Bentangan perbukitan pesisir yang ditambang untuk material galian C bagi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di pesisir Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (12/6/2025). Data dari Minerba One Map Indonesia (MOMI) Kementerian ESDM, sekitar 30 juta ton batu pecah dipasok dari usaha pertambangan di Sulawesi Tengah untuk pembangunan IKN dan hingga akhir 2024 tercatat 69 izin pertambangan galian C aktif di Kota Palu dan Donggala dengan total luas lahan 1.764,41 hektare. (rindang.ID/Basri Marzuki)
Kawasan pertambangan Galian C di pesisir Kota Palu dan Donggala. (Foto: rindang.ID)

Cerita dari 2 Desa Lokasi Tambang Donggala: Harapan, Ketakutan, dan Suara yang Terpendam

DONGGALA, rindang.ID | Di tengah sore yang lebih terasa seperti siang yang menggigit dan suara ombak yang pelan memukul garis pantai, Forum Grub Discussion (FGD) digelar di tiga lokasi di dua Desa di Donggala. Dampak pertambangan Galian C dibahas dengan jujur.

FGD partisipatif yang melibatkan warga ini digelar di Desa Loli Oge serta Loli Dondo Dusun 1 dan 2, pada Sabtu (19/7/2025).

Di tiga rumah yang menjadi lokasi pertemuan, warga datang membawa kisah yang selama ini sulit disuarakan; tentang tambang, tanah, dan masa depan kehidupan di desanya nanti.

Pertemuan itu adalah bagian dari Focus Group Discussion (FGD) dalam program BUMIRITASI: Bumi Bersih Tanpa Polusi, sebuah inisiatif yang dihelat oleh Demi Bumi Palu bersama jaringan masyarakat sipil seperti JATAM, dan Arkom.

Pertemuan itu tidak hanya penuh kehangatan dan canda, namun juga ketegangan bahkan amarah. warga dari tiga desa di lingkar tambang Galian C Donggala itu mulai membuka luka dan keresahan yang selama ini mereka pendam sejak tambang masuk ke desa mereka.

Tak Diundang, Tapi Harus Menanggung

Suasana FGD bersama warga Donggala yang diinisiasi Demi Bumi Palu, JATAM, dan ARKOM. (Foto: rindang.ID)

“Awalnya kami tidak tahu. Sosialisasi hanya dilakukan kepada pemilik lahan. Warga biasa seperti kami tidak pernah diajak bicara,” tutur Ahniar (52 th) perempuan paruh baya dari Loli Dondo 1.

Cerita senada muncul dari desa lainnya. Di Loli Oge, warga mengaku hanya bisa menonton dari kejauhan ketika alat berat mulai bekerja dan jalan desa berubah menjadi lintasan truk pengangkut batu.

Banyak di antara mereka bahkan tak pernah mendengar istilah IUP hingga mereka mulai batuk dan debu masuk ke rumah.

Dua Wajah Tambang

Tak semua cerita bernada kelam. Di Loli Dondo 2, warga mengakui ada manfaat yang mereka rasakan. Setiap kali tongkang masuk untuk mengangkut material tambang, puluhan orang bahkan ibu-ibu, ikut serta menarik tali kapal di tepi pantai. Dari situ, mereka bisa mendapat penghasilan tambahan yang, jika beruntung, bisa datang tiga kali seminggu.

Dusun yang berada paling dekat dengan lokasi tambang bahkan rutin menerima sembako saat Ramadan, dan uang tunjangan ketika Lebaran.

Suasana FGD bersama warga Donggala yang diinisiasi Demi Bumi Palu, JATAM, dan ARKOM. (Foto: rindang.ID)

Namun, suara dari Loli Oge memotong optimisme itu.

“Bukan kami tidak bersyukur, tapi siapa yang menerima bantuan itu? Selalu yang itu-itu saja. Yang lainnya hanya dapat debu dan suara bising,” ucap seorang pemuda yang mengaku pernah mencoba bekerja di tambang tapi kemudian keluar karena upah yang tak sebanding dengan risiko.

