PALU, rindang.ID | Setelah melalui berbagai proses sejak tahun 2019, Warisan Budaya Megalitikum Lore Lindu di Sulawesi Tengah akhirnya ditetapkan masuk dalam Tentative List UNESCO yang merupakan tahapan sebelum menjadi Warisan Dunia.
Masuknya warisan budaya megalitikum yang tersebar di Kabupaten Poso dan Sigi, Sulawesi Tengah itu ke dalam Tentative List UNESCO diumumkan lembaga PBB tersebut melalui situs resminya, whc.unesco.org pada 15 April 2025.
Tentative List adalah tahapan awal dan wajib sebelum sebuah situs dapat diusulkan secara resmi untuk masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.
Situs yang masuk daftar dinilai memiliki potensi Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value / OUV), yang merupakan syarat utama untuk menjadi Warisan Dunia. Namun, nilai ini masih perlu diteliti dan dibuktikan lebih lanjut melalui proses nominasi.
Masuk Tentative List tidak berarti otomatis diterima menjadi Warisan Dunia.
Arkeolog sekaligus Kepala Perlindungan dan Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah, Iksan Djorimi mengakui setelah masuh dalam daftar sementara masih ada pekerjaan rumah yang harus dilalui agar Megalit Lore Lindu benar-benar menjadi Warisan Dunia
“Akan dibentuk tim terpadu yang terdiri dari berbagai ahli kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri, pemerintah daerah, akademisi, untuk penyusunan Dossier atau kumpulan dokumen terperinci tentang subjek warisan dunia Kawasan Megalitik Lore Lindu,” Iksam menjelaskan.
Dokumen Dossier adalah syarat untuk mendapatkan status Daftar Tetap Warisan Dunia. Dokumen itu akan dinilai oleh para ahli (ICOMOS/ICOM), dan keputusan Komite Warisan Dunia.
Meski baru masuk daftar sementara namun Iksam menegaskan hal itu adalah sebuah kebanggaan bagi Sulawesi Tengah dan Indonesia sekaligus menjadi bukti nilai penting Megalit Lore Lindu terhadap perkembangan kebudayaan dunia.
Warisan Budaya Megalitik Lore Lindu di Sulawesi Tengah merupakan bukti penting migrasi besar penutur bahasa Austronesia sejak 5.000 tahun lalu, yang memicu interaksi budaya luas di kawasan Indo-Pasifik.
Lore Lindu menjadi titik pertemuan budaya Austronesia Barat (dipengaruhi Asia Tenggara) dan Austronesia Timur (terkait Wallacea dan Oseania), menghasilkan peradaban unik yang tercermin dalam situs megalitik seperti kalamba (tempayan batu) dan arca leluhur. Perpaduan budaya ini menunjukkan kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungan dan perubahan budaya, serta terus diwariskan oleh masyarakat lokal hingga kini.
Megalitikum Lore Lindu memenuhi kriteria warisan budaya dunia karena memperlihatkan pertukaran nilai budaya lintas wilayah sesuai dengan Kriteria ii dan merupakan bukti luar biasa peradaban masa lalu yang bertahan lama, sesuai dengan Kriteria iii.



