PALU, rindang.ID | Ketika suhu kota terus meningkat dan tutupan lahan berkurang, seruan untuk menghijaukan kembali Kota Palu menggema, mulai dari kebijakan hingga tindakan.
Seperti meneruskan tren-tren sebelumnya, siang di Palu terasa kian menyengat. Jalanan beraspal memantulkan panas, dan debu mengganggu napas.
Seumpama manusia, Kota Palu tengah mengalami dehidrasi. Napasnya berat, wajahnya kering. Bayangkan saja, saat suhu panas terus terjadi, kualitas tutupan lahan Kota Palu justru menurun.
Berdasarkan data Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kota Palu, Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) Palu turun dari 67,76 poin pada 2023 menjadi 58,53 poin pada 2024.
Di tengah udara yang kering dan terik, pertanyaan besar muncul, ke mana arah kota ini akan bertumbuh; semakin panas, atau semakin hijau?
Bagi Asep Firman Ilahi, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Lore Lindu Bariri, jawabannya sudah jelas. Palu, kata dia, harus segera bertransformasi menjadi kota hijau berkelanjutan jika ingin bertahan menghadapi kenaikan suhu yang terus menekan.
“Pemerintah Kota Palu harus menjadikan penghijauan intensif dan perencanaan tata ruang adaptif sebagai prioritas utama,” ujar Asep.
Ia menekankan pentingnya percepatan penyusunan Rencana Induk Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang menempatkan fungsi ekologis di depan, bukan sekadar estetika. Pohon-pohon lokal berkanopi lebar yang tahan panas seperti asam, ketapang, atau flamboyan perlu ditanam masif di kawasan padat penduduk.
“Jalan dan trotoar kita harus berubah menjadi ruang hidup yang meneduhkan, bukan hanya tempat melintas kendaraan,” tambahnya.
Vegetasi di pinggir jalan kata dia bisa menurunkan suhu permukaan hingga beberapa derajat dan mengembalikan kenyamanan kota.
Warga Sebagai Akar Perubahan
Tak hanya soal kebijakan, Asep percaya masa depan Palu ditentukan oleh tangan-tangan kecil yang menanam pohon di halaman rumah, sekolah, dan taman dipermukiman.
Masyarakat harus menjadi agen perubahan. Setiap pohon yang ditanam adalah investasi untuk masa depan.
Pengurangan penggunaan permukaan kedap air seperti aspal dan beton, menggantinya dengan taman kecil, biopori, atau lahan resapan air juga menjadi tindakan yang bisa dilakukan warga.
“Kota hijau bukan hasil dari proyek, tapi hasil dari kebiasaan bersama,” ujar Asep menegaskan.
Menjahit Ulang Ruang Kota
Di sisi lain, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Ibnu Mundzir, menilai tantangan terberat kota ini bukan sekadar menambah ruang hijau, tetapi mempertahankan tutupan lahan yang tersisa di tengah laju pembangunan.
“Palu tumbuh cepat, tapi kita tidak boleh lupa bahwa ruang hijau adalah paru-paru kota,” katanya.
Ibnu menyebut beberapa langkah yang kini mulai dijalankan oleh DLH, dari penanaman pohon pelindung di kawasan panas, penebangan selektif, hingga pengembangan taman vertikal dan roof garden bagi bangunan bertingkat.
Tak hanya itu, urban farming juga tengah digalakkan di sejumlah permukiman untuk menghidupkan kembali konsep kota produktif dan berkelanjutan.
“Kami ingin setiap kelurahan punya taman aktif, tempat warga bisa berkumpul, belajar, dan menanam bersama,” ujar Ibnu.
Transformasi Palu menjadi kota hijau jelas bukan pekerjaan semalam. Ia butuh kebijakan yang konsisten, masyarakat yang peduli, dan kemauan politik yang teguh. Tapi di tengah suhu yang kian ekstrem, langkah kecil hari ini adalah penentu masa depan.
Bayangkan Palu di tahun-tahun mendatang: trotoar rindang dengan pohon penaung, taman-taman kelurahan yang hidup kembali, anak-anak bermain di bawah keteduhan yang tak lagi langka. Itulah cita-cita yang mesti diwujudkan, pelan tapi pasti.



