PALU, rindang.ID | Minggu siang (21/12/2025), halaman Hannah Home Stay di Jalan Batavia, Palu, ramai. Puluhan anak muda, mayoritas Generasi Z, berkumpul, bukan sekadar bersua, tetapi membicarakan masa depan kota yang mereka tinggali.
Momen itu bertajuk Local Youth Forum 2025 yang menjadi ruang temu gagasan, imajinasi, dan harapan tentang Palu yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan.
Sejak registrasi, peserta langsung diajak terlibat aktif. Tidak ada format forum yang kaku. Mereka bebas memilih aktivitas yang tersebar di beberapa sudut lokasi, seluruhnya bertema kota hijau dan berkelanjutan.
Di sebuah papan besar bergambar peta wilayah Kota Palu, peserta menempelkan warna sebagai bentuk penilaian ketangguhan wilayah. Hijau menandakan kawasan tangguh, kuning berarti sedang, dan merah menunjukkan wilayah yang masih rawan. Aktivitas ini memancing diskusi spontan antarpeserta tentang banjir, gempa, hingga minimnya ruang terbuka hijau.
Tak jauh dari sana, panitia membagikan bibit pohon eboni, pohon endemik Sulawesi. Setiap bibit disertai secarik kertas tempat peserta menuliskan nama harapan mereka tentang pohon, lingkungan, dan kota hijau yang mereka impikan.
Di sudut lain, rumput halaman kegiatan dipenuhi kepingan lego. Anak-anak muda tampak serius menyusun miniatur kota: pohon, gunung, bangunan ramah lingkungan, hingga ruang publik yang inklusif.
Spot menggambar juga tak kalah ramai. Dengan krayon dan spidol, peserta menuangkan imajinasi mereka tentang kota berkelanjutan versi masing-masing.
“Ini kegiatan yang menarik, pendekatannya kreatif dan tidak membosankan. Menurut saya cara seperti ini efektif untuk merangsang generasi muda memahami pentingnya kota hijau, tangguh, dan berkelanjutan,” ujar Taufan, salah satu peserta.
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan talkshow yang menghadirkan beragam perspektif tentang kota berkelanjutan dalam konteks Palu. Perwakilan Bappeda Kota Palu, ahli perencanaan kota, serta pegiat arsitektur dan komunitas berbagi pandangan.
Slamet, mewakili Bappeda Kota Palu, menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir terdapat perubahan signifikan dalam penataan kota, terutama pada pengelolaan sampah.
“Palu pernah meraih Adipura. Dalam dokumen perencanaan jangka panjang dan menengah, visi kita adalah global city yang tangguh dan berkelanjutan. Tantangannya, bagaimana kita tetap maju tanpa mengorbankan lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengawasan izin lingkungan kini diperketat untuk seluruh pembangunan. Ke depan, Pemerintah Kota Palu mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan serta penguatan ketangguhan bencana melalui simulasi tanggap bencana yang rutin.
Sementara itu, Ismi, pegiat komunitas dan arsitektur, menekankan pentingnya kolaborasi dan pelibatan warga. Menurutnya, pengelolaan ruang terbuka hijau dan fasilitas umum masih sering mengesampingkan suara masyarakat.
“Pengalaman pembangunan huntap dan rekonstruksi pascabencana menunjukkan, ketika komunitas tidak dilibatkan, muncul resistensi karena tidak sesuai kebutuhan hidup mereka,” kata Ismi.
Ia menilai Palu telah berkembang pesat pascabencana, namun krisis iklim mulai terasa nyata. “Sekarang Palu terasa jauh lebih panas. Kota ekologis untuk semua harus menjadi semangat bersama dalam pembangunan,” ujarnya.
Pinkan, ahli perencanaan kota Palu, menambahkan bahwa perspektif ekologis harus menjadi dasar pembangunan. “City for all mesti berperspektif ekologi. Setiap lahan, rumah, dan bangunan harus berangkat dari konsep kota hijau,” jelasnya.
Ia menyebut tantangan lain seperti aktivitas pertambangan dan target menjadikan Palu sebagai kota hijau pada periode 2025–2029.
Empat pilar pembangunan kota yaitu green city, kota tangguh, kota layak huni, dan geopark city menurutnya bertumpu pada satu kunci utama: kota hijau dan peran komunitas.
Local Youth Forum 2025 sendiri digagas oleh Demi Bumi Palu sebagai upaya mendorong percepatan pembangunan berkelanjutan.
Rizky, Humas Demi Bumi Palu, menjelaskan forum ini memiliki lima tujuan utama, mulai dari meningkatkan kesadaran tentang kota hijau, mengidentifikasi tantangan pembangunan Palu, mendorong partisipasi komunitas, mengembangkan solusi aksi berbasis warga, hingga membangun kolaborasi multipihak.
“Forum ini kami hadirkan sebagai jembatan antara kemajuan kota dan kapasitas warganya. Anak muda Palu perlu ruang untuk ikut mendefinisikan masa depan kota,” kata Rizky.
Sepanjang kegiatan, Local Youth Forum 2025 menjadi cermin semangat generasi muda Palu, bahwa masa depan kota tak hanya dibangun dengan beton, tetapi juga dengan imajinasi, kolaborasi, dan kepedulian pada lingkungan.



