PARIGI MOUTONG, rindang.ID | Selain kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kabupaten Parigi Moutong juga menghadapi dampak serius akibat kekeringan yang berkepanjangan. Kondisi tersebut memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah, seiring minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Parigi Moutong berstatus Waspada Kekeringan Meteorologis pada periode 1 hingga 10 Februari 2026. Status tersebut ditetapkan berdasarkan pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) pada dasarian sebelumnya oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri.
Hasil pengamatan menunjukkan, wilayah sekitar Parigi Moutong telah mengalami lebih dari 20 hari tanpa hujan. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya ketersediaan sumber air di tingkat masyarakat.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Jonokalora, Kecamatan Parigi Barat. Kekeringan di desa tersebut terjadi sejak awal Januari 2026. Minimnya curah hujan menyebabkan sejumlah sumber air masyarakat, termasuk Sungai Jonokalora, mengalami penyusutan debit hingga mengering. Akibatnya, ketersediaan air bersih bagi warga semakin terbatas.
“Sebanyak 421 kepala keluarga atau 1.329 jiwa terdampak krisis air bersih akibat kekeringan tersebut,” kata Kepala BPBD Sulteng, Asbudianto.
Sebagai langkah penanganan, BPBD telah melakukan asesmen di lokasi terdampak, berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Parigi Moutong, serta menyalurkan bantuan air bersih.
Satu unit mobil tangki air milik Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah dan satu unit trailer air bersih BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah dikerahkan untuk mendistribusikan air kepada warga. Selain itu, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah juga melakukan survei dan pemetaan di area terdampak.
Meski demikian, kebutuhan mendesak di lapangan masih cukup besar, terutama untuk distribusi air bersih secara rutin, pengiriman air menggunakan mobil tangki, penyediaan tandon atau penampungan air sementara, serta pembangunan sumur bor.
Hingga saat ini, krisis air bersih di wilayah tersebut masih berlangsung. Sejumlah warga terpaksa mengambil pasokan air dari desa-desa sekitar, seperti Desa Lebo, Baliara, dan Parigimpu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.



