POSO, rindang.ID | Peringatan Hari Danau Sedunia tahun 2026 di Indonesia menjadi momen spesial bagi Kurniawan Palindondaya Bandjolu, yang diberi predikat sebagai Local Hero Danau Poso dan diundang sebagai pembicara dalam World Lake Day (WLD) 2026.
Bagi Kurniawan Palindondaya Bandjolu, Danau Poso bukan sekadar bentang air yang membentang di depan mata. Danau yang berada di jantung wilayah Tentena itu adalah bagian dari perjalanan hidupnya sekaligus laboratorium alam yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
Lahir di Tentena pada 14 Agustus 1995, Kurniawan tumbuh dalam kedekatan dengan Danau Poso. Dari tepian danau itu, ia kemudian memilih jalan sebagai naturalis, peneliti, konservasionis, jurnalis, sekaligus fotografer satwa liar.
Kini, hampir seluruh kiprahnya bermuara pada satu hal: menjaga agar kekayaan hayati Danau Poso tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dedikasi tersebut mengantarkannya menjadi Local Hero Danau Poso dan diundang Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup sebagai pembicara dalam World Lake Day (WLD) 2026.
Dalam Sesi III Talkshow WLD 2026 bertema “Peran Aktif Masyarakat Lokal dalam Perlindungan Sumber Air dan Pengelolaan Ekosistem Danau Berkelanjutan”, Kurniawan membawa pengalaman panjangnya berhadapan langsung dengan persoalan ekosistem Danau Poso.
Baginya, menjaga danau tidak cukup hanya dengan berbicara mengenai konservasi. Harus ada riset, edukasi, kolaborasi, sekaligus aksi nyata di lapangan.
“Secara khusus saya mempresentasikan apa yang telah kami lakukan untuk Danau Poso, dengan harapan Danau Poso akan semakin mendapatkan perhatian pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan juga pada skala internasional,” kata Kurniawan.
Latar belakang Biologi Konservasi membuat Kurniawan tidak hanya melihat Danau Poso tapi juga mempelajari kehidupan yang tersembunyi di dalam dan di sekitar danau, termasuk berbagai spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Kurniawan pernah terlibat dalam Ekspedisi Poso pada 2019–2021 untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati akuatik. Ia juga menjadi salah satu inisiator dan tim ahli biodiversitas dalam pengembangan Geopark Danau Poso pada 2020–2024.
Kiprahnya bahkan berkembang hingga kerja sama dengan peneliti internasional. Pada 2026, ia berkolaborasi dengan pakar dari Leibniz Institute dan Museum für Naturkunde Berlin untuk mengevaluasi status konservasi delapan spesies moluska endemik Tylomelania.
Spesies-spesies tersebut menghadapi ancaman serius dan sebagian masuk kategori terancam hingga kritis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kekayaan hayati Danau Poso tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada.
Menyelamatkan Sidat, Menjaga Danau
Salah satu kerja nyata yang dilakukan Kurniawan adalah konservasi ikan sidat.
Sejak 2021, ia terlibat dalam pemantauan sidat bersama BRIN dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar. Ia mengumpulkan data lapangan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan siklus hidup sidat.
Bersama sejumlah mitra, termasuk KKP, APINDO Sulawesi Tengah dan SEAFDEC, ia juga terlibat dalam aksi pelepasliaran sekitar 5.000 ekor benih sidat ke Danau Poso.
Kurniawan juga mendorong masyarakat memahami aturan pemanfaatan sidat, termasuk ketentuan mengenai ukuran tangkap sebagaimana diatur dalam KepmenKP Nomor 80 Tahun 2020.
Menurutnya, konservasi tidak berarti melarang masyarakat memanfaatkan sumber daya alam. Yang jauh lebih penting adalah memastikan pemanfaatannya tidak menghilangkan kesempatan generasi berikutnya untuk memperoleh manfaat yang sama.
Menanam Pohon untuk Ikan di Danau
Kurniawan juga memahami bahwa kesehatan danau tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam air.
Daerah tangkapan air memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dan keseimbangan ekosistem danau. Karena itu, ia turut melakukan penanaman pohon di kawasan tangkapan air.
Baginya, pohon yang tumbuh di daratan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan di dalam danau. Ketika habitat di sekitar sumber air rusak, dampaknya pada akhirnya akan dirasakan oleh ikan dan organisme lain yang hidup di dalamnya.
Cara pandang semacam inilah yang membuat kerja konservasi Kurniawan tidak berhenti pada satu spesies atau satu lokasi.
Ia juga terlibat dalam upaya mengenalkan spesies endemik seperti ikan Anasa dan Bungu Masiwu kepada masyarakat, termasuk melalui kegiatan edukasi di sekolah.
Membawa Danau ke Ruang Belajar
Kurniawan percaya bahwa pengetahuan tentang danau harus lebih dekat dengan masyarakat. Karena ini bersama Institut Mosintuwu dan Sulawesi Keepers, ia menginisiasi pembangunan museum akuatik mini sebagai ruang pembelajaran mengenai kekayaan biodiversitas air tawar Danau Poso.
Ia juga mengajar mahasiswa Akuakultur Universitas Tadulako dan melakukan sosialisasi lingkungan ke sekolah-sekolah.
Pengetahuan, menurutnya, adalah salah satu cara paling penting untuk membangun kepedulian.
Sebab, seseorang akan lebih mudah menjaga sesuatu ketika ia mengenal dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Konservasi dan Ekonomi Bisa Berjalan Bersama
Kurniawan juga mencoba menjembatani kepentingan konservasi dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Sejak 2022, ia merintis ekowisata minat khusus berbasis pengamatan keanekaragaman hayati. Konsep tersebut menawarkan pengalaman menikmati alam sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa menjaga danau tidak selalu harus berhadapan dengan kepentingan ekonomi.
Sebaliknya, ekosistem yang sehat justru dapat menjadi modal bagi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Pesan dari Local Hero Danau Poso
Kiprah Kurniawan menjadi relevan dengan pesan utama World Lake Day 2026: “Healthy Lakes, Saving Generations.”
Hari Danau Sedunia tahun ini menempatkan danau sebagai bagian penting dari masa depan manusia. Danau bukan hanya sumber air, tetapi juga menopang keanekaragaman hayati, perikanan, pertanian, ekonomi, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Indonesia sendiri memiliki ribuan danau yang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pencemaran hingga kerusakan kawasan daerah aliran sungai.
Karena itu, penyelamatan danau membutuhkan keterlibatan banyak pihak: pemerintah, peneliti, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, media, pemuda, serta masyarakat lokal, dan adat.
Pengalaman Kurniawan memperlihatkan bagaimana peran tersebut dapat dimulai dari seseorang yang memiliki hubungan kuat dengan tempat tinggalnya.
Ia memilih ilmu untuk memahami danau, penelitian untuk menemukan persoalannya, edukasi untuk membangun kesadaran, dan kolaborasi untuk mencari jalan keluarnya.
Pada akhirnya, kisah Kurniawan adalah tentang sebuah pilihan sederhana: ketika rumah sendiri mulai terancam, ada orang-orang yang memilih untuk tidak berpaling.
Danau Poso adalah rumah yang ia kenal sejak kecil. Namun, bagi Kurniawan, menjaganya bukan hanya untuk dirinya, bukan pula hanya untuk masyarakat yang hidup hari ini.
Menjaga Danau Poso adalah cara untuk memastikan bahwa generasi yang belum lahir tetap dapat mengenal ikan-ikan endemiknya, menikmati airnya, mempelajari kehidupan di dalamnya, dan merasakan hubungan yang sama dengan danau yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.



