Sejumlah pengunjung memperhatikan sejumlah video art lintas negara yang dipamerkan di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/9/2025). (©rindang.ID/bmz)
Sejumlah pengunjung memperhatikan sejumlah video art lintas negara yang dipamerkan di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/9/2025). (©rindang.ID/bmz)

Extraction Echoes, Solidaritas Lintas Benua untuk Alam yang Terluka

PALU, rindang.ID | Di sudut belakang Marlah Hub Palu, Sabtu (13/9/2025) malam, enam layar menyala bersamaan. Bukan film yang diputar, melainkan karya video art yang membawa pesan mendalam tentang luka bumi yang tak kunjung sembuh. “Extraction Echoes” bukan sekadar pameran biasa—ini adalah seruan solidaritas lintas benua untuk alam yang terus dirusak.

Rahmadiyah Tria Gayatri, direktur Forum Sudutpandang yang juga kurator pameran, tak menyangka bahwa Palu akan menjadi pilihan kolaboratif dari Videocity asal Inggris. Namun, setelah setahun kuratori, alasannya menjadi jelas: ada kesamaan pandangan tentang bagaimana ruang hidup manusia dan alam saling mengeksploitasi.

“Ini bentuk komitmen untuk bersolidaritas dengan hal-hal tentang alam yang terus dirusak,” ujar Rahmadiyah dengan suara yang penuh keyakinan.

Kesamaan itu bukan sekadar wacana. Palu, yang berada dekat dengan aktivitas industri pertambangan dan ekstraksi sumber daya alam, sekaligus terletak di kawasan rawan bencana, memperlihatkan kontras yang tajam. Di satu sisi, kerentanan ekologi yang nyata. Di sisi lain, praktik eksploitasi lingkungan yang tak kenal henti.

Pertemuan Dua Dunia

Kolaborasi antara Videocity Inggris dan Forum Sudutpandang Indonesia ini didukung British Council, menghadirkan enam karya video art—tiga dari Inggris dan tiga lagi dari Indonesia. Namun, perjalanan menuju pameran ini tidak singkat.

Para seniman terpilih—dua dari Palu, satu dari Kupang, dan tiga dari Inggris—sebelumnya terlibat dalam lima sesi lokakarya pertukaran pengetahuan digital. Fokusnya: isu-isu ekstraksi lingkungan, relasi antara manusia, serta praktik-praktik yang berkontribusi pada kerusakan ekologi.

Muhammad Rizki, kurator lainnya, mengungkapkan bahwa menentukan video art yang dipamerkan tidaklah mudah. Kriteria ketat diberlakukan: seniman harus berasal dari timur Indonesia dan Inggris bagian utara seperti Newcastle. Tema ekstraksi harus terwakilkan dalam konten, cara ekstraksi diekspresikan dalam karya seni juga menjadi pertimbangan.

“Juga apakah kontennya tidak ‘bermasalah’,” tambah Rizki dengan senyum tipis, mengingatkan bahwa seni pun harus bertanggung jawab.

Medium yang Membebaskan

Video art dipilih bukan tanpa alasan. Berbeda dengan film yang aturannya sangat pakem, karya video art lebih fleksibel. Medium ini memberikan ruang ekspresi yang lebih luas bagi seniman untuk menyampaikan pesan mereka tentang hubungan kompleks antara manusia dan alam.

Amanda Loomes, Kristo Robot, Jazmin Morris and Chris Tegho dari Inggris, serta Sarah Adilah, Sel MacLean, dan Vania Qanita Damayanti dari Indonesia—masing-masing membawa perspektif unik tentang ekstraksi dan kerusakan lingkungan.

Sejumlah pengunjung memperhatikan sejumlah video art lintas negara yang dipamerkan di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/9/2025). (©rindang.ID/bmz)
Sejumlah pengunjung memperhatikan sejumlah video art lintas negara yang dipamerkan di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/9/2025). (©rindang.ID/bmz)

Dari Newcastle ke Jakarta ke Palu

“Extraction Echoes” bukan pameran tunggal. Rangkaian ini telah dimulai di Tyneside Bar Cafe, Tyneside Cinema, Newcastle pada 26 Agustus – 7 September 2025. Bersamaan dengan pembukaan di Palu, pameran serupa juga berlangsung di Kongsi 8 Jakarta hingga 5 Oktober 2025.

Konsep ini mengundang pengunjung merenungkan hubungan kompleks seputar ekstraksi dalam konteks sosial, budaya, dan geografis Inggris dan Indonesia. Dari kelangkaan sumber daya alam dan warisan pertambangan batu bara hingga cerita rakyat, beragam posisi artistik mengajak refleksi hubungan masa lalu, sekarang, dan potensial manusia dengan alam.

Ruang Refleksi di Tengah Kontradiksi

Pameran ini menjadi ruang refleksi sekaligus percakapan bersama mengenai ketimpangan relasi manusia dengan alam yang kerap diabaikan demi kepentingan ekonomi jangka pendek. Bukan sekadar kritik, tetapi juga pembuka kemungkinan lahirnya awal yang baru.

“Ketika lanskap terus berubah akibat campur tangan manusia, dan dunia digital kini juga menjadi arena ekstraksi global, keterikatan manusia dengan lingkungannya tak bisa diabaikan,” demikian pernyataan kuratorial pameran.

Karya-karya video ini mempertanyakan kerumitan relasi tersebut sambil membuka kemungkinan lahirnya awal yang baru, termasuk bagaimana membangun kembali kekerabatan yang telah retak.

Solidaritas yang Konkret

Forum Sudutpandang, organisasi nirlaba berbasis di Palu yang dikelola kolektif seniman lintas disiplin, berdiri sejak 2016. Terdiri dari seniman, desainer visual, musisi, jurnalis, penulis, pembuat film, dan anak muda dengan ketertarikan pada kajian budaya.

Kolaborasi dengan Videocity—jaringan internasional kurator dan seniman yang berfokus pada promosi video art di ruang publik—membuktikan bahwa solidaritas untuk alam bukan sekadar slogan. Ini adalah aksi konkret yang melintasi batas geografis dan budaya.

Harapan di Balik Layar

Melalui “Extraction Echoes”, harapannya sederhana namun mendalam: mengajak perenungan kembali konsekuensi dari praktik ekstraksi lingkungan serta kemungkinan membangun relasi yang lebih adil dan berkelanjutan antara manusia dan ekosistem tempat hidup.

Di ruang gelap Marlah Hub, enam layar terus menyala. Menceritakan kisah bumi yang terluka, namun juga membisikkan harapan. Bahwa solidaritas lintas benua bukanlah utopia—ia nyata, hadir dalam setiap frame video yang diputar, dalam setiap refleksi yang muncul di benak pengunjung.

Ketika layar berbicara, mereka tidak hanya bercerita tentang kerusakan. Mereka juga berbisik tentang kemungkinan penyembuhan. (bmz)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top