SIGI, rindang.ID | Musim kering yang berlangsung berbulan-bulan mulai mengurangi ketersediaan air di sejumlah rumah warga Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Ketika sumber air di rumah mulai menyusut bahkan mengering, warga kembali menjadikan Mata Air Hutan Ranjuri sebagai tempat bergantung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mengambil air untuk dikonsumsi, mandi hingga mencuci pakaian.
Hutan Ranjuri dalam beberapa bulan terakhir kembali ramai didatangi warga. Menurut Koordinator Ranah Juang Lestari, Ahdiyat, kondisi saat ini mengingatkannya pada situasi sekitar 2018, ketika warga juga banyak bergantung pada mata air Ranjuri setelah gempa besar melanda Sulawesi Tengah.
Komunitas Ranah Juang Lestari (Ranjuri) sendiri adalah komunitas lokal yang selama ini terlibat dalam pemantauan dan pelestarian kawasan hutan tersebut.
“Memang sebelumnya warga sudah mengambil air di Hutan Ranjuri. Tapi tidak seramai beberapa bulan terakhir ini. Terakhir ramai seperti sekarang sekitar 2018 setelah gempa. Sekarang mulai ramai lagi karena sumber air di rumah-rumah warga mulai kering,” kata Ahdiyat.
Hampir setiap hari warga datang ke kawasan hutan untuk mengambil air, mandi, maupun mencuci pakaian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Hutan Ranjuri bukan hanya penting sebagai kawasan ekologis, tetapi juga menjadi penyangga kebutuhan dasar masyarakat ketika sumber air rumah tangga menghadapi tekanan musim kering.

Tujuh Mata Air untuk Warga
Hutan Ranjuri memiliki luas sekitar sembilan hektare. Di bawah tutupan vegetasi kawasan ini terdapat tujuh mata air yang selama bertahun-tahun menjadi sumber air masyarakat Desa Beka.
Pemerintah Desa Beka sebelumnya mencatat sekitar 278 kepala keluarga memanfaatkan sumber air dari kawasan Hutan Ranjuri untuk kebutuhan minum dan rumah tangga.
Air dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju bak penampungan sebelum diteruskan ke rumah-rumah warga. Sebagian sumber juga digunakan untuk fasilitas umum. Jumlah tersebut belum termasuk warga dari sejumlah wilayah dusun yang lebih terpencil.
Dengan jumlah penduduk Desa Beka sekitar 3.080 jiwa, keberadaan Hutan Ranjuri, terutama saat kemarau panjang, memiliki arti penting bagi ketahanan air masyarakat.
Ahdiyat mengatakan, hingga kini sebagian mata air di Ranjuri masih mengalir meskipun intensitas pemanfaatannya meningkat selama musim kemarau.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti kawasan itu sepenuhnya aman dari tekanan kekeringan.
“Debit air di Ranjuri sejauh ini masih ada. Tapi di beberapa titik sudah mulai berkurang. Bahkan ada yang sudah mulai kering dan tidak bisa dimanfaatkan secara langsung,” ujarnya.
Kondisi itu menjadi perhatian karena warga tidak hanya menggunakan mata air untuk kebutuhan mencuci atau mandi, tetapi juga untuk konsumsi.

Kemarau dan Tekanan Sumber Air
Kekeringan yang dirasakan warga Beka menjadi bagian dari kondisi musim yang lebih kering di Sulawesi Tengah sepanjang 2026. Kondisi yang lebih kering tersebut meningkatkan risiko kekurangan air bersih, selain berdampak terhadap pertanian, kebakaran hutan dan lahan, serta kesehatan masyarakat.
Dampak kekeringan juga telah terlihat pada sektor pertanian. Hingga 28 Agustus 2026 saja, BPBD Sulawesi Tengah mencatat sedikitnya 5.342,5 hektare sawah terdampak kekeringan.
Dalam konteks itu, keberadaan mata air yang tetap mengalir di kawasan hutan menjadi semakin penting.
Hutan Ranjuri memperlihatkan bagaimana kawasan hutan yang relatif kecil dapat memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih besar daripada luas wilayahnya.
Air Ranjuri Menghidupkan Usaha Warga
Kemarau yang menyulitkan sebagian warga ternyata juga membuka peluang bagi pelaku usaha air minum di Desa Beka.
Sejumlah warga yang mengambil air dari Hutan Ranjuri kemudian memasaknya sebelum dijual kepada masyarakat.
Permintaan meningkat seiring berkurangnya sumber air di rumah-rumah warga. Jika sebelumnya hanya mampu menjual sekitar dua hingga tiga galon air masak per hari, kini penjualannya dapat mencapai enam hingga tujuh galon sehari.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa mata air Ranjuri bukan hanya memenuhi kebutuhan domestik. Air dari kawasan hutan juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga ketika kemarau meningkatkan kebutuhan terhadap air bersih.



