Ilustrasi penan padi. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Bulog Sulteng Dorong Petani Jual Gabah, Apa Untungnya?

PALU, rindang.ID | Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tengah terus mendorong petani menjual hasil panen dalam bentuk gabah.

Langkah ini dinilai lebih menguntungkan bagi petani sekaligus mendukung upaya pemerintah memperkuat cadangan pangan nasional melalui penyediaan beras berkualitas.

Bulog menilai penjualan gabah memberikan sejumlah keuntungan bagi petani. Salah satunya adalah penghematan biaya pengolahan.

Jika hasil panen dijual dalam bentuk beras, petani harus mengeluarkan biaya penggilingan yang mencapai sekitar 10 persen dari hasil panen. Sementara itu, apabila dijual dalam bentuk gabah, biaya tersebut menjadi tanggung jawab Bulog melalui mitra penggilingan.

“Selain mengurangi biaya, petani juga tidak lagi direpotkan dengan rangkaian proses pascapanen seperti penjemuran hingga penggilingan. Gabah yang baru dipanen dapat langsung dijual dari sawah sehingga petani lebih cepat memperoleh pembayaran,” Pimwil Bulog Sulteng, Jusri, menjelaskan.

Bulog membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram untuk kondisi gabah yang masih berada di sawah. Meski terdapat biaya angkut dari sawah menuju lokasi penggilingan, proses pengangkutan umumnya dilakukan oleh pihak penggilingan sehingga semakin memudahkan petani.

Kebijakan pembelian gabah juga menjadi bagian dari strategi Bulog meningkatkan kualitas cadangan beras pemerintah. Dengan membeli gabah, Bulog memiliki kendali lebih besar terhadap proses pengeringan, penggilingan, hingga penyimpanan sehingga beras yang dihasilkan dapat memenuhi standar kualitas premium.

Meski demikian, Bulog mengakui masih ada sejumlah daerah yang belum terbiasa menjual gabah karena selama ini masyarakat lebih memilih menjual beras. Untuk itu, Bulog berkomitmen meningkatkan sosialisasi kepada petani menjelang musim panen berikutnya agar semakin banyak petani memahami manfaat menjual gabah dibandingkan beras.

Di sisi lain, capaian penyerapan gabah Bulog Sulawesi Tengah tahun ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari target pemerintah pusat sebesar 13.000 ton gabah, realisasi penyerapan telah mencapai 16.640 ton, atau melampaui target yang ditetapkan.

Target tersebut berbeda dengan target penyerapan setara beras yang ditetapkan sebesar 11.300 ton, karena konversi gabah menjadi beras hanya berkisar 51–52 persen. Meski target gabah telah terlampaui, Bulog memastikan akan tetap melakukan pembelian selama petani masih ingin menjual hasil panennya guna memperkuat stok cadangan pangan pemerintah.

Saat ini, penyerapan gabah terbesar berasal dari sejumlah sentra produksi di Sulawesi Tengah, antara lain wilayah Donggala (Pantai Barat), Pantai Timur, dan Luwuk.

Melalui kebijakan ini, Bulog berharap semakin banyak petani memanfaatkan skema penjualan gabah karena selain meningkatkan efisiensi di tingkat petani, langkah tersebut juga mendukung ketersediaan cadangan pangan nasional dengan kualitas yang lebih baik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top