PALU, rindang.ID | Gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 menyisakan pelajaran penting tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana. Salah satunya, pengetahuan mengenai risiko bencana tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami, diwariskan, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Podcast Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API) Pokja PRB-API Lanskap Pasigala yang disiarkan melalui kanal YouTube On Air Fisip Untad, Selasa (27/10/2026).
Dalam diskusi itu, pegiat literasi Neni Muhidin dan Intan, perwakilan generasi Z sekaligus penyintas bencana Palu 2018, berbagi pandangan mengenai pengalaman menghadapi bencana, perubahan kesadaran masyarakat, serta tantangan membangun budaya siaga di Sulawesi Tengah.
Keduanya menyoroti pentingnya menghidupkan kembali pengetahuan kebencanaan yang selama ini belum sepenuhnya menjadi bagian dari percakapan keluarga, pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat.
Pengetahuan Bencana yang Tidak Terwariskan
Neni menilai, sebelum bencana 2018, masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala sebenarnya telah mengetahui bahwa wilayah mereka kerap mengalami gempa bumi. Namun, pengetahuan tersebut belum selalu disertai pemahaman mengenai tingkat risiko, potensi tsunami, dan karakteristik ancaman di lingkungan tempat tinggal mereka.
Padahal, sejarah mencatat sejumlah peristiwa gempa dan tsunami yang pernah terjadi di kawasan tersebut, termasuk gempa di wilayah Sigi pada 1907 dan 1909 serta gempa dan tsunami di Talise pada 1927.
Catatan sejarah dan penelitian ilmiah mengenai peristiwa-peristiwa itu belum sepenuhnya menjadi pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
“Salah satu penyebabnya adalah terputusnya pewarisan ingatan kolektif. Tradisi tutur perlahan kehilangan ruang, terutama di tengah perubahan kehidupan masyarakat perkotaan,” kata Neni.
Ia mengingatkan prinsip Latin scripta manent, verba volant, yang berarti tulisan tetap tinggal, sedangkan perkataan dapat berlalu. Dokumentasi tertulis menjadi penting agar pengalaman dan pengetahuan kebencanaan tidak hilang seiring pergantian generasi.
Di sisi lain, percakapan mengenai bencana juga belum selalu mendapat tempat di lingkungan keluarga. Sebagian masyarakat masih menganggap membicarakan potensi bencana sebagai sesuatu yang tabu atau pamali, bahkan dinilai seolah-olah dapat mengundang bencana.
Akibatnya, masyarakat dapat mengetahui bahwa gempa sering terjadi, tetapi belum memahami bagaimana ancaman tersebut dapat memengaruhi keselamatan mereka.
Gen Z Belajar dari Pengalaman Bencana
Bencana 28 September 2018 bagi Intan merupakan pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap keselamatan dan kesiapsiagaan.
Saat itu, ia masih berstatus pelajar dan berada di rumahnya di kawasan Karajalemba, Kota Palu. Ia mengingat suasana mencekam ketika gempa kuat mengguncang wilayah tersebut, listrik padam, jaringan komunikasi terputus, dan warga berhamburan keluar rumah untuk mencari tempat terbuka.
Pengalaman itu memperlihatkan betapa pentingnya pengetahuan tentang tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
Intan menilai, sebelum 2018, pendidikan kebencanaan bagi pelajar dan generasi muda masih minim, termasuk kenyataan bahwa Palu berada di kawasan yang dilalui Sesar Palu-Koro yang aktif.
“Setelah 2018 dan mengalami langsung bencana, baru saya sadar mengenai risiko bencana,” intan menceritakan.
Menurut Intan, pembicaraan mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan kini lebih mudah ditemukan dalam pergaulan anak muda dan komunitas. Informasi edukatif juga dibagikan melalui media sosial sebagai upaya saling mengingatkan.
Perubahan lainnya terlihat dalam respons terhadap gempa. Kesadaran untuk segera mencari tempat aman semakin penting, tanpa harus menunggu informasi mengenai magnitudo dari otoritas terkait.
