SIGI, rindang.ID | Bagi sebagian pemuda, menetap di desa mungkin bukan pilihan yang mudah. Namun, bagi Tino, desa justru memberinya alasan untuk bertahan sekaligus melakukan sesuatu yang berarti bagi lingkungan tempat ia tumbuh.
Kamis pagi (15/10/2026), udara dingin masih menyelimuti Desa Langko, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kabut membungkus kawasan yang berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut itu. Di sekelilingnya, bentang alam Taman Nasional Lore Lindu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pukul 06.30 Wita, Tino meninggalkan rumah dengan membawa sekantong pelet. Bukan untuk bekal dirinya, melainkan makanan bagi ikan-ikan kecil yang dipeliharanya di sebuah laboratorium mini yang ia bangun sekitar empat bulan lalu.
Bangunan berukuran sekitar 3 × 3 meter persegi itu sederhana. Dindingnya terbuat dari tripleks. Di dalamnya, sejumlah akuarium berjajar menampung ikan-ikan endemik Danau Lindu yang kini menjadi perhatian pemuda berusia 28 tahun tersebut.
“Ini jenis Oryzias boneorum, kalau yang ini Oryzias sarasinorum. Dua-duanya endemik Danau Lindu,” kata Tino sambil menaburkan pelet ke dalam akuarium.
Di balik bangunan sederhana itu, tersimpan harapan besar: menjaga agar ikan-ikan yang hanya ditemukan di kawasan Danau Lindu tersebut tidak hilang dari habitat aslinya.
Tino memilih memelihara kedua jenis ikan tersebut bukan sekadar untuk memperkenalkannya kepada masyarakat. Ia juga ingin berkontribusi dalam upaya penyelamatan spesies yang menghadapi ancaman kepunahan.

Laboratorium mini itu jadi tempatnya mengembangkan konservasi ex situ, yakni pemeliharaan organisme di luar habitat alaminya dalam lingkungan yang terkontrol.
Ikan-ikan itu adalah hasil survei populasi berkala yang dilakukannya bersama beberapa pemuda lain. Wilayah survei bahkan sampai kawasan muara danau.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Oryzias boneorum telah berhasil bertelur dan menetas di laboratorium mini. Sementara itu, Oryzias sarasinorum masih dalam tahap pemeliharaan dan menunggu proses bertelur.
Bagi Tino, keberhasilan ikan bertelur dan menetas merupakan langkah awal yang penting. Namun, pekerjaan belum selesai. Ikan-ikan tersebut perlu dipelihara dengan baik agar dapat tumbuh dan berkembang sebelum upaya pemulihan populasi di alam dilakukan.
Tino yang bernama lengkap Agustino sendiri adalah lulusan Universitas Tadulako yang mengambil konsen studi perikanan. Sebelum memutuskan mendirikan laboratorium di desanya, beberapa observasi perairan dan penelitian spesies pernah diikutinya.
“Nantinya ikan-ikan yang baru lahir ini akan dilepas ke Danau Lindu, habitat aslinya,” kata Tino.
Mengembalikan ikan hasil pembiakan ke habitat aslinya di Danau Lindu merupakan bagian program pelepasliaran atau restocking. Pelaksanaannya tentu memerlukan kajian dan persiapan agar ikan yang dilepas memiliki peluang bertahan hidup serta tidak menimbulkan risiko bagi populasi di alam.
Ancaman kepunahan kedua spesies tersebut menjadi alasan penting bagi upaya konservasi ini.

Informasi status konservasi yang disusun IUCN menempatkan Oryzias boneorum berstatus Endangered atau terancam, sedangkan Oryzias sarasinorum berstatus Critically Endangered atau kritis.
Status itu menegaskan bahwa perlindungan habitat dan kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem Danau Lindu juga menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.
Dari Laboratorium Mini ke Kesadaran Warga
Bagi Tino, laboratorium mini tidak hanya menjadi tempat memelihara dan mengembangbiakkan ikan. Ia ingin menjadikannya ruang belajar bagi masyarakat, terutama anak-anak sekolah di sekitar Danau Lindu.
Melalui fasilitas sederhana tersebut, warga dapat mengenal lebih dekat ikan endemik yang hidup di lingkungan mereka. Anak-anak juga berkesempatan memahami bahwa kekayaan alam di sekitar tempat tinggal mereka menyimpan spesies yang perlu dijaga keberadaannya.
Pengenalan itu penting agar ikan-ikan endemik tidak sekadar dipandang sebagai bagian biasa dari ekosistem danau, tetapi juga sebagai kekayaan hayati yang memiliki nilai ekologis dan perlu dilindungi. Kesadaran yang diakui Tino mulai tumbuh di kalangan warga.
“Sebenarnya ikan-ikan ini sudah dikenal warga. Tapi setelah lab ini ada, warga, khususnya anak-anak mulai sering datang dan paham bahwa ini kekayaan Danau Lindu yang unik,” cerita Tino.
Dukungan ini menjadi modal penting untuk memperluas upaya konservasi, dari kegiatan pemeliharaan ikan menuju gerakan perlindungan yang melibatkan warga.
Tino berharap, kesadaran tersebut dapat berkembang menjadi langkah bersama untuk menjaga keberadaan ikan endemik Danau Lindu.
Salah satu gagasan yang ingin didorong adalah sosialisasi dan penyusunan peraturan desa tentang perlindungan ikan endemik. Dengan adanya aturan yang disepakati bersama, upaya pelestarian diharapkan tidak hanya bergantung pada inisiatif perorangan, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif masyarakat.
Menjaga yang Tersisa
Selama ini Danau Lindu memang sudah sohor sebagai objek wisata. Tapi pengetahuan tentang ekosistemnya yang juga menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna, termasuk ikan-ikan endemik, belum banyak dikenal. Padahal keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kelestarian habitat setempat.

Langkah Tino mungkin tampak sederhana. Ia merawat ikan di dalam akuarium, memberi makan setiap pagi, dan menunggu proses perkembangbiakan berlangsung.
Namun, dari ruang kecil berdinding tripleks itu, ia sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tempat pemeliharaan ikan, yakni harapan agar generasi berikutnya masih dapat mengenal dan menyaksikan keberadaan ikan endemik Danau Lindu.



