Di atas panggung yang dihiasi proyeksi bumi yang berputar, ratusan anak berdiri tegak. Mereka tidak menangis. Mereka tidak memohon. Mereka menuntut—dengan suara yang jernih, dengan mata yang tajam, dengan tekad yang tak tergoyahkan.
JAKARTA, rindang.ID | Suara angklung bergema lembut di antara gedung-gedung tinggi ibu kota. Di Purwacaraka Music Studio, lebih dari seribu orang berkumpul—anak-anak, orang tua, pembuat kebijakan, aktivis. Mereka datang untuk satu hal: mendengar suara yang selama ini terlalu sering diabaikan.
Ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah deklarasi. Ini adalah teriakan generasi yang lahir ke dalam krisis—krisis yang bukan mereka ciptakan, namun mereka yang akan menanggung akibatnya paling berat.
“Aku, Kamu, Kita adalah Bumi,” begitu tajuk pertunjukan imersif yang digelar Save the Children Indonesia. Tiga kata sederhana yang mengandung pesan besar: bahwa krisis iklim bukan urusan masa depan. Ia adalah kenyataan hari ini. Dan anak-anak tidak lagi mau menunggu.
Lahir di Tengah Badai
Riset global Save the Children tahun 2025 berjudul Born Into the Climate Crisis 2 mengungkapkan fakta yang mengerikan: hampir semua anak yang lahir sejak 2020 akan mengalami lebih banyak gelombang panas, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan kegagalan panen dibandingkan generasi kakek-nenek mereka.
Ini bukan prediksi. Ini adalah realitas yang sedang terjadi.
Di Jakarta Timur, banjir datang berulang kali—merendam rumah, menginterupsi sekolah, memaksa keluarga kehilangan mata pencaharian. Setiap kali air surut, beban domestik bertambah. Dan siapa yang paling sering menanggungnya? Anak perempuan. Mereka yang harus memasak, mengambil air, mengasuh adik, membersihkan rumah pasca bencana.
Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, kekeringan bukan sekadar ketiadaan air. Ia adalah ancaman bagi keselamatan. Anak perempuan harus berjalan jauh—terlalu jauh—untuk mengambil air. Akses pada sanitasi aman hilang. Kesehatan reproduksi terganggu. Risiko kekerasan meningkat.
“Krisis iklim bukan isu masa depan, ini adalah krisis saat ini. Anak-anak merasakannya hari ini; rumah mereka terkena banjir, sekolah terganggu, kesehatan terancam,” kata Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia.
Dessy menegaskan: anak-anak tidak hanya ingin didengar. Mereka siap menjadi pelopor. “Kita sebagai orang dewasa punya tanggung jawab untuk memastikan suara mereka diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata.”
Beban Ganda Anak Perempuan
Riset Save the Children Indonesia tahun 2025 menunjukkan bahwa anak perempuan menanggung beban ganda akibat krisis iklim—baik di kota maupun di desa. Mereka tidak hanya menghadapi ancaman lingkungan, tetapi juga tekanan sosial yang mengakar.
Ketika bencana datang, mereka yang pertama kehilangan akses pendidikan. Mereka yang harus berhenti sekolah untuk membantu keluarga bertahan hidup. Mereka yang harus mengambil air, memasak, mengasuh, membersihkan—tugas-tugas yang melelahkan dan tak terlihat.
Namun, di tengah kerentanan berlapis itu, anak perempuan menunjukkan sesuatu yang luar biasa: kapasitas adaptasi yang kuat dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Mereka bukan korban pasif. Mereka adalah agen perubahan yang penting dalam ketahanan iklim.
Dan pertunjukan “Aku, Kamu, Kita adalah Bumi” adalah bukti nyata dari kekuatan itu.
“Jadilah Pahlawan untuk Bumi”
Di panggung, anak-anak berbicara dengan penuh percaya diri. Mereka membacakan puisi tentang bumi yang lelah. Mereka menari dengan kostum daur ulang. Mereka menyanyi dengan lirik yang menusuk: “Kami bukan masa depan, kami adalah sekarang.”
Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, hadir dan memberikan pesan langsung kepada anak-anak.
“Jadilah pahlawan untuk bumi dengan cara jadi detektif sampah, jangan biarkan sampah berceceran di jalan. Jadilah pasukan anti plastik, kurangi penggunaan plastik—setiap kali kita menolak plastik, kita menyelamatkan bumi kita. Jadilah penjaga air dengan berhemat dalam penggunaan air, setiap tetes air sangat berharga,” katanya.
Kata-katanya disambut tepuk tangan meriah. Tapi lebih dari itu, kata-katanya adalah pengakuan: bahwa anak-anak bukan sekadar objek perlindungan. Mereka adalah subjek perubahan.
Kampanye yang Dipimpin Anak
Kampanye Aksi Generasi Iklim adalah kampanye nasional Save the Children Indonesia yang telah berjalan sejak 2022. Uniknya, kampanye ini diinisiasi dan dipimpin oleh anak dan orang muda sendiri.
Tujuannya jelas: memastikan anak-anak serta keluarga yang paling terdampak krisis iklim dapat coping—mengatasi kesulitan dan beradaptasi. Lebih jauh lagi, kampanye ini ingin memperkuat kebijakan perubahan iklim di Indonesia agar lebih berpusat pada anak.
Arifah Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini.
“Anak mengisi sepertiga penduduk Indonesia. Tidak terbayangkan apabila seluruh anak di Indonesia memiliki literasi maupun melakukan aksi nyata yang memberikan dampak bagi bumi seperti para Child Campaigner Aksi Generasi Iklim ini,” katanya.
Ia menambahkan: “Di pundak mereka lah kepemimpinan bangsa ini akan dilanjutkan. Anak-anak adalah pewaris bumi di masa depan. Maka itu, penting untuk kita dapat terus berkolaborasi agar suara anak dan keterlibatan anak lebih bermakna.”
Seribu Suara, Satu Pesan
Acara “Aku, Kamu, Kita adalah Bumi” berkolaborasi dengan Purwacaraka Music Studio dan Saung Angklung Udjo. Lebih dari 1.000 orang hadir, termasuk ratusan anak yang menjadi penggerak utama acara ini. Ada 15 bazar eco-friendly yang menawarkan produk ramah lingkungan, serta pertunjukan imersif tentang bumi dan suara anak dalam tiga sesi.
Acara ini didukung oleh Lego Foundation, BSI Maslahat, Grab Indonesia, dan Gramedia—bukti bahwa gerakan ini bukan hanya milik satu organisasi, tetapi milik kita semua.
Suara yang Tidak Boleh Diabaikan
Ketika lampu panggung redup dan suara angklung perlahan menghilang, satu hal tetap bergema: suara anak-anak.
Mereka bukan korban yang pasif menunggu diselamatkan. Mereka adalah pelopor yang siap memimpin. Yang mereka butuhkan hanya satu hal: kita, orang dewasa, harus mendengarkan. Dan lebih penting lagi, kita harus bertindak.
Karena krisis iklim bukan soal masa depan. Ia adalah sekarang. Dan anak-anak sudah bergerak. Pertanyaannya: apakah kita akan berdiri bersama mereka?



