SIGI, rindang.ID | Sebagai desa adat yang terikat dengan hutan dan alam, pengetahuan kearifan lokal tentang menjaga hutan di Desa Toro terus diwariskan ke anak-anak desa di Kabupaten Sigi tersebut.
Siang itu Kamis (16/5/2024) belasan anak usia sekolah dasar berkumpul di ujung dusun 1, Desa Ngata Toro, Kecamatan Kulawi, Kabapaten Sigi.
Setelah beberapa kawan yang ditunggu tiba, anak-anak itu berlarian, kejar-kejaran, tak sabar ingin sampai tujuan; Sekolah Alam Ngata Toro.
Jarak antara ujung Dusun 1 dengan sekolah alternatif yang berada di tengah hutan itu sekitar 1,5 kilometer, melewati perkebunan dan dua jembatan darurat yang dibangun mandiri oleh warga.
“Tiga kali dalam sepekan kami ke sini belajar adat menjaga hutan, air, dan aturan memakai sumber daya alam,” kata Santi (12 th).
Hari itu Santi dan kawan-kawannya belajar tentang penamaan kawasan hutan dan pemanfaatannya untuk masyarakat adat desa mereka.
Torompupu, wana ngtiti, pangale, pahawa pongko, oma ntua, oman ngura, oma nete, oma ngkuku, balingkea, pampa, dan pongataa jadi istilah adat tentang pembagian kawasan hutan yang mereka pelajari.
Istilah-istilah itu meliputi kawasan hutan yang tidak boleh diolah masyarakat, hutan primer habitat hewan dan tumbuhan langka serta tangkapan air, kawasan perkebunan, hingga kawasan perkebunan terbatas yang diatur ketat oleh adat.
Said Tolao, pendiri Sekolah Alam Ngata Toro bilang dari sekolah itulah kelestarian dan masa depan hutan di Ngata (desa) Toro tetap terjaga.
“Masa depan Ngata Toro dan warganya bergantung dari kelestarian alam. Karenanya rasa memiliki dan menjaga harus dibangun sejak dini,” kata Said.
Said mengaku dirinyalah yang kerap memberi pembelajaran kepada anak-anak. Pengalamannya selama lebih dari 20 tahun sebagai mitra Balai TN Lore Lindu sebagai penjaga hutan di Toro banyak dibagikan ke anak-anak.
Tahun 2018 lalu Sekolah Alam Ngata Toro mendapat pengakuan dari KLHK atas kontribusinya mendidik anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan.
Desa Adat Ngata Toro sendiri adalah desa penyangga Taman Nasional Lore Lindu yang dikelilingi hutan lindung cagar biosfer yang menjadi salah satu kawasan paru-paru dunia.
Dalam kawasan adat seluas 23.704, Komunitas Toro memiliki pranata sosial-budaya yang kuat dan sejarah panjang dalam menjaga keseimbangan ekologis. Pengelolaan sumber daya alam mereka didasarkan pada sistem sosial-budaya tradisional dan kearifan lokal.
Dua nilai utama dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis hukum adat Toro adalah hintuwu (hubungan manusia dengan manusia) dan katuwua (hubungan manusia dengan alam) yang memastikan pemanfaatan hutan dilakukan secara berkelanjutan yakni dengan menjaga zona kawasan hutan.
Zonasi hutan itu di antaranya yakni zona Wana, zona hutan primer yang merupakan sumber tangkapan air. Warga dilarang membuka lahan pertanian di zona ini dan pemanfaatannya terbatas untuk kegiatan berburu dan mengambil getah damar, obat-obatan, serta rotan. Seluruh sumber daya alam di zona ini dikuasai secara kolektif.
Zona Pangale yakni zona hutan semiprimer yang merupakan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama puluhan tahun sehingga kembali menjadi hutan. Zona ini biasanya disiapkan dalam jangka panjang untuk dikembangkan menjadi lahan kebun dan persawahan. 