Pemanfaatan teknologi, termasuk notifikasi informasi gempa dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), turut membantu masyarakat memperoleh informasi kebencanaan.
Namun, Intan menilai, perubahan kesadaran itu masih menghadapi tantangan, terutama dalam komunikasi antargenerasi.
Sebagian anak muda masih kesulitan menjelaskan risiko bencana kepada orang tua atau generasi yang lebih tua karena perbedaan pandangan mengenai pembicaraan tentang bencana. Di tengah situasi tersebut, beredarnya informasi keliru di media sosial juga menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, literasi kebencanaan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Solidaritas Warga dan Peran Komunitas
Pengalaman bencana 2018 tidak hanya meninggalkan ingatan tentang kehilangan dan kerusakan, tetapi juga memperlihatkan pentingnya solidaritas masyarakat.
Ia mencontohkan peran komunitas muda, seperti Rubalang, dalam pendampingan psikososial dan upaya memastikan keberlanjutan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak.
Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa kesiapsiagaan bukan semata-mata kemampuan menyelamatkan diri sendiri, melainkan juga kesediaan membantu orang lain ketika keadaan darurat terjadi.
Sementara itu, Neni menilai, upaya pengurangan risiko bencana perlu dibangun hingga tingkat desa dan kelurahan sebagai satuan terkecil masyarakat.
Pembentukan dan penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), misalnya, dapat menjadi ruang bagi warga untuk mengenali ancaman di wilayahnya, menyusun langkah kesiapsiagaan, dan memperkuat koordinasi ketika bencana terjadi.
Pendataan kelompok rentan, seperti lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas, juga perlu menjadi perhatian agar kebutuhan evakuasi dapat dipetakan dan diprioritaskan.
Selain itu, masyarakat perlu memahami pentingnya bangunan yang aman terhadap gempa. Pengetahuan tersebut harus diikuti penerapan standar konstruksi yang sesuai agar risiko korban akibat bangunan roboh dapat dikurangi.
“Masyarakat yang tangguh bukan sekadar masyarakat yang mengetahui wilayahnya rawan bencana, melainkan mereka yang memahami risiko dan mampu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan keselamatan,” kata Neni.
Masa Tenang Justru Menjadi Tantangan
Neni mengingatkan bahwa bencana harus dipahami sebagai sebuah siklus yang mencakup fase sebelum, saat, dan sesudah kejadian.
Masing-masing fase membutuhkan perhatian dan kesiapan yang berbeda. Namun, tantangan besar justru muncul pada masa sebelum bencana, ketika situasi relatif aman dan masyarakat mulai melupakan kemungkinan terjadinya bencana.
Dalam kondisi tersebut, perhatian terhadap mitigasi dapat melemah. Risiko diabaikan, tata ruang tidak diperhatikan, dan pembangunan terkadang tidak mempertimbangkan potensi ancaman di suatu wilayah.
Padahal, masa sebelum bencana merupakan kesempatan untuk menginvestasikan pengetahuan dan mengurangi risiko melalui pendidikan, perencanaan, serta pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Pendekatan edukasi juga perlu disesuaikan dengan kehidupan generasi muda agar informasi mengenai risiko dan mitigasi terasa dekat dengan keseharian mereka.
Merawat Ingatan untuk Generasi Mendatang
Menurut Intan, pekerjaan penting setelah bencana 2018 adalah memastikan pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai kenangan para penyintas.
Ia berharap pengalaman dan pembelajaran dari bencana itu terus didokumentasikan melalui tulisan, arsip museum, video, podcast, dan berbagai media lainnya yang dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang, terutama mereka yang tidak mengalami langsung peristiwa 2018.
Pelajaran dari 2018, dengan demikian, tidak cukup dirawat melalui peringatan tahunan. Pengetahuan tersebut perlu terus diwariskan dan dipraktikkan, mulai dari keluarga hingga komunitas, agar masyarakat tidak hanya mengingat bencana yang telah terjadi, tetapi juga lebih siap menghadapi risiko di masa depan.