Debu, Banjir, dan Sungai yang Mati

Suasana FGD bersama warga Donggala yang diinisiasi Demi Bumi Palu, JATAM, dan ARKOM. (Foto: rindang.ID)

Dari banyak cerita yang muncul, dampak lingkungan menjadi benang merah yang mengikat keresahan warga. Di Loli Oge, banjir mulai menjadi tamu rutin sejak tambang menggali lereng-lereng bukit. Pipa air bersih rusak. Sungai kecil yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini ditimbun, berubah menjadi daratan tandus.

“Dulu anak-anak masih bisa mandi di sungai. Sekarang sungainya hilang,” kata seorang ibu muda.

Debu hitam menjadi musuh yang tak terlihat namun nyata. Masyarakat menyebutnya “debu tambang”. Ia menempel di daun pisang, menyelinap ke sela-sela jendela, dan masuk ke paru-paru. Kasus ISPA meningkat tajam.

Penyiraman debu memang dilakukan, tetapi hanya di sekitar area tambang. Permukiman warga tetap dibiarkan berdebu, seolah tak ada kehidupan di sana.

Memicu Konflik

Suasana FGD bersama warga Donggala yang diinisiasi Demi Bumi Palu, JATAM, dan ARKOM. (Foto: rindang.ID)

Konflik tak hanya terjadi antara warga dan perusahaan, tetapi juga antarwarga. Tuduhan pencurian lahan dan kecemburuan atas bantuan dari tambang menjadi bara yang bisa menyala kapan saja.

“Tambang bukan hanya merusak tanah, tapi juga merusak hubungan kami satu sama lain,” ucap warga di desa di Loli Dondo.

Menolak Tambang Galian Baru

Suasana FGD bersama warga Donggala yang diinisiasi Demi Bumi Palu, JATAM, dan ARKOM. (Foto: rindang.ID)

Kekhawatiran terbesar warga kini tertuju pada rencana pembukaan tambang galian baru. Beberapa nama perusahaan sudah beredar PT Alwaidi, Maralex, dan Sinar. Warga menolak keras.

Mereka menyebut gunung di belakang desa adalah sumber air yang tersisa, tempat mata air masih mengalir jernih ke keran-keran rumah.

“Kalau itu ikut digali, habis sudah desa ini,” kata seorang ibu.

Harapan: Jangan Ada Lagi Watusampu dan Buluri

Suasana FGD bersama warga Donggala yang diinisiasi Demi Bumi Palu, JATAM, dan ARKOM. (Foto: rindang.ID)

Nama Watusampu dan Buluri kerap disebut warga sebagai contoh kehancuran yang tak ingin mereka ulang. Mereka berharap Donggala tidak bernasib sama.

Warga ingin keterbukaan informasi, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, dan keadilan dalam pembagian manfaat. Mereka juga mendesak agar program CSR benar-benar dijalankan, tidak sekadar janji yang dibungkus dalam dokumen-dokumen indah.

Langkah Awal dari Suara Akar Rumput

Putri Saviera, CEO-Founder Demi Bumi Palu. (Foto: Demi Bumi Palu)

Bagi tim fasilitator dari Demi Bumi Palu, Arkom, dan JATAM, FGD ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang advokasi. Melalui dokumentasi, diskusi publik, hingga audiensi kebijakan, mereka berharap suara-suara dari Loli Oge dan sekitarnya bisa terdengar lebih luas.

“Kami ingin data dari warga sendiri menjadi dasar perubahan, utamanya untuk pembangunan berkelanjutan,” kata Putri Saviera, CEO – Founder Demi Bumi Palu.

Diskusi memang berakhir. Tapi perjuangan baru saja dimulai. Di desa-desa Donggala yang dikepung tambang, warga kini mulai belajar bersuara meski pelan, meski penuh keraguan. Sebab mereka tahu, hanya dengan menyuarakan, desa bisa diselamatkan dari menjadi abu seperti pegunungan mereka yang telah hilang warnanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top