MOROWALI, rindang.ID | Pertumbuhan industri nikel di Kabupaten Morowali berlangsung beriringan dengan menyusutnya basis pertanian pangan.
Dalam periode 2018–2025, luas panen dan produksi padi di daerah tersebut menunjukkan tren penurunan, meski sempat mengalami pemulihan pada 2024.
Data yang ditampilkan dalam penelitian Di Balik Hilirisasi Nikel: Jejak Spasial dan Faktor Pendorong Alih Fungsi Sawah di Kabupaten Morowali 2018–2026, yang dilakukan Yayasan KOMIU dan Auriga, memperlihatkan luas panen padi berada di kisaran 9.500 hektare pada 2018. Angka itu kemudian turun menjadi sekitar 6.600 hektare pada 2025.
Penurunan luas panen tersebut berjalan searah dengan produksi padi. Pada 2018, produksi berada di kisaran 48–49 ribu ton. Produksi kemudian terus melemah dan mencapai sekitar 26 ribu ton pada 2023. Produksi sempat meningkat pada 2024 menjadi sekitar 30 ribu ton, tetapi kembali turun pada 2025 menjadi sekitar 28–29 ribu ton.
Dengan demikian, kenaikan produksi pada 2024 belum menunjukkan perubahan tren secara permanen. Luas panen kembali menyusut pada 2025 dan diikuti penurunan produksi.
Sawah menyusut hampir 20 persen
Temuan spasial penelitian memperlihatkan tekanan terhadap pertanian lebih jauh daripada sekadar penurunan luas panen. Luas sawah yang teridentifikasi melalui analisis change detection turun dari 4.367 hektare pada 2018 menjadi 3.418 hektare pada 2026, atau kehilangan bersih 864 hektare (19,8 persen).
Dari sawah yang ada pada 2018, sekitar 3.007 hektare masih bertahan, sementara 1.275 hektare berubah menjadi tutupan lahan lain. Pada saat yang sama, terdapat 411 hektare lahan dari kelas lain yang berubah menjadi sawah baru.
Menariknya, sebagian besar sawah yang hilang tidak langsung berubah menjadi kawasan industri. Sebanyak 1.020 hektare berubah menjadi vegetasi non-hutan, semak belukar atau tutupan lainnya, 138 hektare menjadi vegetasi/hutan, 64 hektare menjadi lahan terbuka atau tambang, 33 hektare menjadi permukiman, 14 hektare menjadi kawasan industri, dan enam hektare menjadi badan air.
Sentra pangan berada di bawah tekanan
Penyusutan sawah paling besar terkonsentrasi di wilayah yang selama ini menjadi sentra pertanian. Wita Ponda kehilangan 376 hektare, disusul Bumi Raya 362 hektare, Bungku Barat 114 hektare dan Bahodopi 51 hektare.
Pada tingkat desa, kehilangan terbesar terjadi di Sampeantaba sebesar 107 hektare, Parilangke 87 hektare, Tondo 70 hektare, serta Bahonsuai dan Moahino masing-masing 69 hektare.
Kondisi ini membuat produksi pangan Morowali semakin bertumpu pada sejumlah kecamatan sentra pertanian seperti Bungku Tengah, Bumi Raya dan Wita Ponda. Penelitian menilai kondisi tersebut meningkatkan kerentanan ketahanan pangan daerah.
Tekanan terbesar justru di sekitar kawasan industri
Analisis spasial penelitian menunjukkan hubungan kuat antara kedekatan sawah dengan kawasan industri dan tingkat kehilangan lahan.
Pada radius 0–1 kilometer dari kawasan industri, kehilangan sawah mencapai 64 persen. Angka tertinggi ditemukan pada radius 1–3 kilometer, dengan kehilangan mencapai 75 persen. Sementara pada radius 3–5 kilometer, kehilangan tercatat 31 persen.
Penelitian mengidentifikasi kedekatan dengan jalan, kawasan industri dan pertambangan, pertumbuhan permukiman, serta kenaikan harga tanah sebagai faktor yang meningkatkan tekanan terhadap sawah. Di sekitar kawasan industri, harga tanah bahkan disebut mencapai Rp300.000–Rp500.000 per meter persegi, jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan hulu.
“Situasi ini memperlihatkan paradoks pembangunan Morowali: hilirisasi nikel mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama mengurangi ruang produksi pangan dan meningkatkan tekanan terhadap petani,” Direktur Yayasan KOMIU, Gifvents mengatakan.
Penelitian juga menemukan 1.080 hektare dari 1.275 hektare sawah yang berubah berada pada kategori tidak sesuai RTRW, sementara 195 hektare merupakan lahan berstatus LP2B yang mengalami alih fungsi.
Tren penurunan luas panen dan produksi padi tersebut akhirnya menjadi sinyal penting bagi masa depan ketahanan pangan Morowali. Sebab, ketika industri terus berkembang dan lahan pertanian produktif semakin terbatas, kemampuan daerah mempertahankan produksi pangan tidak lagi hanya bergantung pada produktivitas petani, tetapi juga pada seberapa kuat ruang untuk memproduksi pangan dipertahankan dari tekanan perubahan penggunaan lahan.



