PALU, rindang.ID | Berton-ton sampah menutup pesisir Teluk Palu, mengganggu kawasan konservasi mangrove di Pantai Layana, Kota Palu. Pemandangan itu viral, menghebohkan, sekaligus mengusik nalar: mengapa jumlahnya bisa sedemikian tak lazim?
Tumpukan sampah itu pertama kali dipublikasikan oleh komunitas Mangrovers Palu, Sabtu (24/1/2026). Foto-foto dan video yang beredar memperlihatkan plastik, stereofoam, hingga batang-batang kayu menutup rapat garis pantai, menyelusup di antara akar-akar mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami pesisir.
Respons pun cepat datang. Komunitas, mahasiswa, hingga Dinas Lingkungan Hidup kota dan provinsi turun tangan melakukan pembersihan. Dalam sehari, lebih dari lima ton sampah berhasil dikumpulkan dari sekitar kawasan konservasi mangrove tersebut. Angka yang besar, namun belum sepenuhnya menjawab pertanyaan paling penting: dari mana semua sampah itu berasal?
Memang, sampah domestik dari darat memberi kontribusi. Namun Teluk Palu juga menerima “kiriman” dari proses alam yang melampaui batas kota: arus laut lintas samudra, angin musiman, dan bentuk teluk itu sendiri yang menjelma perangkap raksasa.
Solih Alfiandy, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, menjelaskan adanya peran Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Arus laut raksasa ini mengalir dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia, melintasi perairan Indonesia.
“Arlindo memang tidak masuk langsung ke Teluk Palu. Jalurnya lewat Selat Makassar dan laut lepas di sekitarnya namun pengaruhnya merambat, mengatur dinamika laut regional yang akhirnya sampai ke pintu teluk.” ujar Solih.
Kekuatan Arlindo, terutama saat berinteraksi dengan angin muson, memengaruhi pergerakan arus permukaan laut. Di situlah sampah terapung ikut menjadi penumpang.
Angin yang Membuka Jalan
Dalam beberapa hari terakhir, tanda-tanda itu kembali terbaca. Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, menyebut pola angin menunjukkan kondisi yang berpotensi mendorong material terapung menuju perairan Sulawesi Tengah.
“Angin di permukaan sekitar Selat Makassar bertiup dari barat laut dengan kecepatan 16 hingga 17 knot, atau sekitar 25 kilometer per jam,” kata Asep.
Di wilayah Belahan Bumi Utara, terpantau pusaran angin bersifat siklonik di sekitar perairan Manila. Sistem ini memicu hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, sekaligus meningkatkan limpasan material dari daratan ke laut. Sampah, dalam kondisi seperti itu, ikut hanyut menjadi bagian dari arus besar.
Arus laut dari arah timur laut, lanjut Asep, akan mengalami perubahan saat mendekati garis ekuator. Alirannya membelok menjadi baratan. Di titik inilah bentuk Teluk Palu memainkan peran penentu.
“Dengan pola Teluk Palu yang menyerupai corong atau huruf V, kondisi ini mempermudah sampah terdampar di mulut teluk,” ujarnya.
Teluk Palu memang unik. Ia sempit, memanjang jauh ke daratan, dan diapit pegunungan. Mulut teluknya relatif kecil seperti pintu sempit menuju ruang besar. Setiap arus yang masuk akan melambat, berputar, lalu kehilangan tenaga untuk keluar kembali.
Saat Muson Timur datang, sekitar Mei hingga September, Arlindo cenderung menguat. Angin timur–tenggara mendorong arus permukaan ke arah pesisir Sulawesi. Sampah dari laut lepas atau pesisir sekitar perlahan bergerak mendekati mulut Teluk Palu. Begitu masuk, ia jarang menemukan jalan keluar.
Sebaliknya, pada Muson Barat, hujan deras mengguyur daratan. Sungai-sungai di Kota Palu membawa sampah dari hulu, menambah beban Teluk Palu dari arah darat, bersamaan dengan sirkulasi regional dari laut.
Memahami dinamika cuaca dan iklim yang memengaruhi Teluk Palu menjadi modal penting untuk merumuskan kebijakan penanganan sampah pesisir. Pembersihan mungkin akan terus menjadi rutinitas, tetapi pengurangan volume, itulah pekerjaan yang seharusnya dimulai dari hulu, dari darat, dan dari kita sendiri.



