Salah satu rumah penjemuran kopi di Desa Dombu, Kecamatan Marawola Barat, Sigi. (Foto: rindang.ID)

Saat Kemarau Menguji Potensi Kopi Arabika Marawola Barat

SIGI, rindang.ID | Musim kemarau tak hanya membuat tanah mengering di kebun-kebun kopi Marawola Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Pada tanaman, perubahan kondisi musim itu terlihat dari berkurangnya buah dan menurunnya hasil panen petani.

Velin Pela (44 th) atau Papa Tias biasa dia disapa, adalah salah satu petani kopi arabika di Desa Dombu, Kecamatan Marawola Barat, Sigi yang mengeluhkan perubahan produktivitas kebunnya di tengah musim kemarau panjang. Dia punya sekitar tiga hektare kebun kopi.

“Dalam kondisi normal hasil panen bisa mencapai sekitar 300 kilogram, tapi tahun ini produksi hanya sekitar 150 kilogram,” kata Velin, Rabu (30/9/2026).

Keluhan Velin memang berdasar. Arabika umumnya tumbuh baik pada suhu yang relatif sejuk. Ketika suhu meningkat, tanaman mengalami tekanan panas, terutama jika berlangsung bersamaan dengan kekeringan. Fotosintesis dapat terganggu dan tanaman mengurangi aktivitas pertumbuhannya.

Marawola Barat sendiri selama ini memang cocok bagi tumbuhnya arabika lantaran berada di ketinggian sekitar 1300 MDPL dengan suhu relatif rendah.

Kemarau tahun ini membuat siklus panen berubah. Velin menceritakan, tanaman kopi yang biasanya dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun, tahun ini baru menghasilkan satu kali panen.

Velin Pela, salah satu petani kopi di Desa Dombu, Sigi. (Foto: Rahman)

Bagi perkebunan kopi yang menggantungkan produksinya pada kondisi alam, perubahan ketersediaan air dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, pembentukan buah, hingga waktu panen.

Kondisi itu menjadi tantangan bagi Marawola Barat yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kopi arabika di Kabupaten Sigi.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Dombu, Rahman, mengatakan hampir seluruh dari 12 desa di Kecamatan Marawola Barat menanam kopi. Namun, Lewara, Dombu dan Soi menjadi tiga desa yang selama ini paling dikenal sebagai sentra kopi.

“Ada sekitar 300 hektare lahan kopi arabika dan robusta di sana. Pascapanen sudah dilakukan cukup baik. Panen merah bisa sampai Rp12 ribu per kilogram, dan green bean pernah sampai Rp100 ribu,” kata Rahman.

Komoditas ini telah menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan melalui peningkatan kualitas dan pengolahan pascapanen.

Camat Marawola Barat, Ben, menyebut terdapat sekitar 200 ribu pohon kopi arabika di tiga desa utama penghasil kopi tersebut.

“Di Desa Lewara saja, sekitar 20 ribu bibit baru telah ditanam,” kata Ben.

Namun, penambahan populasi tanaman menghadapi tantangan yang berbeda ketika musim kemarau menjadi semakin berat bagi tanaman.

Pengalaman petani di Dombu, Marawola Barat, berlangsung ketika sebagian wilayah Sulawesi Tengah menghadapi kecenderungan musim yang lebih kering.

Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri mencatat, tren defisit hujan telah menguat bahkan sejak Juni 2026. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor pertanian ketika ketersediaan air semakin terbatas.

Kekeringan juga menjadi salah satu risiko yang disebut dalam prediksi tersebut, bersama potensi penurunan hasil pertanian dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Pengalaman musim kemarau tahun ini memberikan catatan penting bahwa produksi kopi sangat bergantung pada kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh. Dan di Marawola Barat, persoalannya terasa dalam bentuk buah yang lebih sedikit dan panen yang berkurang.

Lalu, tantangan lebih besar muncul. Bagaimana memastikan kopi tetap menjadi sumber penghidupan ketika musim tidak lagi mudah diprediksi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top