Oryzias polylepis, ikan spesies baru dari keluarga Adrianichthyidae yang hidup di DAS Lariang, Kabupaten Poso. (Foto: Jan Mohring)

Temuan Ikan Endemik Sulteng Warnai Capaian 51 Spesies Baru BRIN Sepanjang 2025

RINDANG.ID | Sepanjang 2025, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi 51 spesies baru flora, fauna, dan mikroba di Indonesia. Salah satu temuan penting berasal dari Sulawesi Tengah, melalui eksplorasi yang dilakukan peneliti Universitas Muhammadiyah Luwuk, Abdul Gani, bersama tim kolaborasi.

Eksplorasi itu mengungkap spesies ikan endemik baru Oryzias polylepis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lariang.

Melalui riset lapangan di Lembah Bada dan Lembah Napu pada Agustus sampai Oktober 2023, para peneliti menemukan spesies ini sebagai bagian dari kekayaan hayati yang selama ini belum terdokumentasi secara menyeluruh.

Berdasarkan analisis morfologi, DNA barcoding, serta pemindaian sinar-X, tim memastikan Oryzias polylepis sebagai spesies baru yang berbeda dari kelompok ikan sejenis di Sulawesi.

“Spesies ini dikonfirmasi sebagai ikan baru setelah melalui serangkaian analisis ilmiah,” ujar Abdul Gani.

Riset tersebut melibatkan kolaborasi dengan Museum Koenig Bonn, Museum Zoologicum Bogoriense, dan Universitas Muhammadiyah Luwuk. Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal internasional Ichthyology & Herpetology pada 2025.

Menariknya, Oryzias polylepis ditemukan hidup berdampingan dengan Oryzias kalimpaaensis, spesies endemik lain yang telah dideskripsikan pada 2022. Dengan temuan ini, jumlah ikan air tawar endemik Sulawesi bertambah menjadi 77 jenis, dengan 18 di antaranya berasal dari Sulawesi Tengah.

Penemuan tersebut menegaskan Sulawesi Tengah sebagai salah satu wilayah kunci biodiversitas di kawasan Wallacea.

Bagian dari Capaian Nasional

Temuan dari Sulawesi Tengah ini menjadi bagian dari capaian besar BRIN sepanjang 2025 melalui Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Para peneliti berhasil mengidentifikasi 51 spesies baru, terdiri atas 32 fauna, 16 flora, dan 3 mikroba.

Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan di Cibinong, pada 2 Februari 2026, sebanyak 49 spesies berasal dari Indonesia. Sementara dua lainnya ditemukan di luar negeri, yakni satu mikroalga dari Kaledonia Baru dan satu krustasea dari Vietnam.

Spesies-spesies baru tersebut mencakup beragam kelompok organisme, mulai dari serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska, hingga tumbuhan berbunga dan anggrek. Spesimen diperoleh dari berbagai wilayah, seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sebagian besar temuan bersifat endemik dan hanya dijumpai di lokasi tertentu. Kondisi ini menjadikan data ilmiah tersebut penting dalam mendukung perencanaan konservasi berbasis wilayah.

Mengutip laman brin.go.id, Kepala PRBE BRIN, Arif Nurkanto, mengatakan Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap.

“Puluhan temuan spesies baru tahun 2025 membuka cakrawala tentang pentingnya riset, ekspedisi, dan konservasi. Di tengah laju kepunahan yang berpacu dengan waktu, penemuan ilmiah menjadi harapan agar kekayaan alam tidak hilang sebelum dikenal,” ujarnya.

Menurut para peneliti, spesies endemik Sulawesi, termasuk Oryzias polylepis, menghadapi berbagai ancaman, seperti pencemaran sungai, alih fungsi lahan, perubahan iklim, perburuan liar, serta masuknya spesies invasif.

Ancaman tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem air tawar yang menjadi habitat utama ikan-ikan endemik.

Karena itu, perlindungan kawasan sungai dan danau dinilai menjadi langkah mendesak. Upaya konservasi perlu dilakukan secara terpadu, baik melalui perlindungan habitat alami (in situ) maupun pengembangan budidaya terkontrol (ex situ).

Harapan ke Depan

Penemuan puluhan spesies baru sepanjang 2025 menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya kawasan Wallacea seperti Sulawesi, masih menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa.

Para ilmuwan berharap penelitian berkelanjutan dapat terus dilakukan, terutama di wilayah-wilayah terpencil dan minim eksplorasi. Selain memperkaya ilmu pengetahuan, riset tersebut diharapkan mampu mendorong kebijakan perlindungan yang lebih kuat bagi keanekaragaman hayati nasional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top