PALU, rindang.ID | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah menunjukkan peningkatan signifikan pada Agustus 2026. Laporan koordinasi periode 1 Januari hingga 28 Agustus 2026 menyebut, sedikitnya 690,21 hektare lahan tercatat terbakar di sejumlah kabupaten/kota.
Data laporan BPBD Sulteng tersebut menunjukkan karhutla tidak terjadi secara merata sepanjang tahun. Ada dua periode utama yang menonjol, yakni gelombang kebakaran pada Januari-Februari dan eskalasi yang jauh lebih luas pada Agustus.
Kabupaten Parigi Moutong menjadi daerah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni 207 hektare dari 26 kejadian. Disusul Kabupaten Tojo Una-Una dengan 177 hektare dari 14 kejadian, dan Kabupaten Banggai dengan 150,5 hektare dari tiga kejadian.
Selanjutnya, Banggai Kepulauan mencatat 74,41 hektare dari tiga kejadian, Buol 53 hektare dari tiga kejadian, Donggala 23,94 hektare dari 28 kejadian, Toli-Toli 3,36 hektare dari delapan kejadian, dan Kota Palu 1 hektare dari satu kejadian.
Sementara Kabupaten Poso dan Sigi masing-masing tercatat mengalami satu kejadian karhutla, namun luas lahan yang terbakar belum disebutkan dalam laporan.
“Kerawanan karhutla ada di seluruh kabupaten dan kota di sulawesi tengah,” Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto mengatakan.
Dua Gelombang Kebakaran
Laporan tersebut memperlihatkan pola temporal yang cukup jelas. Gelombang pertama terjadi pada Januari hingga Februari dan terkonsentrasi terutama di Parigi Moutong.
Kebakaran mulai terdeteksi sejak pertengahan Januari dan mencapai salah satu kejadian terbesar pada 1 Februari 2026 di Desa Avolua, yang menghanguskan sekitar 148 hektare dalam satu kejadian.
Kabupaten Poso juga mencatat satu kejadian pada fase awal tersebut, yakni di Desa Kamba pada 22 Januari.
Setelah periode relatif lebih terkendali, karhutla kembali meningkat pada Agustus. Kali ini, kebakaran muncul secara lebih serentak di berbagai wilayah.
Tojo Una-Una, Banggai, Banggai Kepulauan, Buol, Toli-Toli, Donggala, Kota Palu, dan Sigi tercatat mengalami kejadian karhutla pada bulan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa memasuki periode kemarau, risiko kebakaran tidak lagi terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi menyebar ke sejumlah daerah di Sulawesi Tengah.
Frekuensi Tinggi Belum Tentu Luasan Besar
Data juga memperlihatkan karakter kebakaran yang berbeda antarwilayah.
Donggala, misalnya, menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 28 kejadian. Namun total luas lahan terbakar relatif lebih kecil, yaitu 23,94 hektare.
Sebagian besar kejadian di Donggala memiliki luasan kurang dari satu hektare. Meski demikian, terdapat kejadian cukup besar di Desa Talaga pada 24 Agustus yang mencapai sekitar 10 hektare.
Pola serupa terlihat di Toli-Toli. Delapan kejadian karhutla tercatat sepanjang periode tersebut, tetapi total luas lahan terbakar hanya 3,36 hektare.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tingginya frekuensi kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Kebakaran berulang dalam skala kecil tetap perlu menjadi perhatian karena dapat berkembang menjadi kebakaran lebih besar ketika kondisi cuaca dan vegetasi mendukung.
Sebaliknya, Kabupaten Banggai menunjukkan karakter yang berbeda. Hanya tiga kejadian karhutla tercatat, tetapi luas lahan yang terbakar mencapai 150,5 hektare.
Besarnya luasan tersebut terutama dipengaruhi kebakaran di Desa Huhak seluas sekitar 50 hektare pada 2 Agustus dan Desa Toipan yang mencapai sekitar 100 hektare pada 6 Agustus.
Banggai Kepulauan juga memperlihatkan pola serupa. Dari tiga kejadian, total lahan terbakar mencapai 74,41 hektare. Dua kejadian besar terjadi di Desa Bakalan dan Bulungkobit pada 7 Agustus, masing-masing sekitar 36,2 hektare.
Karakter tersebut menunjukkan bahwa jumlah kejadian yang sedikit tidak serta-merta berarti tingkat ancaman rendah. Justru, kebakaran yang jarang tetapi berukuran besar dapat memberikan dampak yang jauh lebih luas terhadap lingkungan maupun masyarakat.
Parigi Moutong dan Tojo Una-Una Paling Menonjol
Dua wilayah yang memperlihatkan kombinasi antara frekuensi dan luasan tinggi adalah Parigi Moutong dan Tojo Una-Una.
Parigi Moutong mencatat 26 kejadian dengan total 207 hektare lahan terbakar. Selain menjadi daerah dengan luasan terbesar, wilayah ini juga menjadi pusat gelombang karhutla pada awal tahun.
Sementara Tojo Una-Una mencatat 14 kejadian dengan total 177 hektare. Sejumlah kebakaran berukuran besar terjadi pada Agustus, antara lain di Longge dengan luasan sekitar 55 hektare dan Balingara sekitar 50 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan karhutla di Sulawesi Tengah tidak dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh daerah.
Wilayah dengan kejadian kecil tetapi sering membutuhkan penguatan pencegahan dan respons cepat. Sementara wilayah dengan kejadian lebih sedikit tetapi berpotensi membakar area luas membutuhkan perhatian terhadap kondisi vegetasi, akses pemadaman, kesiapsiagaan masyarakat dan sistem peringatan dini.
Dengan Agustus menjadi periode eskalasi paling luas, data hingga 28 Agustus 2026 menjadi peringatan bahwa risiko karhutla masih perlu diwaspadai, terutama ketika kondisi kering berlanjut memasuki September.
Pemetaan berdasarkan frekuensi kejadian sekaligus luas area terbakar penting dilakukan agar sumber daya pencegahan dan penanggulangan dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan.



