Ritual Nokeso yang jalani seorang anak perempuan di Kelurahan Salena, Kota Palu. (Foto: Arman untuk rindang.ID)

Nokeso dan Martabat Perempuan dalam Lintasan Ingatan Adat Kamalisi

PALU, rindang.ID | Di sekitar pegunungan sebelah barat Kota Palu, wilayah yang bagi masyarakat adat disebut sebagai Kamalisi, sebuah ritual kuno penghormatan terhadap perempuan terus diwarisi, diam-diam tapi teguh.

Nokeso nama ritual itu. Ia tidak tercatat dalam manuskrip tua atau teks resmi. Tidak ada pendekatan filologi atau tekstologi yang mampu merinci tahap-tahapnya dengan presisi akademik. Namun, Nokeso hidup dalam ingatan, dalam tutur, dan dalam tubuh para perempuan yang melaluinya.

Di Salena, komunitas adat Nggolo dari sub-etnis Unde, ritual ini tetap dijalankan sebagai bentuk perlindungan dan penghormatan kepada anak perempuan yang akan memasuki usia remaja. Pertengahan Juni lalu, ritual itu digelar bagi empat anak perempuan.

“Hari ini ada empat anak yang mengikuti ritual Nokeso, ada yang mengelilingi bambu kuning, ada pula tidak. Adatnya berbeda-berda,” Kata Manda, Warga Salena usai melakukan ritual Nokeso, Senin (16/06/2025).

Ritual Nokeso adalah peristiwa sosial. Ia bukan sekadar simbol kedewasaan biologis, tapi batas simbolik yang membedakan dunia anak-anak dan dunia dewasa dalam kerangka budaya.

Dalam bahasa Kaili, Nokeso berarti “proses ritual yang sedang berlangsung”, Nikeso berarti telah dilakukan, dan Mokeso berarti belum dilakukan. Bahasa dalam konteks ini bukan hanya alat komunikasi, melainkan penjaga nalar adat. Ia menandai tahapan, menegaskan status, dan menetapkan norma.

Anak perempuan yang akan menjalani Nokeso disebut Toniasa. Tubuhnya menjadi kanvas adat: dihias dengan moka (baju adat), ale (ikat kepala dari serat hutan), dan mesa, kain panjang yang membentang mengelilingi rumpun bambu (bolo vatu).

Di depan pintu rumah tempat ritual berlangsung, dipasang simbol-simbol penanda seperti daun kelapa, potongan bambu kecil, dan buah pinang. Tidak ada ornamen yang sembarang. Semua benda memiliki makna; semua tindakan mengandung pesan.

Dalam prosesi itu, hadir pula Langgai Ntoniasa, laki-laki dewasa yang mengelilingi bolo vatu tujuh kali. Ia memanggul parang, menginjak daun sukun, dan membawa uvi, sejenis alang-alang yang dibalut daging kambing.

Tetabuhan gendang atau gimba dan bunyibunyian musik bambu mengirigi ritual, menuntun gerak ritmis.

Seorang tokoh adat yang disebut Uma Nuvati memimpin jalannya ritual. Ia adalah pemegang ingatan, penjaga tata, dan penghubung antara dunia manusia dan dunia yang lebih tinggi. Ia memanjatkan doa, bukan hanya untuk keselamatan anak perempuan, tapi juga untuk kelangsungan nilai-nilai adat itu sendiri.

Dalam doa-doa itu, hidup dan masa depan seorang anak perempuan digantungkan pada kehendak Sang Pencipta dan restu para leluhur.

Nokeso bukan hanya soal usia, tapi soal martabat. Ia menetapkan bahwa anak perempuan yang telah melaluinya tidak boleh lagi diperlakukan semena-mena. Lelaki dewasa tidak boleh menyentuh batas yang telah ditandai secara simbolik.

Jika dilanggar, adat mengenal sanksi yang disebut givu; bentuk hukuman sosial yang mengatur keseimbangan relasi.

“Patamba’a ngana nikeso pangane bo’i naghia notalili vunja naghia unde, nosisala vatina,” kata Manda, menyebut satu petuah yang berarti “Anak perempuan yang telah nikeso tidak boleh lagi diperlakukan seperti anak kecil.”

Kamalisi bukan hanya sebuah nama wilayah. Ia adalah medan budaya. Orang-orang menyebut Kamalisi untuk menandai kelompok masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam di kaki Gawalise.

Mereka adalah bagian dari orang Kaili, sub-etnis Da’a-Unde dan Inde, yang memaknai gunung, bambu, dan daun tidak hanya sebagai elemen ekologis, tapi sebagai instrumen budaya. Dalam tubuh Kamalisi, adat bukan romantisme masa lalu, tapi cara hidup.

Melalui Nokeso, Kamalisi memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap perempuan bukan hasil dari intervensi luar atau wacana modern, tapi sudah hidup dalam sistem sosial mereka sejak lama. Bahwa tubuh perempuan adalah ruang yang harus dilindungi, dan statusnya sebagai makhluk yang akan melanjutkan kehidupan harus dihargai dengan ritus dan norma.

Dalam dunia yang kerap kali abai terhadap perempuan, Kamalisi justru menempatkan perempuan dalam pusat perhatian adat. Tidak sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang martabatnya disahkan melalui ritual dan dilindungi oleh komunitas.

Nokeso bukan sekadar warisan, ia adalah perlawanan halus terhadap ketimpangan, dan pernyataan bahwa adat bisa berjalan seiring nilai-nilai keadilan yang lebih universal.

Di Salena, Nokeso terus hidup, tidak karena didukung institusi, tetapi karena dirawat oleh ingatan dan tubuh-tubuh perempuan yang telah melaluinya. Dan di situlah, Kamalisi menyimpan makna pentingnya: sebagai komunitas yang tidak hanya menjaga tanah, tetapi juga martabat manusia di atasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top