dini hibrida. Sistem ini menggabungkan pengamatan masyarakat terhadap tanda-tanda alam dengan verifikasi data ilmiah.

Contoh konkret penerapan pengetahuan lokal dan data terjadi di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Di sana, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Dolo Selatan menjadikan suara alam, warna air sungai, dan perubahan material yang dibawa aliran sungai sebagai tanda-tanda risiko bencana akan datang. Informasi itu lalu disebarkan ke semua desa melalui teknologi komunikasi yang membuat warga bisa mengantisipasi dampaknya.

Ini terjadi lantaran banjir bandang yang kerap melanda desa-desa di Dolo Selatan.

Pendekatan ini mampu menciptakan sistem mitigasi yang lebih holistik dan adaptif, di mana teknologi dan kearifan lokal saling melengkapi.

Namun demikian, pelestarian pengetahuan lokal menghadapi berbagai tantangan. Modernisasi dan perubahan sosial membuat generasi muda semakin jauh dari tradisi lisan. Dominasi pendekatan teknologi dalam kebijakan kebencanaan juga kerap meminggirkan kearifan lokal.

Selain itu, minimnya dokumentasi tertulis membuat pengetahuan ini rentan hilang, terutama jika tidak lagi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Tekanan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam juga turut mengancam ruang hidup yang menjadi basis dari praktik pengetahuan tersebut.

“Jika tidak diintegrasikan secara serius dalam kebijakan dan pendidikan, kita berisiko kehilangan sistem pengetahuan yang justru sangat relevan dengan kondisi lokal,” kata Jefri.

Ke depan, sinergi antara pengetahuan lokal dan teknologi modern menjadi kunci dalam membangun sistem mitigasi bencana yang tidak hanya canggih, tetapi juga berakar kuat pada pengalaman dan memori kolektif masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top