SIGI, rindang.ID | Daun-daun kering yang berserakan akibat kemarau panjang dan kotoran hewan tak selalu berakhir menjadi sampah. Di tangan pemuda Desa Beka, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, daun-daun itu justru berpotensi menjadi sumber kesuburan tanah sekaligus bagian dari upaya menjaga lingkungan.
Berangkat dari kepedulian terhadap perubahan iklim dan kondisi lingkungan sekitar, 15 pemuda Desa Beka mengikuti pelatihan pembuatan pupuk kompos yang diselenggarakan bersama Yayasan Sheep Indonesia, Sabtu (17/10/2026).
Pelatihan ini melibatkan sejumlah kelompok pemuda dan masyarakat, yakni OPL ADAT, LPA Ranjuri, kelompok petani, serta Karang Taruna Desa Beka. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memanfaatkan limbah organik yang tersedia di sekitar desa menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman.
Bahan yang digunakan cukup mudah ditemukan, mulai dari daun kering, daun hijau, kotoran hewan ternak, hingga batang pisang. Bahan-bahan yang selama ini kerap terbuang itu diolah menjadi kompos yang dapat digunakan untuk mendukung kesuburan tanah.
Fablu Aimar, salah seorang peserta pelatihan, menilai kegiatan tersebut sebagai langkah sederhana yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di tengah meningkatnya biaya pupuk kimia dan melimpahnya limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Pelatihan pembuatan pupuk kompos ini menurut saya adalah program kecil dengan dampak besar. Di tengah mahalnya pupuk kimia dan banyaknya sampah organik yang terbuang sia-sia di sekitar kita, pelatihan ini menjadi jawaban yang sangat tepat dan relevan untuk masyarakat Desa Beka dan kawasan Ranjuri,” ujarnya.
Menurut Fablu, pelatihan tersebut memberikan pemahaman bahwa bahan yang selama ini dianggap sampah sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari cara membuat kompos, tetapi juga memahami manfaatnya bagi kesuburan tanah, mengenali berbagai jenis bahan organik yang dapat diolah, serta mempelajari proses pembusukan atau dekomposisi.
Peserta kemudian mempraktikkan tahapan pembuatan kompos, mulai dari memilah dan mencacah bahan baku, seperti daun kering, daun hijau, dan kotoran ternak, hingga mencampurkannya dengan bahan pemicu penguraian atau bioaktivator.
Bioaktivator yang dapat digunakan antara lain EM4 dan tetes tebu atau molase. Setelah bahan tercampur, peserta belajar mengatur kelembapan dan menempatkannya dalam wadah komposter atau tumpukan kompos agar proses penguraian berlangsung dengan baik.
Proses tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Pendampingan berkala akan dilakukan hingga kompos mencapai tingkat kematangan yang sesuai, yang umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat minggu, bergantung pada kondisi bahan dan pengelolaannya.
Kompos yang dihasilkan dari tahap pertama rencananya akan diaplikasikan langsung pada tanaman di lahan percontohan atau demonstration plot (demplot) Hutan Ranjuri.
Pemanfaatan kompos di kawasan tersebut diharapkan menjadi contoh bahwa pengelolaan limbah organik dapat berjalan seiring dengan upaya pemulihan dan perlindungan lingkungan.
Keterlibatan OPL ADAT dan LPA Ranjuri, yang bergerak dalam pelestarian alam dan lingkungan, bersama kelompok petani serta Karang Taruna menjadi modal sosial untuk mengembangkan inisiatif tersebut secara berkelanjutan.
Ke depan, kelompok dampingan diharapkan mampu mengolah limbah peternakan dan pertanian secara mandiri menjadi produk yang bernilai guna dan ekonomi.
Upaya ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar desa, dan membangun praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.



