SIGI, rindang.ID | Program Cetak Sawah Baru di Desa Langko, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi terbengkalai. Tiga unit ekskavator masih tertanam dalam kubangan lumpur di Dusun Wongkodono yang jadi bagian Wilayah Adat To Lindu.
Hingga Rabu (14/10/2026), Alat berat itu masih belum dievakuasi dari lokasi dan menjadi penanda mangkraknya program cetak sawah baru yang semula direncanakan mengubah sekitar 200 hektare lahan di wilayah adat Lindu di dusun tersebut menjadi persawahan.
Program yang merupakan bagian dari agenda nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan produksi pangan tersebut kini terbengkalai. Sejak sekitar Maret 2026, aktivitas pembukaan lahan di lokasi itu tidak lagi berlangsung. Pekerjaan yang tersisa lebih banyak berupa upaya mengevakuasi alat berat yang terjebak di kawasan rawa.
Program cetak sawah baru di Kecamatan Lindu mencakup empat desa, yakni Langko, Tomado, Anca, dan Olu.
Veri Kristianto, Ketua Pemuda Adat Lindu, menceritakan, pembukaan jalan menuju lokasi cetak sawah baru di Dusun Wongkodono dimulai pada September 2025, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan lahan pada Oktober 2025. Dari sekitar 200 hektare lahan yang direncanakan untuk sawah, sekitar 100 hektare telah dibuka.
Ritual adat dengan menyembelih seekor kerbau jantan digelar sebelum pekerjaan dimulai. Setelah itu, pembukaan lahan dilakukan menggunakan alat berat.
Dalam zonasi wilayah adat Lindu, lahan yang menjadi lokasi program tersebut merupakan kawasan Suaka Lambara atau wilayah penggembalaan.
Menurut Veri, kondisi lahan tidak seluruhnya sesuai untuk dikembangkan menjadi persawahan. Ada bagian yang memungkinkan untuk dijadikan sawah, tetapi ada pula bagian yang kondisi fisiknya tidak mendukung.
“Tidak semua lokasi cocok untuk pertanian. Ada yang bisa, tetapi ada juga yang tidak. Kedalaman rawa di sini berbeda-beda,” ujarnya di lokasi cetak sawah baru, Dusun Wongkodono, Desa Langko, Rabu (14/10/2026.
Jika program tersebut selesai, kata Veri, lahan rencananya dibagikan kepada masyarakat melalui kelompok tani. Setiap orang diperkirakan memperoleh sekitar satu hektare.
Namun, terhentinya pekerjaan membuat rencana itu belum terwujud.
Menanggapi ittu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Afit Lamakarate, menjelaskan pekerjaan cetak sawah di Langko dilaksanakan melalui skema swakelola bersama TNI.
“Kontrak pekerjaan berakhir pada 30 Maret 2026 sehingga TNI tidak lagi dapat melanjutkan pengerjaan,” Afit menerangkan, Sabtu (17/10/2026).
Luasan 200 hektare untuk program tersebut di Dusun Wongkodono dijelaskannya telah melalui Survei, Inveatigasi, dan Desain (SID) yang melibatkan Universitas Hasanuddin dan menyatakan lokasi tersebut layak untuk dikembangkan menjadi sawah.
Afit mengakui, kondisi lahan menjadi salah satu kendala utama pelaksanaan program. Kawasan tersebut merupakan lahan rawa dengan kedalaman genangan lebih dari satu meter, melampaui ketentuan dalam petunjuk teknis. Kondisi itu menyulitkan alat berat untuk bekerja.
Selain kondisi lahan, akses menuju lokasi juga menjadi kendala karena membutuhkan waktu dan pekerjaan tambahan untuk membuka jalan.
Pemerintah Kabupaten Sigi, kata dia, telah menyurati Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian serta Balai Lahan dan Irigasi Pertanian di Makassar untuk meminta kelanjutan pekerjaan. Sebab, pembiayaan program tersebut bersumber dari pemerintah pusat.
Pembayaran kepada TNI pada pekerjaan tahun 2025, kata Afit, hanya dilakukan berdasarkan progres pekerjaan, bukan seluruh nilai anggaran.
“Kami berharap sisa anggaran dapat dimanfaatkan kembali untuk menyelesaikan pekerjaan di Langko. Namun, keputusan mengenai kelanjutan program berada di tangan kementerian,” kata Afit.
Sementara itu, Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, mengatakan pemerintah daerah sedang mengevaluasi aspek teknis dan mencari solusi agar lahan cetak sawah di Langko dapat berfungsi.
Ia menjelaskan, pembangunan sawah membutuhkan proses teknis, terutama dalam menyiapkan sistem pengairan.
Samuel menyebutkan, pengerjaan berikutnya perlu menggunakan alat berat khusus untuk medan rawa, seperti yang digunakan dalam pengembangan sawah di Merauke.
“Metode pengerjaan juga perlu diubah dengan membuat saluran pengeringan terlebih dahulu sebelum proses pencetakan dan pengolahan lahan dilakukan,” Samuel mengatakan kepada rindang.ID, Senin (19/10/2026).
Program cetak sawah baru merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produksi beras dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Di Kecamatan Lindu, program ini mulai dikerjakan pada September 2025 dengan target awal sekitar 900 hektare di Desa Tomado, Langko, dan Olu.



