POSO, rindang.ID | Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dimanfaatkan para penggiat alam Sulawesi Tengah untuk kembali meneguhkan komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan hutan.
Pesan tersebut disampaikan, Ichsan Badong, salah satu pegiat alam saat memberikan arahan dalam upacara pengibaran bendera HUT ke-81 RI di kawasan Telaga Cantigi, Lembah Napu, Kabupaten Poso, Senin (17/8/2026). Upacara digelar di ketinggian sekitar 1.970 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Pria yang akrab disapa Nanang itu mengatakan, tradisi menggelar upacara bendera di puncak gunung bukan sekadar menunjukkan kegagahan atau identitas sebagai pecinta alam, melainkan pengingat dan penyemangat untuk terus berbuat bagi kelestarian alam demi masa depan generasi mendatang.
“Kehadiran kita semua di sini kiranya menjadi bukti dan komitmen kita sebagai penggiat alam untuk terus bersemangat menjaga kelestarian hutan yang telah memberikan banyak manfaat bagi kita,” ujarnya.
Pendakian Gunung dan Tantangan Kelestarian
Pesan tentang pentingnya menjaga alam juga menjadi bagian dari diskusi lingkungan yang digelar para penggiat alam pada malam sebelumnya. Di tengah kondisi kawasan yang diselimuti kabut tebal, sekitar 30 penggiat alam dari berbagai lembaga membahas sejumlah persoalan yang belakangan muncul seiring meningkatnya aktivitas pendakian gunung.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah semakin ramainya gunung didatangi pendaki, mulai dari pendaki pemula, pengelola open trip (OT), hingga mereka yang mendaki demi memenuhi kebutuhan konten di media sosial.
Pecinta alam lainnya, David, menilai fenomena tersebut memiliki sisi positif sekaligus negatif terhadap kelestarian gunung.
Dari sisi negatif, meningkatnya jumlah pendaki yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman memadai dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Sebagian pendaki yang disebut sebagai “pendaki FOMO” dinilai kerap mengabaikan aspek keselamatan dan manajemen perjalanan.
Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai persoalan, mulai dari pendaki tersesat atau hilang, kecelakaan fisik, hipotermia, hingga kematian di kawasan pegunungan.
“Kalau dilihat dari sisi positifnya, meningkatnya jumlah pendaki juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar dan membuka ruang pemberdayaan masyarakat di kawasan pendakian. Namun, faktanya masih ada sejumlah jalur pendakian yang belum dikelola dengan baik,” katanya.
Ia mencontohkan kasus pendaki yang hilang di Gunung Nokilalaki pada 2022. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pelajaran bahwa aspek keselamatan dan manajemen perjalanan tidak boleh diabaikan.
“Kita ambil satu contoh, waktu kejadian pendaki yang hilang di Gunung Nokilalaki tahun 2022 lalu. Itu karena pendaki tersebut mengabaikan faktor keselamatan dan terkesan menganggap enteng gunung,” ujarnya.
Sampah Jadi Persoalan Serius
Selain keselamatan pendaki, persoalan sampah menjadi perhatian lain dalam diskusi tersebut.
Wahyuddin, salah satu anggota Pendaki Indonesia (#PI) Palu, mengatakan persoalan sampah di gunung hingga kini belum terselesaikan. Bahkan, persoalan tersebut dinilai semakin sulit diatasi meskipun berbagai aksi bersih gunung telah dilakukan.
Menurutnya, aksi bersih gunung tidak akan cukup apabila tidak dibarengi dengan perubahan perilaku dan kesadaran para pendaki maupun pengunjung.
“Dulu kita hanya mendengar gunung-gunung di Jawa penuh sampah. Sekarang kita tidak perlu jauh-jauh, kita lihat saja vulu-vulu (gunung) yang tidak jauh dari Kota Palu, hampir semua penuh sampah,” ungkapnya.
Diskusi tersebut kemudian mengungkap sejumlah persoalan pendakian gunung saat ini, antara lain minimnya pemahaman ilmu kepecintaalaman di kalangan pendaki pemula, rendahnya kesadaran terhadap sampah, lemahnya kemampuan manajemen perjalanan, khususnya bagi pengelola open trip, hingga maraknya pendaki yang mengambil risiko demi mengejar eksistensi di media sosial.
Memaknai Kemerdekaan di Alam
Rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di Lembah Napu tersebut sekaligus menjadi ajang mempererat silaturahmi antar-penggiat alam. Kegiatan yang diinisiasi Pendaki Indonesia (#PI) Palu itu berlangsung pada 15–17 Agustus 2026 dengan konsep kemah bersama.
Di tengah meningkatnya aktivitas pendakian dan berbagai persoalan yang menyertainya, peringatan kemerdekaan di ketinggian 1.970 mdpl itu menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap alam tidak cukup diwujudkan dengan mencapai puncak.
Kecintaan tersebut harus dibuktikan melalui kesadaran menjaga hutan, mengelola sampah, mengutamakan keselamatan, serta memastikan gunung tetap lestari dan dapat dinikmati generasi berikutnya. THA