Lalu ada Zona Pahawa Pongko, zona campuran hutan semi-primer dan sekunder, yang merupakan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama 25 tahun. Pepohonan di zona ini biasanya berukuran besar. Jika terpaksa harus menebang pohon di zona ini, batang bawah atau tunggak harus disisakan untuk memungkinkan pohon tersebut bertunas kembali atau menjadi pengganti dari dahan yang telah ditebang.
Istilah pahawa berarti pengganti. Zona pahawa pongko umumnya tidak mengenal hak kepemilikan pribadi kecuali pohon damar.
Anak-anak dan Mitigasi Ancaman Perubahan Iklim
Rukmini Toheke, tokoh perempuan adat Ngata Toro atau Tina Ngata mengakui kini tantangan semakin besar dalam menjaga hutan Ngata Toro. Ketidaktahuan kearifan lokal membuat lembaga adat setempat kerap harus bersidang menghadapi kasus-kasus alih fungsi lahan kawasan adat.
Salah satu kasus itu yakni penjualan 20 hektare tanah kepada pihak di luar desa Toro pada awal 2024, hal yang terlarang di desa adat itu. Kasus itu akhirnya berakhir dengan pemilik membatalkan jual beli setelah diberitahukan aturan dan kearifan lokal setempat.
“Dari kasus ini terlihat ancaman jika pengetahuan lokal tidak diwariskan ke anak-anak,” kata Rukmini.
Selain Sekolah Alam, kearifan lokal menjaga hutan ala Ngata Toro juga diajarkan melalui Sekolah adat yang didirikan Rukmini.
Antusiasme anak-anak Toro belajar mengelola hutan dengan arif tidak hanya menggambarkan masa depan hutan Ngata Toro yang lestari, namun juga sebuah pilihan yang menegaskan hutan yang terjaga juga akan menjaga hidup di masa-masa akan datang.
Girah anak-anak Ngata Toro belajar menjaga hutan dan lingkungan itu disebut juga berkontribusi pada upaya mencegah dampak perubahan iklim yang makin nyata di Sulawesi Tengah. Terlebih Ngata Toro berada di pegunungan yang menyangga dan melindungi wilayah-wilayah di bawahnya, termasuk Kota Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.
Di Sulawesi Tengah sendiri peningkatan kesadaran terhadap krisis iklim menjadi kebutuhan lantaran data dan fakta yang menunjukan telah terjadinya hal tersebut.
“Salah satunya suhu di Kota Palu yang makin “merah” dengan kenaikan 1,1 derajat dari anomali rata-ratanya. Suhu di Kota Palu juga telah mencapai rekor 39,7 derajat dan diproyeksikan terus meningkat,” kata Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi.
Perubahan pola dan intensitas hujan juga disebut telah terjadi di Sulawesi Tengah yang merupakan tanda krisis iklim.
Kata Asep dengan menjaga kawasan hutan dan vegetasi di wilayah atas hujan disimpan dalam akar dalam tanah dan dilepaskan secara gradual atau tidak sporadis menjadi limpasan air tanah, dan mengalir melalui anak anak sungai dan kembali ke lautan.
Proyeksi BMKG menyebut dampak dari perubahan iklim di Kota Palu dan sekitarnya termasuk Sigi adalah naiknya suhu permukaan dan makin seringnya frekuensi kejadian cuaca ekstrim dengan curah hujan diatas 150 mm/hari.
“Di masa yang akan datang, kontur daerah dataran rendah seperti Kota Palu sangat berpotensi bencana alam banjir bandang akibat limpasan air tanah yang tidak tertahan jika tutupan vegetasi hutan di daerah ketinggian yang menyangganya rusak,” Asep mengingatkan.
Hingga kini sekolah adat dan sekolah alam masih menjadi rumah belajar anak-anak Ngata Toro, masih menjadi tempat mereka bernyanyi lantang.
“Kalau ku besar aku butuh hutan. Jangan tebang, jangan rusak.. jaga pohon, hutan ku hijau jernih airnya. Lore Lindu aku cinta Lore Lindu, Lore Lindu aku bangga lestarikanmu..,” begitu penggalan lirik nyanyian anak Sekolah Alam Ngata Toro.



