POSO, rindang.ID | Di sepanjang pesisir Desa Tambarana, warna air laut tak lagi biru jernih. Sejak setahun terakhir, permukaannya berubah menjadi coklat keruh. Sungai yang bermuara di pantai desa membawa serta jejak tambang emas ilegal di hulu, menjadikan laut tercemar dan kehidupan nelayan berubah drastis.
Setiap pagi, Rahman (nama samara), seorang nelayan berusia 46 tahun, membawa perahunya lebih jauh ke tengah laut. Dulu, hanya butuh beberapa jam untuk menangkap hingga 50 kilogram ikan. Kini, setelah seharian penuh di laut, ia pulang dengan hasil tak lebih dari 5 kilogram.
“Dulu kami tinggal lempar jaring tak jauh dari pantai, sudah cukup buat makan dan dijual. Sekarang airnya keruh, ikannya pergi,” katanya lirih.
Tambang emas ilegal yang mulai beroperasi dua tahun terakhir ini telah mengubah lanskap kehidupan desa. Tidak hanya laut yang tercemar, tetapi juga hubungan sosial masyarakat. Sebagian warga desa terlibat langsung dalam aktivitas tambang, menciptakan dilema bagi pemerintah desa dalam menangani keluhan nelayan dan warga lainnya.
“Kami sudah sampaikan ke aparat desa, tapi mereka serba salah. Tidak mudah menindak jika pelakunya adalah warga sendiri,” ujar seorang warga yang tak ingin disebutkan namanya.
Di tengah kondisi ini, para nelayan hanya bisa bertahan. Mereka berharap akan ada solusi dari pihak berwenang, sebelum laut benar-benar kehilangan kehidupan.
“Kalau dibiarkan, anak cucu kami nanti tidak akan tahu rasanya hidup dari laut,” kata Rahman, menatap cakrawala yang tak lagi memantulkan warna langit. (bmz)











