Ilustrasi, warga menggunakan payung untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari. (Foto: rindang.ID/bmz)
Aktivitas warga di tengah terik matahari siang di Kota Palu. (Foto: Heri/rindang.ID)

Ini Gejala Heat Stress dan Heatstroke, Gangguan Kesehatan yang Mengintai Saat Musim Panas

JAKARTA, rindang.ID | Musim kemarau dengan suhu udara yang semakin panas seperti saat ini dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Peringatan tersebut disampaikan Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia melalui siaran pers belum lama ini.

Salah satu dampak suhu panas terhadap kesehatan salah satunya adalah heat stress, yang terjadi ketika tubuh mulai kesulitan membuang panas akibat kombinasi suhu lingkungan, kelembapan udara, paparan sinar matahari dan aktivitas fisik.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat exhaustion hingga heatstroke, yaitu kondisi darurat medis ketika suhu inti tubuh meningkat drastis dan mulai merusak organ vital.

Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. dr. Herawati Sudoyo, mengatakan, tubuh memiliki mekanisme untuk mempertahankan suhu normal ketika menghadapi panas, antara lain melalui pelebaran pembuluh darah dan penguapan keringat.

Namun, mekanisme tersebut memiliki batas. Ketika tubuh tidak lagi mampu mendinginkan diri, seseorang dapat mengalami heat stress hingga heatstroke yang mengancam jiwa.

Menurut Herawati, beberapa tanda heat stress yang perlu diwaspadai antara lain keringat berlebih, kelelahan, kram otot, pusing dan dehidrasi.

Jika paparan panas terus berlangsung hingga suhu inti tubuh mencapai lebih dari 40°C, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerusakan organ vital, termasuk otak, jantung dan ginjal akibat respons peradangan sistemik.

Paparan panas juga tidak hanya berdampak terhadap kondisi fisik. Suhu tinggi dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, memicu kebingungan hingga penurunan kesadaran. Pada kondisi berat, paparan panas bahkan berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen.

Dengan meningkatnya suhu dan berlangsungnya musim kemarau, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda gangguan akibat panas sejak dini. Heat stress, heat exhaustion, dan heatstroke merupakan kondisi yang dapat berkembang dari paparan panas yang tidak tertangani.

“Panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kita mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini,” kata Herawati.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top