Landskap Kota Palu tampak dari perbukitan di bagian timur. (Foto: Heri/rindang.ID)

Menghirup Udara Palu 2025: Pernah Aman, Pernah Paling Mengancam Kesehatan

PALU, rindang.ID | Sepanjang tahun 2025, kualitas udara di Kota Palu mengalami dinamika yang cukup tajam. Pemantauan partikel polutan di udara yang dilakukan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri menunjukkan adanya periode udara sangat tercemar, namun juga hari-hari dengan kualitas udara yang sangat bersih.

Berdasarkan data pemantauan, puncak polusi udara terjadi pada beberapa waktu tertentu dengan konsentrasi partikel yang jauh melampaui ambang aman. Untuk partikel paling berbahaya, yakni PM1, rekor tertinggi tercatat pada 6 Maret 2025 dengan rata-rata harian mencapai 201 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Bahkan, pada waktu tertentu, konsentrasi PM1 sempat melonjak ekstrem hingga 769 µg/m³.

Sementara itu, PM2.5 atau partikel debu halus yang berisiko tinggi terhadap kesehatan pernapasan terpantau paling pekat pada 11 Oktober 2025, dengan konsentrasi mencapai 69 µg/m³. Adapun PM10, partikel debu kasar, mencatatkan konsentrasi tertinggi sebesar 163 µg/m³ pada 21 Juli 2025.

Meski demikian, Palu juga mengalami sejumlah hari dengan kualitas udara yang sangat baik. Data menunjukkan adanya kondisi udara dengan skor polusi nol, yang berarti udara tergolong sangat bersih. Kondisi ini tercatat berulang kali, terutama saat hujan turun, seperti pada 20 Maret, 25 Agustus, dan 11 Desember 2025.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi menjelaskan, hujan berperan penting sebagai pembersih alami udara. Partikel debu dan polutan akan turun ke permukaan bersama air hujan, sehingga konsentrasi polusi di atmosfer menurun drastis.

Sebaliknya, pada hari-hari cerah dan terik, polutan cenderung terperangkap di udara dan meningkatkan risiko paparan bagi masyarakat.

“Pemantauan kualitas udara menjadi penting untuk melindungi kesehatan, terutama kesehatan paru-paru masyarakat,” ujar Asep.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi kualitas udara dan meningkatkan kewaspadaan, terutama pada periode dengan konsentrasi polutan tinggi.

Udara bersih, menurut BMKG, bukan sekadar kondisi alam, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan dan kualitas hidup warga Kota Palu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top