Pelatihan Peningkatan Kapasitas Peringatan Dini untuk warga di Dolo Selatan dan sekitarnya yang digelar di Desa Bangga, Sabtu (8/8/2026). (Foto: rindang.ID)

Saat Warga Dolo Selatan Memetakan Sungai dan Memperkuat Kesiapsiagaan

SIGI, rindang.ID | Pengalaman bencana di Kecamatan Dolo Selatan, Sigi, mendorong warga memperkuat kesiapsiagaan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengenali sungai di desa mereka sendiri.

Upaya itu dilakukan warga Desa Bangga bersama perwakilan desa di Dolo Selatan dan Sigi Biromaru dalam penguatan kapasitas kelompok kerja peringatan dini berbasis lanskap yang diinisiasi Yayasan SHEEP Indonesia, Sabtu (8/8/2026).

Desa Bangga dipilih karena memiliki pengalaman panjang menghadapi banjir bandang dengan dampak besar. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa kesiapsiagaan tidak cukup dilakukan setelah bencana terjadi. Warga perlu memahami tanda-tanda alam dan kondisi wilayah hulu yang dapat menjadi petunjuk awal ancaman di hilir.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al Jufri Palu, Mohamad Fathan, menjelaskan pentingnya masyarakat mengenali pola cuaca, termasuk pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat menghasilkan hujan lebat, petir dan angin kencang dalam waktu singkat.

Bagi warga yang tinggal di sekitar sungai, hujan di wilayah hulu perlu menjadi perhatian meski hujan belum turun di permukiman. Hujan deras di pegunungan dapat meningkatkan debit sungai dan membawa material seperti lumpur, kayu dan batu ke wilayah hilir.

Perubahan warna air menjadi sangat keruh, kenaikan debit secara tiba-tiba, munculnya material dalam aliran, hingga suara gemuruh dari arah sungai merupakan tanda yang perlu diperhatikan dan segera diteruskan kepada warga lainnya.

“Pengamatan langsung masyarakat juga dapat menjadi pelengkap informasi yang disampaikan BMKG,” kata Fathan.

Mengenali Sungai di Desa

“Selama banjir dari luapan sungai memang jadi ancaman. Tidak hanya di Bangga, tapi juga dihampir semua desa di Dolo Selatan,” kata Abrar, Kepala Desa Bangga, dalam pertemuan itu.

Abrar mengajak warga mengingat kembali beberapa kejadian banjir yang pernah terjadi. Banyak cerita dari peserta yang muncul, yang mengarah pada satu kesamaan; harus ada pemantauan sungai di setiap desa.

Warga akhirnya mengidentifikasi sungai-sungai yang berada di wilayah mereka sekaligus menentukan titik pemantauan.

Sedikitnya terdapat delapan sungai yang dicatat warga, yakni Sungai Ore, Alivua, Lonoviri, Kalangga, Palu, Saluri, Sidio, dan Miu. Titik pantau berada di lokasi yang dekat dengan aktivitas warga, seperti jembatan Simoro, persawahan Lida, musala, rumah warga, Dusun 4 Walatana, hingga Saluntava.

Warga bukan sekadar mendata nama sungai. Mereka mulai memetakan dari mana ancaman datang, bagian sungai mana yang perlu diawasi, tanda perubahan apa yang harus diperhatikan, dan ke mana informasi harus disampaikan ketika kondisi memburuk.

Langkah tersebut penting karena sungai di Dolo Selatan tidak hanya berpotensi meluap akibat hujan deras. Pada kondisi tertentu, sungai juga dapat menjadi jalur aliran material dari wilayah pegunungan, seperti lumpur, pasir, kayu, dan batu.

Pengalaman Desa Bangga dan Desa Poi menunjukkan bahwa risiko tersebut nyata. Banjir pernah membawa dampak besar terhadap permukiman, sementara kondisi lereng dan material longsoran di wilayah hulu dapat meningkatkan ancaman aliran bahan rombakan.

Karena itu, sungai yang sehari-hari terlihat tenang perlu dipahami sebagai bagian dari bentang alam yang terus berubah.

Warga di titik pantau dapat mengamati perubahan tinggi muka air, warna dan kecepatan arus, material yang terbawa, kondisi tebing, sumbatan alur, hingga tanda-tanda longsor di sekitar sungai.

Pengetahuan tersebut dapat menjadi lapisan pertama peringatan dini berbasis masyarakat. Informasi dari warga kemudian dapat dipadukan dengan informasi cuaca dari BMKG serta pemantauan pemerintah dan lembaga terkait.

Dari Pengalaman Menjadi Kesiapsiagaan

Bagi masyarakat Dolo Selatan, belajar mengenali sungai juga berarti belajar dari sejarah bencana yang pernah mereka alami.

Banjir bandang yang pernah terjadi mengajarkan bahwa ancaman tidak selalu terlihat dari tempat warga tinggal. Hujan di hulu, perubahan kondisi sungai, atau material yang bergerak dari pegunungan dapat menjadi tanda bahwa bahaya sedang menuju permukiman.

Karena itu, mengenal sungai merupakan bagian dari mengenal risiko tempat tinggal sendiri.

Warga yang mengetahui nama sungainya, arah alirannya, titik rawan, tanda-tanda perubahan dan lokasi aman akan memiliki pengetahuan yang lebih baik untuk mengambil keputusan ketika ancaman datang.

Dari sini, sungai tidak hanya dipandang sebagai sumber air, tetapi juga sebagai bagian dari sistem peringatan dini yang dapat dibaca dan dipantau bersama oleh masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top