Lanskap Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. (Foto: Heri/rindang.ID)

Kisah Kecamatan Dolo Selatan yang Bertahan di Jalur Banjir Bandang

SIGI, rindang.ID | Di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, banjir bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Ia adalah cerita lama yang terus berulang dan setelah gempa bumi 2018, ceritanya menjadi jauh lebih kelam.

Kecamatan ini terdiri dari 12 desa yang dialiri sedikitnya 8 sungai aktif. Sejak dulu, banjir memang kerap melanda Dolo Selatan. Namun warga merasakan satu perubahan besar, yakni banjir yang datang lebih sering dan lebih ganas pascagempa. Retakan tanah, longsoran pegunungan, dan kubangan material di atas desa, membentuk ancaman baru yang terus hidup setiap musim hujan.

Jika hujan turun, air tak datang sendiri. Ia membawa pasir, batu, dan lumpur dari pegunungan, material yang terperangkap di kubangan-kubangan bekas longsor, lalu meluncur ke hilir dan menerjang desa-desa.

Dusun yang Hilang di Bangga

Bencana paling nyata terjadi di Desa Bangga. Dua dusun di desa ini kini hanya tinggal kenangan, berubah menjadi perkebunan. Sejak 2019, dusun-dusun tersebut “hilang” terkubur material gunung berupa pasir dan lumpur yang terus terakumulasi.

Pangkal bencananya berada jauh di hulu. Sekitar 20 kilometer dari Desa Bangga, guguran material dari gunung yang melemah akibat gempa 2018 menjadi sedimen tebal. Material ini kemudian menutup jalur Sungai Ore, memaksa alirannya berbelok dan menghantam permukiman warga.

Poi, Desa yang Perlahan Ditinggalkan

Ancaman serupa juga dialami warga Desa Poi. Pada Juli 2020, material banjir bandang menghantam rumah-rumah warga. Lumpur menutup jalan poros dan kebun-kebun hingga setinggi satu meter.

Dusun 2 dan Dusun 3 menjadi wilayah terdampak paling parah. Dari sekitar 180 keluarga, sebagian besar memilih meninggalkan lokasinya. Tak ada pilihan, bertahan berarti menunggu bencana berikutnya.

Desa-desa lain seperti Balongga, Walatana, Rogo, dan Sambo hidup dalam ancaman yang sama, menetap di wilayah yang sewaktu-waktu bisa dilalui aliran lumpur dan batu dari hulu.

Infrastruktur Dibangun, Ancaman Tak Pernah Pergi

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya telah dilakukan untuk menahan laju bencana. Tanggul penahan banjir dan sabo dam kini berdiri di sejumlah titik alur sungai di Dolo Selatan.

Infrastruktur ini dibangun untuk meredam luapan air dan menahan material agar tidak langsung menghantam permukiman warga. Namun, bagi warga, keberadaan bangunan itu belum sepenuhnya menghadirkan rasa aman. Sedimentasi terus terjadi, material terus turun dari pegunungan, dan sungai terus berubah wajah.

“Sabo dam dan tanggul membutuhkan pemeliharaan berkelanjutan, karena sekali alur tersumbat, banjir bandang kembali menemukan jalannya,” kata Irzan, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Dolo Selatan.

Irzan menegaskan, di Dolo Selatan, infrastruktur hanyalah jeda, bukan akhir dari ancaman.

Data yang Menguatkan Kekhawatiran

Kekhawatiran warga Dolo Selatan diperkuat oleh data. Pemetaan kerawanan banjir berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) menunjukkan terdapat zona cukup rawan hingga sangat rawan yang berada tepat di dataran rendah dan sepanjang sungai, lokasi yang juga menjadi kawasan permukiman.

Dalam skala desa, Sambo dan Jono tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi akibat banjir dan banjir bandang yang berulang. Balongga, Rogo, dan Bangga berada pada kategori rawan sedang hingga tinggi, terutama karena luapan sungai dan kiriman sedimen dari hulu.

Zona sangat rawan memang tidak luas, tetapi berada di titik-titik paling vital bagi kehidupan warga.

Hidup dengan Waspada

“Sekarang kalau hujan dua sampai tiga jam saja, masyarakat pasti waspada,” kata Irzan.

Pengalaman panjang menghadapi banjir membuat warga mampu mengenali tanda-tandanya. Air sungai yang mendadak keruh bercampur pasir dan batu, serta suara gemuruh dari arah pegunungan, menjadi pertanda bahwa banjir bandang sedang bergerak menuju desa. Di saat-saat seperti itu, sukarelawan FPRB memegang peran penting.

Mereka saling mengabarkan kondisi sungai dari desa ke desa, menyampaikan peringatan waspada hingga awas, sekaligus menenangkan warga agar bisa menyelamatkan diri tepat waktu.

Total ada 30 sukarelawan FPRB di Kecamatan Dolo Selatan yang siaga setiap kali hujan deras turun.

Sungai dan pegunungan yang rapuh menjadi bagian dari lanskap Dolo Selatan. Bencana yang kerap terjadi memunculkan satu kesadaran bersama di tengah warga; banjir adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan.

Infrastruktur boleh dibangun, tapi selama sedimentasi terus turun dari hulu, kewaspadaan tak pernah boleh runtuh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top