DONGGALA, rindang.ID | Debit air Danau Rano di Desa Rano, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, dalam beberapa tahun terakhir terus berkurang. Kondisi itu mulai menjadi perhatian masyarakat karena danau tersebut merupakan salah satu area tangkapan air sekaligus indikator ketersediaan air tawar bagi desa-desa di sekitarnya.
Masyarakat juga melihat adanya pendangkalan di Danau Rano. Menurunnya debit air danau turut menjadi pertanda bahwa sejumlah sungai yang terhubung dengan kawasan tersebut mulai mengalami kekeringan, terutama saat musim kemarau.
Kondisi itu mendorong sejumlah warga untuk memikirkan penyebab sekaligus upaya menjaga sumber air. Salah satunya Abdul Gafur (30 th) warga Desa Rano yang akrab disapa Aphu.
“Danau Rano bisa menjadi patokan bahwa air di sungai masih bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian di desa,” kata Aphu, Kamis (27/8/2026).
Menurut Aphu, perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap berkurangnya debit air. Namun, ia juga menduga kondisi hutan di sekitar desa yang mulai mengalami kerusakan turut memengaruhi kemampuan kawasan dalam menyimpan air.
Berdasarkan data MODI Kementerian ESDM tahun 2026 yang disadur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Tengah, wilayah Balaesang Tanjung saat ini dikepung 43 izin pertambangan dengan luas total mencapai 2.574 hektare. Dari jumlah tersebut, 10 izin telah berstatus operasi produksi, sedangkan 33 izin lainnya berada pada tahap usaha pencadangan.
Di tengah kondisi tersebut, Aphu bersama sejumlah anak muda Desa Rano belum lama ini melakukan penanaman 1.000 bibit pohon di sekitar kawasan sungai.
Penanaman itu merupakan salah satu tindak lanjut dari hasil kajian risiko bencana di Desa Rano. Kajian tersebut dilaksanakan melalui Program ADAPTASI oleh Perkumpulan IMUNITAS dengan dukungan Caritas Germany.
“Dalam kajian risiko bencana yang sudah dilakukan, ternyata banjir dan longsor itu yang prioritas harus ditangani. Ada dua rencana tindak lanjutnya, pertama rehabilitasi deker di Dusun 1 yang menjadi lokasi langganan banjir, dan kedua penanaman pohon di area sekitar sungai,” ujar Aphu.
Rehabilitasi deker telah lebih dahulu dilakukan dengan dukungan pemerintah desa melalui anggaran desa. Sementara penanaman pohon dilaksanakan setelah masyarakat mendapatkan dukungan bibit dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Palu-Poso.
“Kami yang urus proposalnya, kami juga yang jemput langsung bibitnya di Palu dan dibawa ke Rano,” katanya.
Aphu merupakan anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Rano sekaligus bagian dari Tim CMDRR (Community Managed Disaster Risk Reduction), sebuah inisiatif pengurangan risiko bencana yang dikelola masyarakat.
Bagi Aphu, penanaman pohon bukan sekadar kegiatan penghijauan, tetapi bagian dari upaya memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana yang dihadapi masyarakat.
Ia menilai perlindungan kawasan hutan di sekitar daerah tangkapan air Danau Rano menjadi penting karena hutan berperan menyimpan air hujan. Ketika tutupan hutan rusak, kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air akan menurun sehingga cadangan air di danau berpotensi ikut berkurang.
Karena itu, menurutnya, upaya menjaga Danau Rano perlu dilakukan dari kawasan hulu. Selain melindungi hutan yang masih ada, masyarakat perlu mendorong penanaman kembali pada lahan terbuka serta memastikan pemanfaatan kawasan dilakukan secara lestari.
“Kalau daerah tangkapan airnya terjaga, air bisa lebih lama tersimpan. Karena itu, hutan di sekitar Danau Rano harus kita jaga bersama,” ujarnya.



