PALU, rindang.ID | Pesisir Pantai Dupa, Kota Palu, Jumat (30/1/2026), berubah menjadi lautan manusia. Ribuan orang dari berbagai latar belakang turun tangan dalam aksi bersih pantai di kawasan konservasi mangrove. Tak hanya sampah domestik, sampah dari China juga ditemukan di lokasi.
Pelajar, mahasiswa, pegiat lingkungan, aparatur sipil negara, hingga anggota TNI menyisir garis pantai sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer. Mereka bergerak serempak, memunguti sampah yang tersangkut di akar-akar mangrove, ekosistem penyangga pesisir yang kian terancam oleh kiriman limbah laut.
Tumpukan sampah itu bukan baru sehari dua hari terbentuk. Arus laut membawa berbagai jenis limbah dan menahannya di kawasan mangrove Teluk Palu. Akibatnya, banyak pohon mangrove tertutup plastik, kayu, dan sisa-sisa kemasan, menghambat pertumbuhan sekaligus merusak fungsi ekologisnya.
Sedikitnya 70 armada pengangkut sampah hilir mudik tanpa henti. Truk-truk itu mengangkut hasil kerja para sukarelawan yang sejak pagi berkutat dengan bau menyengat dan lumpur pesisir.
“Ada sekitar 70 sampai 100 ton sampah yang berhasil diangkut hari ini,” kata Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, di sela-sela kegiatan.
Jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik kemasan makanan dan minuman, botol plastik, serta batang-batang kayu. Namun, di antara timbunan itu, terdapat temuan yang mengundang perhatian lebih.
Sejumlah kemasan makanan dan minuman bertuliskan huruf asing yang diduga berasal dari China ikut terkumpul. Di antaranya botol minuman susu kalsium, plastik kemasan air mineral, hingga bungkus makanan instan. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa persoalan sampah di Teluk Palu tak semata bersumber dari aktivitas lokal.
Ini menunjukkan bahwa arus laut, cuaca, dan faktor iklim juga berkontribusi besar terhadap menumpuknya sampah di Teluk Palu.
Aksi bersih pantai ini belum akan berhenti. Sampah masih banyak tersangkut di bagian dalam kawasan mangrove, di sela-sela akar yang rapat dan sulit dijangkau. Komunitas lingkungan berencana melanjutkan pembersihan secara bertahap, sembari mendorong upaya pencegahan agar Teluk Palu tak terus menjadi muara sampah lintas wilayah bahkan lintas negara.



