Neni Muhidin, pegiat literasi kebencanaan saat menjadi narasumber dalam podcast PRB-API Lanskap Pasigala. (Foto: Screenshoot youtube @On Air FISIP UNTAD)

Belajar dari Bencana Pasigala 2018, Mengapa Literasi Kebencanaan Penting?

PALU, rindang.ID | Gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala pada 28 September 2018 menjadi pengingat pentingnya literasi kebencanaan.

Pegiat literasi kebencanaan, Neni Muhidin, mengatakan, sebelum bencana 2018, pengetahuan masyarakat tentang gempa bumi umumnya masih sebatas pengalaman menghadapi guncangan.

Pemahaman mengenai karakteristik ancaman, sejarah bencana, hingga risiko yang melekat pada lingkungan tempat tinggal belum menjadi bagian dari kesadaran sehari-hari.

Hal itu disampaikan Neni dalam Podcast Kelompok Kerja Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (Pokja PRB-API) Lanskap Pasigala yang disiarkan melalui kanal YouTube On Air Fisip Untad, Selasa (27/10/2026).

Menurut Neni, masyarakat perlu bergerak dari sekadar mengetahui bahwa wilayahnya rawan bencana menuju pemahaman yang lebih mendalam mengenai risiko yang dihadapi.

Pengetahuan tentang keberadaan Sesar Palu-Koro, sejarah gempa dan tsunami, serta ancaman likuefaksi dan tsunami seharusnya menjadi bekal masyarakat dalam mengambil keputusan, termasuk menentukan lokasi dan membangun rumah.

“Literasi kebencanaan bukan sekadar membuat masyarakat tahu bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana, tetapi juga memahami risiko yang ada di sekitarnya,” menjadi inti pesan Neni dalam pembahasan tersebut.

Minimnya pemahaman risiko sebelum 2018 membuat masyarakat menghadapi situasi yang sulit ketika gempa, tsunami, dan likuefaksi terjadi dalam waktu berdekatan. Pengetahuan yang tidak memadai mengenai ancaman dan langkah penyelamatan membuat sebagian warga terkejut, panik, dan kesulitan menentukan tindakan yang harus dilakukan.

Persoalan lainnya adalah tidak terwariskannya ingatan kolektif mengenai bencana masa lalu. Catatan sejarah gempa dan tsunami, termasuk peristiwa yang pernah terjadi di kawasan Sulawesi Tengah, belum sepenuhnya menjadi pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.

Perubahan sosial, urbanisasi, dan berkurangnya tradisi bertutur di lingkungan keluarga turut memengaruhi keberlanjutan pengetahuan tersebut.

Padahal, menurut Neni, ingatan tentang bencana merupakan bagian penting dari kesiapsiagaan. Tanpa dokumentasi sejarah, pendidikan yang kontekstual, dan percakapan lintas generasi, pengalaman menghadapi bencana berisiko hilang seiring pergantian generasi.

Menghidupkan Percakapan tentang Bencana

Neni menilai, pemahaman berbasis sains juga perlu diperkuat agar masyarakat terbiasa membicarakan ancaman bencana tanpa rasa takut atau kekhawatiran yang tidak berdasar.

Edukasi tersebut dapat dimulai dari ruang keluarga. Percakapan sederhana di meja makan, misalnya, bisa menjadi kesempatan untuk membahas tindakan yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi, lokasi evakuasi, dan cara membantu anggota keluarga yang membutuhkan pertolongan.

Di tengah perkembangan teknologi digital yang menyita perhatian masyarakat, menghidupkan kembali komunikasi dalam keluarga menjadi semakin penting.

Literasi kebencanaan juga tidak harus selalu disampaikan melalui kegiatan formal pemerintah atau lembaga pendidikan.

“Komunitas seni, kelompok lingkungan, serta pegiat film, musik, dan seni rupa dapat terlibat menyampaikan pesan kebencanaan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat,” kata Neni.

Penyampaian informasi juga perlu dikemas secara kreatif dan relevan dengan keseharian generasi muda.

Podcast, video, film pendek, dan berbagai media digital dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah bencana, menjelaskan risiko di lingkungan tempat tinggal, serta membangun kebiasaan melakukan tindakan penyelamatan.

Pendekatan tersebut sekaligus dapat membantu menjaga ingatan kolektif agar pengalaman bencana tidak berhenti sebagai cerita dari generasi sebelumnya.

Kesiapsiagaan Dimulai Sebelum Bencana

Neni menekankan, pengurangan risiko bencana harus menjadi investasi pengetahuan yang dilakukan jauh sebelum bencana terjadi.

Bencana perlu dipahami sebagai siklus yang mencakup masa sebelum, saat, dan setelah kejadian. Karena itu, masa tenang seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat, menyiapkan sistem peringatan, menyusun rencana evakuasi, dan memastikan lingkungan lebih aman.

Di wilayah rawan gempa seperti Pasigala, pengetahuan tentang keselamatan bangunan menjadi penting. Masyarakat perlu memahami bahwa kualitas struktur bangunan dapat memengaruhi tingkat keselamatan penghuni ketika guncangan terjadi.

Dengan demikian, literasi kebencanaan tidak berhenti pada kemampuan mengenali ancaman, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat yang memahami risiko diharapkan mampu mengambil keputusan lebih cepat ketika terjadi guncangan, mencari tempat aman, mengikuti informasi resmi, dan memanfaatkan sarana peringatan dini yang tersedia.

Pengalaman bencana Pasigala pada 2018 semestinya menjadi momentum untuk membangun budaya tersebut.

Literasi kebencanaan perlu terus dirawat melalui pendidikan, percakapan keluarga, dokumentasi sejarah, kreativitas komunitas, serta kebijakan pembangunan yang memperhitungkan risiko.

Dengan begitu, pengetahuan tentang bencana tidak hanya muncul ketika gempa terjadi atau ketika peringatan dikeluarkan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top