Ketika 400 bibit mangrove tertancap di garis pantai Desa Pomolulu, yang tumbuh bukan hanya akar pohon—tetapi juga harapan bahwa suara mereka akhirnya didengar
DONGGALA, rindang.ID | Jalan menuju Desa Pomolulu bukanlah perjalanan yang mudah. Jalanan berlubang yang kadang sulit dilalui menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga yang ingin keluar masuk desa. Untuk anak-anak yang ingin sekolah, untuk petani yang ingin menjual hasil panen, untuk ibu hamil yang butuh ke puskesmas—jalan ini adalah kerikil yang tak kunjung diperbaiki. Gotong royong warga selalu menjadi solusi sementara.
Namun, bukan hanya jalan yang kurang baik. Di sekitar desa, hutan mulai gundul. Aktivitas eksploitasi sumber daya alam berlangsung tanpa henti, seolah tak ada yang peduli pada masa depan lingkungan—atau masa depan warga yang hidup di sana.
Di tengah situasi itulah, pada Jumat hingga Minggu (21-23/11/2025), Yayasan Matahari Bangsa datang membawa harapan baru: 400 bibit mangrove dan sesi konsultasi hukum gratis.
Mangrove sebagai Benteng Terakhir
Pantai Pomolulu pagi itu ramai. Puluhan warga—tua, muda, bahkan anak-anak—berkumpul dengan cangkul dan bibit mangrove di tangan. Mereka tahu, penanaman ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah upaya konkret untuk melindungi desa mereka dari abrasi, badai, dan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
Ahmad, salah satu warga yang ikut menanam, mengatakan ia sudah lama melihat garis pantai desa mereka semakin terkikis. “Dulu pantai ini lebih luas. Sekarang makin lama makin sempit. Kalau tidak kita jaga, nanti rumah-rumah kita yang kena,” katanya sambil menancapkan bibit mangrove ke lumpur.
Kehadiran mangrove bukan hanya soal lingkungan. Ia juga soal ekonomi. Ekosistem mangrove yang sehat akan menarik ikan, kepiting, dan udang—sumber penghidupan utama warga pesisir. Tanpa mangrove, laut akan sepi. Dan tanpa laut yang produktif, warga Pomolulu akan kehilangan mata pencaharian mereka.
Konsultasi Hukum: Ruang untuk Bersuara
Sementara sebagian warga sibuk menanam mangrove, sebagian lain berkumpul di balai desa untuk konsultasi hukum gratis. Di sini, mereka berbicara tentang hal-hal yang selama ini mengganjal: masalah tanah yang tidak jelas statusnya, bantuan sosial yang tidak kunjung sampai, perusahaan yang beroperasi tanpa memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.
Natsir Said, salah satu pendiri Yayasan Matahari Bangsa, mendengarkan dengan seksama setiap keluhan yang disampaikan. Ia tahu, masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Tapi yang penting adalah membuka ruang dialog—membuat warga sadar bahwa mereka punya hak untuk berbicara, untuk menuntut, untuk dilindungi oleh hukum.
“Aktivitas eksploitasi sumber daya alam sudah sangat masif, bahkan sampai ke pelosok desa. Dibutuhkan kesadaran kolektif masyarakat dalam upaya menjaga lingkungan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan perusahaan. “Jangan hanya mengambil, tapi juga bertanggung jawab. Jalan rusak, lingkungan rusak, masyarakat dirugikan—ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus.”
Jalan yang Rusak, Harapan yang Belum Padam
Salah satu aspirasi yang paling sering muncul dalam konsultasi adalah soal jalan. Warga berharap, pemerintah dan perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka bisa bekerja sama memperbaiki akses jalan yang sudah lama rusak.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya mau jalan yang layak, agar anak-anak bisa sekolah dengan aman, agar kami bisa bawa hasil panen ke pasar tanpa takut jatuh di lubang,” kata seorang ibu yang hadir dalam konsultasi.
Ahmad menambahkan, “Kedatangan Yayasan Matahari Bangsa menjadi awal yang baik untuk bekerja sama dalam penyelesaian masalah-masalah di desa ini. Kami berharap yayasan ini bisa terus menjadi partner dalam membangun Desa Pomolulu.”
Harapan yang Ditanam Bersama Mangrove
Ketika matahari mulai terbenam di hari terakhir kegiatan, 400 bibit mangrove telah berdiri di sepanjang pantai Pomolulu. Akar-akarnya masih kecil, masih rapuh. Tapi dengan perawatan yang baik, dalam beberapa tahun mereka akan tumbuh menjadi benteng alami yang melindungi desa dari gelombang dan badai.
Jasrin, direktur Yayasan Matahari Bangsa, mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah menyambut hangat kedatangan mereka. Ia berjanji, ini bukan kunjungan terakhir.
“Kami berharap hubungan ini dapat terus berlanjut sampai ke tahap-tahap yang lebih konkret dalam menjembatani pemenuhan hak-hak dasar masyarakat melalui program-program yang akan datang,” katanya.
Bagi warga Pomolulu, mangrove yang ditanam bukan hanya pohon. Ia adalah simbol harapan—bahwa perubahan itu mungkin, bahwa suara mereka bisa didengar, bahwa masa depan yang lebih baik bisa dibangun bersama-sama.
Dan harapan itu, seperti mangrove, harus terus dijaga agar tetap tumbuh.



