Kader penanganan stunting memberi makanan tambahan bagi balita di Kelurahan Layana, Kota Palu, Senin (20/4/2026). (Foto: Heri/rindang.ID)

Semangat Kartini dari Layana: Perjuangan Nurlaila dan Nirmawati Melawan Stunting di Palu

PALU, rindang.ID | Semangat Raden Ajeng Kartini yang diperingati saban 21 April juga terus hidup dalam berbagai bentuk perjuangan perempuan masa kini. Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, semangat itu menjelma dalam sosok Ibu Nurlaila dan Ibu Nirmawati, dua kader stunting yang setiap hari berjuang memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi layak.

Di balik peringatan Hari Kartini, kisah Nurlaila dan Nirmawati adalah potret nyata bagaimana perempuan berperan sebagai garda terdepan dalam membangun generasi sehat, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Nurlaila (42 th), kader sejak 2010 di Kelurahan Layana Indah, memulai aktivitasnya dengan berbelanja bahan makanan bersamaan dengan kebutuhan rumah tangga. Ia kemudian mengolah berbagai menu bergizi untuk dua anak asuhnya. Dari nasi kuning, nasi goreng, hingga menu dengan protein ganda seperti telur, ikan, atau ayam, semuanya disajikan lengkap dengan sayur dan buah.

“Anak-anak selalu senang karena makanannya bervariasi,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Bagi Nurlaila, tugas ini bukan sekadar rutinitas, tetapi panggilan hati untuk membantu tetangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi anak.

Semangat serupa juga ditunjukkan Ibu Nirmawati (40 th), yang telah menjadi kader selama dua dekade. Dalam program pendampingan stunting yang baru ia jalani setahun terakhir, dia menangani empat anak, satu di antaranya telah berhasil keluar dari kategori stunting.

Setiap hari, ia memasak sejak subuh agar makanan bisa diantar tepat waktu. Bahkan saat Ramadan, ia tetap memasak selepas sahur dan mengantar makanan sebelum pagi benar-benar datang.

Namun perjuangannya tak selalu mudah. Ia kadang-kadang melewati hambatan yang tidak dia duga.

“Termasuk berhadapan dengan sapi saat mengantar makanan ke wilayah perbukitan,” cerita Nirmawati.

Meski demikian, hasil yang ia lihat menjadi sumber kekuatan tersendiri.

“Salah satu anak berat badannya naik dari 7 kilogram menjadi 9,7 kilogram sebelum usia dua tahun. Itu yang membuat saya bangga,” katanya.

Kehadiran para kader juga membawa perubahan perilaku. Nirmala melihat para ibu mulai meniru pola pemberian makan yang lebih variatif, seiring meningkatnya nafsu makan anak-anak mereka.

Peran Nurlaila dan Nirmawati tidak berjalan sendiri. Program ini merupakan bagian dari kolaborasi nasional yang didukung PT CPM, bersama pemerintah daerah dan layanan kesehatan.

Kelurahan Layana sendiri merupakan wilayah lingkar tambang perusahaan tersebut.

“Dukungan yang kami berikan mencakup insentif bagi kader, anggaran bahan makanan, hingga sarana pembelajaran melalui grup komunikasi daring,” kata Superintendent Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM-CSR) PT Citra Palu Minerals (CPM), Rahyunita Handayani.

Melalui grup tersebut, para kader saling berbagi inspirasi menu dan mendapatkan edukasi terkait gizi anak. Selain itu, pemantauan rutin terhadap perkembangan berat badan anak memastikan program berjalan tepat sasaran.

Para kader ini menjadi ujung tombak dalam upaya pencegahan stunting, mulai dari memasak, mengantar, hingga memastikan makanan dikonsumsi langsung oleh anak-anak penerima manfaat.

Keduanya menunjukkan bahwa emansipasi bukan hanya soal kesetaraan, tetapi juga tentang kepedulian, ketangguhan, dan komitmen merawat masa depan generasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top